
Pov Kang Ha Joon
Samar-samar aku masih bisa mendengar suara , seprti suara isak tangis . Aku sangat yakin itu adalah aeyong , ingin aku bergerak namun sekujur tubuhku terasa membeku .
"Terimalah takdirmu , setiap luka yg pria ini rasakan kau akan kehilangan salah satu ekormu , dan kau akan musnah seperti rubah yg dibantai oleh adikmu hari ini ," suara itu masih dapat kudengar dengan jelas , aku berusaha membuka mataku namun sia-sia . Seprti mereka tak mengizinkan aku untuk melihatnya .
Heningg...
Bahkan aku tak mendengar lagi isak tangis aeyong , tapi rasanya aku berada di tempat lain auranya berbeda dengan tempat tadi , bahkan suhu di sini begitu hangat .
Kepalaku masih begitu sakit , namun aku bisa menggerakkan tanganku , aku meraba tempat di sekitarku . Sepertinya aku berada di tempat tidur . Berlahan aku membuka mata , berkedip-kedip beberapa saat .
" dimana ??"
Aku bangkit dari tempat tidur ,
Aku susah payah berjalan hingga samapai di depan pintu .
Cklek ..
ku putar gagang pintu berlahan , kuperhatikan sekitar , sangat sepi .
Namun seprtinya aku berada di rumah seseorang . Aku menoleh kesana-kemari berharap ada seseorang yg dapat ku ajak bicara , tapi sepertinya rumah ini kosong , aku terus berjalan sampai di sebuah taman , ada seseorang tengah duduk bersandari di sebuah ayunan kayu .
Malam ini cukup dingin , ya sebentar lagi adalah musim dingin jadi suhu akan lebih dingin dibandingkan hari sebelumnya , aku mendekati orang itu dan benar saja , aeyong tengah melamun sendirian disini , tatapan matanya kosong , ah aeyongku nampak sedih , dapat kulihat bendungan air mata di kelopak matanya .
" Chagiya,sedanga apa ?" sapaku yg langsung duduk disampingnya .
" Ah .. Ha joon kau sudah sadar . Apa kepalamu masih terasa sakit ," ucapnya lembut sembari mengelus kepalaku ,
astagaa mimpi apa aku semalam , seorang aeyong yg dingin penuh perhatian kepadaku dan lagi dka tak menlok ketika aku memangilnya chagiya .
" Sudah lebih baik , apalagi sekarang , sangat baik rasanaya ," aku tak dapat menyembunyikan rasa senangku .
" Ayo masuk , kau harus makan , udara cukup dingin diluar ,"
Baru saja aku duduk disebelahnya dia memintaku untuk masuk , dengan enggan aku berdiri . Aeyong hanya tersenyum kemudian masuk kedalam rumah , aku pun mengikutinya .
Rumah aeyong cukup nyaman , perpaduan gradasi warna pada dindingnya membuat orang betah berlama-lama disini ya selain dapat menikmati kecantikan si pemilik rumah ditambah pemilihan furniture yg pas membuat orang akan nyaman berada disini .
" Tunggulah dulu , akan kubuatkan sesuatu untuk kau makan ."
Seperti anak anjing yg mendengar perintah majikannya aku pun duduk di meja makan sembari memperhatikan aeyong yg tengah sibuk di dapur . Dia cukup cekatan , caranya memegang pisau , mengupas bawang , sepertinya dia terbiasa melakukannya .
sesekali dia melirik ke arahku , oh my god jantungku rasanya mau keluar dari tempatnya dia sangat cantik bahkan lebih cantik dibanding hari-hari biasanya , padahal penampilannya hari ini sangat sederhana , bahkan tak ada sedikitpun make up yg ada di wajahnya namun sungguh pesona aeyong malam ini sangat berbeda .
Aku tak bisa berdiam diri saja , aku mendekati aeyong yg tengah sibuk mencampurkan sesuatu .
" Butuh bantuan ?"
"Em.. Bisakah kau mengikat rambutku , aku lupa mengikatnya tadi ,"
__ADS_1
Aku menggangguk. Tanganya menujukan tempat dimana ia meletakkan ikatan rambutnya . Dengan hati-hati aku mengikat rambut aeyong , bahkan jarak kami pun cukup dekat samar-samar kucium aroma levender dari tubuh aeyong , tumben sekali biyasanya akan tercium aroma camellia .
30 menit kami sibuk dengan maskan kami dan ahkirnya sekarang semua telah tersaji , makanan tradisional korea , aku rasa itu adalah makanan kesukaannya .
Kami makan sembari sesekali berbincang .
" Apakah kau tinggal sendirian ?"
" Tidak juga , besok pagi akan ada beberapa orang yg datang , sesekali adikku juga datang mengunjungiku ,"
" kau punya adik ?"
Aeyong mengangguk ," iya , tapi dia tinggal di luar kota , hanya sesekali mengunjungiku ,"
sejenak aeyong menghentikan makannya kemudian menatapku lekat-lekat .
" Ha joon , apa kah kau mengingat kejadian tadi sore ?"
" Aku tak yakin , hanya beberapa hal yg ku ingat , selebihnya aku tak mengingatnya , hanya suara-suara asing ,"
Aeyong nampak pucat mendengar ucapanku , bahkan sumpit yg dia pegang pun terjatuh .
"Aeyong , kenapa ?"
"Ah , itu , tidak emm maksudku bisakah kau tidak menceritakan kejadian tadi kepada siapapun ?"
Mengapa ? Mengapa dia bengitu takut ?
"Aku tak bisa menjelaskannya sekarang , tapu aku pasti akan menceritakan semuanya kepadamu suatu hari nanti , jadi bisakah kau berjanji padaku ?"
" Baiklah ."
Raut wajahnya pun seketika kembali ceria .
"Gomawoyo," . Ucapnya .
" Bagaimana kita kembali ke seoul ?"
" Aku memapahmu dan mengemudi kemari , " jawannya singkat , Aku sebenarnya masih sangat penasaran dengan apa yg terjadi tapi aku enggan melewatkan momen bahagiaku bersama aeyong kali ini .
seprti pasangan yg senenarnya , yah karna kami belum resmi besama saat ini , aku membantu aeyong menata perlatan makan yg telah ia cuci .
Aeyong masih sibuk dengan pring dan sendok di bak pencuci piring , aku tak bisa menahannya , aku memeluknya dari belakang , menyandarkan kepalaku si pundaknya , Sungguh luar biasa bahkan aeyong tak menolaknya kali ini .
" Aku harus mencuci semua ini ha joon , tak akan selesai jika kau memelukku begini ,"
" Hanya sebentar saja , pelit sekali , lagi pula kau tadi juga memelukku di hadapan teman-temanku ," rengekku manja .
dapat kulihat telinga aeyong memerah seprtinya dia malu mengingat kejadian tadi siang . Aku semkin berani mengecup leher jenjangnya .
" Astaga ha joon , "
__ADS_1
Dengan cepat aeyong membalikkan tubuhnya dan tepat saat iku kami saling berhadapan dengan posisi yg sangat dekat . Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya . Berlahan aku semakin mendekatkan diri pada aeyong , aeyong pun nampak memejamkan matanya . ..
"Aigooo.... Pasangan pengantin baru yg tak tau malu , setidaknya lihatlah dimana kalian bermesraan . "
Aeyong segera mendorongku menjauh .
"siapa pria ini?"
" Hae jung , aku perlu bicara denganmu kali ini ," aeyong segera menarik tangan pria itu pergi .
"Apakah mungkin dia adik aeyong mereka nampak mirip , aku benci mengakuinya tapi dia cukup tampan , bahkan mungkin dia lenih tampan dibanding denganku ."
Menanti aeyong berbicara dengan pria itu atau mungkin memang benar adiknya , aku menyelesaikan mencuci piring , kemudan aku bersantai di sofa ruang keluarga .
Beru beberapa menit aku duduk .
Bruuakk....
Entah bagaimana ceritanya tubuh pria bermana hae jung itu terpental , bahkan pintu rungan itu nampak hancur . Dan yg tak bisa kupercaya pria itu bangkit begitu saja seprti tidak ada yg cedera .
" cih , terima takdirmu nuna , aku sudah mengingatkanmu sebelum-sebelumya ,"
Dia berjalan ke arahku
" Jaga dia , kadang sikapnya sangat menyebalkan tapi dia adalah tanggung jawabmu sekarang ," ucapnya sembari menepuk bahuku .
Aku tak mengerti apa yg dia ucapkan , kenapa aeyong dan adiknya selalu bicara hal yg tak masuk akal . Bergegas aku menghapiri rungan dimana aeyong berada ,
"bagaimana bisa pintu ini hancur , padahal aku yakin pintu itu cukup kokoh ,"
Aeyong nampak terduduk di lantai , dia menangis . Dengan hati-hati aku menghampirnya . Aku ingin menangkannya tapi aku bingung apa yg harus aku katakan dan apa yg harus aku lakukan . Alhasil aku ikut duduk dilantai dan menggegam tangannya , aeyong masih tak meresponku ia masih terisak .
" Aku tak mengerti bagaimana harus menghiburmu tapi bisakah kau berheti menangis , melihatmu seperti ini sungguh aku tak sanggup , aku tak ingin kau sedih ," ucapku pada ahkirnya .
Entah rasanya aku sulit mengeluarkan rayuan pada aeyong , padahal aku sangat mahir menggoda gadis-gadis lain , seprti aeyong ditakdirkan untukku mengahkiri sifat playboyku selama ini .
Cukup lama aeyong terisak . Bahkan pungguku rasanya lelah duduk disini .
Ahkirnya aeyong pun berdiri ,
" Istirahatlah , akan ku siapkan baju hae jung untuk kau kenakan ," aeyong berjalan pergi meninggalkan rungan ini .
Rungaan ini seprti perpustakaan , rungan ini penuh dengan buku dengan beberapa lukisan , dari semua lukisan ada sebuah lukisan rubah putih dengan sembilan ekor , lukisan itu nampak seprti hidup dengan bola mata keemasan yg sangat kontras dengan bulu putihnya .
"Ha joon , "
entah sejak kapan aeyong sudah kembali kesini , dia membawkan baju ganti untukku .
Aku ingin bertanya tentang lukisan itu namun urung kutanyakan namun lidahku terasa kaku sulit untuk digerakkan .
" Mandi dan istirahatlah di kamar tadi , jika mencariku aku ada di sebelah ," ucapnya .
__ADS_1
Aku hanya menggangguk dan menuruti permintaannya . Setidaknya kami lebih dekat sekarang dan aku tak ingin membuat kesalagan yg membuat aeyong membenciku lagi .
Sejujurnya aku tak bisa tidur , aku hanya berbaring , berguling kesana kemari , terlalu banyak hal-hal aneh hari ini . Namun aku tak dapat menemukan jawabannya . Hingga pukul 02.00 dinihari aku benar-benar dapat memejamkan mataku .