Rubah Ekor Sembilan

Rubah Ekor Sembilan
11.


__ADS_3


Pov Kim Aeyong


Hal yg paling aku suka dari musim gugur adalah aroma daun kering yg tertiup agin , dan juga aroma manis buah kesemek yg matang .


Aku menikmati senja di hutan kota disekitar sungai han , udara cukup dingin hari ini , mungkin karna sepanjang pagi hujan turun .


Suasana yg tenang membuatku lupa dengan permasalahnku , jika Hae jung ada disini mungkin dia akan menertawakanku .


"Semakin lama , kau semakin mirip dengan manusia ," dapat ku bayangkan apa yang akan dikatan hae jung .


"Bukankah kita sangat berjodoh , dimanapun pasti kita akan bertemu ,"


Ucap sebuah suara , yg sejujurnya tak ingin aku dengar . Aku berusaha mengabaikan ucapan pria itu dan terus berjalan menjauh .


"Aeyong tunggu ," panggilnya .


Sejujurnya aku bisa saja menggunakan kekuatanku sekarang , namun banyak manusia di sekitar sini hingga ku urungkan niatkku dan terus berjalan menghindari pria ini .


"Hey , Aeyong mengapa kau terus menghindariku ," kali ini pria ini lebih berani , ia menggenggam pergelangan tanganku .


Segera ku tepis tangannya dengan kasar ,


" Apa maumu ?" tanyaku ketus .


" Astaga tidak bisakah kita bicara , sejujurnya aku tak tau dimana salahku , tapi kau selalu saja bersikap kasar padaku !" ucapnya bingung . Tatapan matanya yg sayu membuat hatiku sedikit iba , ya memang dia tak pernah berbuat salah padaku .


Aku menghela nafas dengan kasar .


" Aku hanya tak suka para gadis dikampus mengintimidasiku nanti jika aku dekat-dekat denganmu ," ucapku .


" Aeyong , merekalah yg menyukai ku , tapi aku tidak . Jadi tidak usah perdulikan mereka . " jawabnya polos .


" Ya kau bisa saja mengatakan demikian karna yg akan mereka intimidasi adalah aku bukan kau ," sautku kesal , bagaimana bisa dia berkata begitu mudah , bukan rahasia jika kang ha joon memiliki banyak penggemar dikampus . Bahkan sebagian dari mereka tak segang-segan mengintimidasi gadis-gadis yg sedang dekat dengan ha joon .


" Aku akan melindungumu ,"


" Jika ingin melindungiku setidaknya jauh i aku , "


Matanya membelalak lebar mendengar ucapanku , mungkin dia tak akan pernah berfukir jika aku mengatakan itu .


Aku berjalan meninggalkan ha joon yg masih termenung , tepat lima belas langkah aku berjalan , aku merasakan ras sakit yg luar biasa pada tubuhku , rasanya seprti rarusan pisau yang tajam tak henti menusuk seluruh tubuhku , aku terduduk lemas tak berdaya .


sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku sebuah tangan kekar memahanku agar tubuhku tak terjatuh ke tanah , dapat kulihat mimik wajahnya yg begitu khawatir .


" Aeyong , kau kenapa ? apa kita harus ke rumah sakit ,"


Sebuah tepukan lembut di pipiku membuat kesadaranku masih bertahan hingga sekarang , namun rasa sakit yg semakin memburuk membuatku pandanganku semakin kabur dan ahkirnya semuanya menjadi gelap .

__ADS_1


...----------------...



Aku terbangun di sebuah kamar yg cukup asing , aku berusaha tenang mangingat kejadian sebelum aku kehilangan kesadaran .


" Ada apa denganku ," aku belum pernah merasakan rasa sakit seprti ini . Tubuhku lemas tak berdaya , aku berkedip-kedip memfokuskan pandanganku .


Sebuah jarum infus terpasang ditangaku .


"Berapa lama aku pingsan ? Dan dimana aku sekarang ?"


Terahkir kali aku bersama kang ha joon , apakah dia yg membawaku kemari .


Aku mendengar suara pingu terbuka , sepontan aku menoleh ke arah pintu kayu di ujung ruangan . Ha joon tersenyum ke arahku , dapat ku raskan rasa khawatir yg dia rasakan .


"Apakah sudah lebih baik ? Atau kita ke rumah sakit sekarang ," tanyanya sembari duduk di samping tempat tidur yg aku tempati saat ini .


"Aku tak ingin kerumah sakit ," jawabku singkat ,


"Baiklah , beristirahatlah , akan aku minta para pelayan membuatkan makan malam untukmu ," katanya sebelum beranjak dari tempat duduknya tadi .


" Ha joon , ini dimana ?"


" Di apartemenku , Jangan berfikir negatif dulu , aku hendak membawamu ke rumah sakit tapi kau menggeleng sebelum pingsan jadi aku membawamu kemarin karna lokasinya cukup dekat dengan tempat kau pingsan tadi , sumpah aku tak ada maksud lain ,"


mendengar penjelsanya ingin sekali aku tertawa , yah aku memang merasa tak perlu pergi kerumah sakit , karna ini bukan penyakit medis .


" kalau begitu aku keluar dulu , nanti akan ada perawat yg memberikanmu obat ,"


katanya dengan wajah tertunduk . Ha joon ahkirnya meninggalku sendirian di kamar ini ,


Fikiranku kembali terfokus dengan apa yg aku alami barusan , aku berusaha memanggil hae jung namun kekuatan itu terpental kembali ke arahku seperti ada tembok kokoh yg menghalangi .


"Apakah ini karna jimat itu telah hilang ? "


Akan sangat fatal jika dalam seratus hari kedepan aku tak dapat menemukan nya , bukan hanya kekuatanku yg melemah tapi manik rubahku akan menghilang , jika itu terjadi aku bisa saja musnah . karna terlalu fokus dengan fikiranku tanpa sadar sudah ada seorang perempuan paruh baya berdiri di hadapanku .


"Permisi nona , saya Choi chin kepala pelayan disini , makan malamnya sudah siap nona , silakan ," ujarnya lembut sembari tersenyum ke arahku .


Aku membalas senyumannya , berusaha duduk di tepi tempat tidur namun tubuhku yg lemas membuatku tak leluasa bergerak , Dengan sigap choi chin membantuku duduk ,


sebuah makan malam yg cukup lengkap tersaji di depanku hanya saja potongan paha ayam membuatku bergidik ngeri . Seakan mengetahui jika aku kurang suka dengan potongan paha ayam tersebut , choi chin pun memindahkannya ke tempat lain .


" Maaf nona , saya tidak tau jika anda tidak menyukai daging ayam ," ucapnya sopan .


" Tidak apa , lagipula ini baru pertama kali kita bertemu , tentu anda tak mengetaui apa-apa saja yg tak saya sukai ," kataku .


"Obatnya saya letakkan disini nona , nanti setelah makan biarkan saja diatas meja , akan ada orang yg membereskannya nanti ," ucapnya berpamitan .

__ADS_1


Dengan tangan yg terpasang infus membuatku tak leluasa makan ,


Aku hanya mengambil buah apel dan mengunyahnya berlahan ,


tok..took..tok .


"Masuk ," terikakku .


"astagaa ," bisikku terkejut . Ha joon yg kulihat hari ini nampak berbeda , dengan kaos oblong putih ditambah celana jeas membuatnya cukup santai . Rambutnya yg setengah basah membuatnya terlihat cukup sexy . Bahkan buah apel yg kumakan pun jatuh menggelinding ke arahnya seolah menyambut kedatangannya .


" Aku cukup sadar diri kok , kalau aku tampan , kau punya banyak waktu kali ini untuk menikmati ketampananku ," katanya penyuh percaya diri .


Segera aku mengalihkan pandangan ke arah lain , ' pria ini benar-benar narsis'


" Mengapa tak makan ? Tidak sesuai dengan seleramu ? " ucapnya .


" Choi ..." ha joon hendak memanggil choi chin kemari namun segera ku tahan .


" tidak ha joon , bukan begitu , aku hanya kesulitan makan dengan tangan kiri ," jelasku .


" Ah , kau benar ," ha joon duduk disampingku kemudian merah piring di atas meja , " ayo makan ," katanya sembari membrika sesuap nasi ke padaku .


Mulanya aku ingin menolak namun aku harus segera memulihkan tenagaku agar aku bisa pergi dari sini , dengan berat hati aku membuka mulut menerima suapan ha joon . Ha joon terus tersenyum melihatku tak berdaya menolak suapan darinya .


......................


Pov author


Aeyong tertidur lelap di ranjang ha joon . Sedangkan ha joon tertidur di sofa tak jauh dari ranjang aeyong .


Tapat pukul 12.00 tengah malam , tubuh aeyong kembali mengejang , keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya , matanya yg terpejam mendadak terbuka lebar dengan bola mata kuning keemasan .


Rasa sakit bak ditusuk ratusan pisau kembali aeyong rasakan .


" Arrhh ..... Sakit ," terik aeyong tak tertahan .


Ha joon yg berada tak jauh dari aeyong pun terbagun , segera ia berlali menghampiri aeyong yg sudah meringkuh di bawah tempat tidur ,


Dengan cepat ha joon membopong tubuh aeyong kembali ke atas ranjang .


Ha joon bingung , bagaimana suhu tubuh aeyong begitu dingin , ia hendak menelfon seseorang namun dengan cepat tangan aeyong mencegahnya , dengan menahan rasa sakit yg luar biasa aeyong menggeleng , mengisyaratkan agar ha joon tak menelfon siapapun .


Ha joon pun kembali meletakkan ponselnya , kembali ia mendekati aeyong , diusapnya keringat dingin yg membanjiri tubuh aeyong , " Jika ada yg bisa aku lakukan untukmu , bicaralah , akan aku lakukan ," bisiknya .


Aeyong hanya memejamkan mata menahan rasa sakitnya . Ada rasa nyaman ketika kulit ha joon menyentuhnya .


"Peluk aku ha joon ," ucap aeyong .


Mata ha joon membelalak tak percaya akan apa yg aeyong ucapkan . " cepat ha joon ," ulang aeyong , kali ini aeyong juga berusaha bangkit dari tidurnya dan berusaha memeluk ha joon yg duduk disampingnya . Mendapat pelukan dari aeyong jantung ha joon berdebar sangat cepat fikirannya pun tak karuan , melihat aeyong yg lemah dan menahan sakit tengah memeluknya membuat rasa suka ha joon kian bertambah . Ha joon membalas pelukan aeyong , " kapanpun jika ini membuatmu nyaman , lakukanlah ," bisiknya ke telinga aeyong . Rasa sakit yg diraskan aeyong berangsur angsur menghilanh dalam pelukan ha joon , hingga aeyong tertidur dalam pelukan ha joon .

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2