Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Untuk apa menyesal?


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Martha dan kedua anaknya. Brigit mengajak mereka untuk pulang kerumahnya. Dia hanya berbasa-basi sebentar dengan mertuanya karena memang hubungan mereka bersitegang sejak Brigit kawin lari dengan Martha.


Kedua orang tua Martha juga tidak banyak berbicara, kendati dalam hati tidak suka dengan menantunya terlebih telah menyakiti hatinya, namun kemarahan itu dia mereka pendam didalam hati.


Mereka tidak ingin melukai hati kedua cucunya, jika hari ini mencaci maki menantunya yang tidak berguna itu.


Mereka tahu jika selama menjadi istri Brigit, Martha yang sekolah hingga menjadi sarjana, bekerja membantu ekonomi suaminya.


Brigit dan Martha lalu bersalaman dengan mereka, begitu juga Tegar dan Lucy.


"Kakek, lain kali kami akan datang lagi, kami senang menginap disini," kata Tegar.


"Iya cu, ajaklah ibumu menginap disini setiap kau liburan sekolah," ucap kakeknya.


"Tentu kek,"


"Mama, lain kali kalau Lucy liburan, kami mau menginap dirumah kakek, ya ma," kata Lucy dengan lucunya.


"Iya sayang,"


Martha lalu mencium tangan ayah dan ibunya.


"Kami pulang dulu, pak, Bu,"


"Iya, nak. Seringlah datang kemari,"


Martha mengangguk.


Brigit juga berpamitan dan menuju ke motornya. Sudah ada taksi online yang menunggu disana.


Martha dan Lucy akan naik taksi online, sedangkan Tegar akan membonceng ayahnya.


Perjalanan kira-kira satu jam tanpa kemacetan, jika macet maka bisa dua jam perjalanan.


Meskipun hanya satu jam, tapi kedua orang tua Martha tidak pernah tahu dimana anaknya tinggal. Karena komunikasi terputus sejak dia pergi meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali.


Setelah anak dan menantunya pergi, kedua orang tua Martha berbincang-bincang, istrinya nampak mengusap air matanya.


"Pak, apakah keputusan kita ini benar pak? Kita mengijinkan Brigit membawa Martha dan anaknya kembali?" ucap istrinya sembari duduk disamping suaminya.


"Bapak sebenarnya juga khawatir Bu, tapi anak-anaknya masih kecil, jika mereka berpisah, maka mereka akan menjadi korbannya dan belum mengerti masalah yang dihadapi orang tua,"


Tiba-tiba adik Martha satu-satunya masuk tanpa mengetuk pintu. Sorot matanya tajam menatap kedua orang tuanya.

__ADS_1


Iskan baru saja pulang kerja dari luar kota, dan mendengar kabar dari tetangganya yang satu kerjaan denganya jika kakaknya pulang setelah sekian tahun lamanya.


"Bu, katanya mbak Martha pulang, sekarang dimana? Dan mana suaminya yang tidak berguna itu?" Iskan berdiri menghadap ke mereka.


"Mereka sudah pulang," jawab ibunya.


"Duduk sini, kenapa kamu terlihat marah begitu?" Tanya ibunya.


"Bagaimana tidak marah Bu, mereka sudah membuat bapak dan ibu sedih bertahun-tahun. Mbak Martha juga, kenapa masih saja percaya pada pria tidak berguna itu."


"Hhhh, kami sudah memaafkan mereka berdua Iskan. Mereka sudah punya dua anak, dan melihat cucu-cucu ku, tidak sampai hati kalau kami akan mengungkit masa lalu lagi," ucap ibunya.


"Tapi Iskan tetap tidak terima Bu, mereka berdua sudah keterlaluan. Tidak peduli pada keluarga selama bertahun-tahun. Bahkan tidak datang di acara pernikahanku,"


"Iskan, sekarang kakakmu Martha sedang ada masalah, sebaiknya lupakan perseteruan kalian, kalian cuma dua bersaudara, jangan saling membenci. Apalagi sekarang kakakmu sudah mau kembali pulang, maka yang lalu biarlah berlalu. Kalian kakak beradik mulai bisa akur lagi seperti dulu," ibunya menasehati Iskan, anak keduanya.


Martha dan Iskan adalah dua bersaudara. Iskan adik laki-laki satu-satunya. Hubungan mereka menjadi renggang sejak Martha mencintai pria bernama Brigit.


Berulang kali Iskan memergoki Brigit bersama wanita lain saat masih berpacaran dengan Martha.


Dan saat memberitahukan hal itu pada kakaknya, dia tidak percaya dan yang lebih membuat Iskan kesal dan marah, karena mereka memutuskan pergi dari rumah lalu tidak pernah kembali.


Iskan mencari Martha kesana kemari, hingga keseluruh kota. Dan keluarganya cemas bahkan ibunya sampai sakit-sakitan memikirkanya. Begitu juga ayahnya, mereka berdua menderita sejak Martha tidak ada kabar beritanya.


Iskan benar-benar sakit hati, terutama pada Brigit, pria yang sudah mempengaruhi kakaknya agar melawan keluarganya sendiri.


Dan melarang Martha bertemu atau berhubungan dengan semua anggota keluarganya.


Iskan tersenyum sinis.


"Tidak Bu, Iskan masih belum bisa melupakan apa yang sudah mereka lakukan," kata Iskan lalu keluar dari rumah.


Sampai dirumahnya, dia disambut dengan anaknya dan juga istrinya Nella.


"Bang, gimana? Ketemu sama mbak Martha?" Tanya Nella sambil membukakan pintu.


"Ngga. Mereka sudah pulang. Dan yang bikin aku ngga habis pikir, bapak dan ibu, begitu saja memaafkan apa yang sudah mereka perbuat. Aku kecewa dengan mereka," kata Iskan sambil duduk dan bersandar pada kursi.


"Mungkin Bapak Ibu sudah memaafkan mereka bang. Kalau gitu, Abang juga sebaiknya memaafkan mbak Martha sama suaminya," kata istrinya lembut.


Iskan menatap tajam pada istrinya dan membuat Nella diam tak bersuara.


"Jangan samakan aku dengan mereka Nella, aku yang paling terkena dampak akibat perbuatan mereka berdua. Aku sampai menunda kuliahku karena mengurus bapak dan ibu yang bergantian sakit-sakitan karena memikirkan mbak Martha. Apa mbak Martha pernah sekalipun memikirkan kami?"

__ADS_1


Nella hanya menatap suaminya tanpa bersuara. Dia diam karena saat ini Iskan sedang kecewa dan kesal.


Nasehat apapun pasti hanya akan membuatnya semakin marah. Apalagi jika membela kedua kakak iparnya itu.


*


*


Sampai dirumah Martha membereskan semua bajunya dan dimasukkan kedalam lemari.


Semua baju kedua anaknya sudah rapi ditempat semula. Dia lalu membereskan bajunya sendiri, tidak dikamar Brigit, melainkan dikamar anaknya.


Brigit masuk dan menyentuh bahu istrinya dengan lembut.


"Ma, kok bajunya ditaruh sini. Kenapa tidak ditaruh dikamar kita saja?" tanya Brigit membuat Martha menoleh.


"Ngga pa, aku tidur disini saja, jadi pakaianku biar ada disini,"


"Kamu masih marah ma," tanya Brigit.


"Marah saja tidak cukup pa, aku masih belum siap tidur dikamar kita. Aku selalu teringat wanita bernama Sarita setiap kali kau menyentuhku. Aku juga teringat, kau menyentuh wanita itu,"


"Ma, papa pikir, jika kau kembali dengan anak-anak maka kita akan hidup bahagia seperti dulu lagi," ucap Brigit.


"Itu tidak mungkin pa, piring yang sudah pecah mampukan kau satukan kembali tanpa ada bekasnya? Andaikata bisa, keadaanya pasti sudah tidak sama,"


"Jangan bilang begitu dong ma, papa masih sayang sama mama. Papa tidak mau kehilangan mama dan anak-anak,"


"Sudahlah pa, biarkan aku beres-beres dulu. Pembicaraan seperti ini tetap tidak akan ada akhirnya, biarkan aku menenangkan diriku, aku tidak ingin kedua anakku melihat ibunya menangis,"


"Ma...." Brigit memeluk Martha.


Namun kali ini Martha tidak menangis lagi seperti sebelumnya setiap kali Brigit memeluknya.


Memang, yang paling membuatnya mudah menangis adalah jika teringat pada pengorbanan yang sudah dia lakukan, hidup yang dia pertaruhkan, demi pria yang berjanji akan mencintainya sampai mati.


Tapi, iman suaminya memang mudah goyah dengan godaan wanita cantik. Dan itu kesalahan Martha. Dia memilih pria yang memiliki ketaatan terhadap Tuhan begitu tipis.


Andaikata Brigit orang yang taat pada Tuhan dan agamanya, maka dia pasti bisa menjadi imam yang baik bagi keluarganya.


Itulah yang Martha sesali. Dia menolak cinta Ustadz Jimmy dan memilih pria yang hanya memiliki wajah tampan dan ternyata hidupnya menjadi sengsara setelah menjadi istrinya.


Sekarang, ustadz Jimmy sudah bahagia bersama wanita lain, meskipun karena dijodohkan.

__ADS_1


Setelah Martha memutuskan kabur dengan Brigit, Ustadz Jimmi menerima pinangan dari orang tua wanita bernama Sadiga. Dan mereka sudah menikah, dalam hati Martha berfikir, jika hidup Sadiga pasti sangat bahagia karena suaminya adalah pria Sholeh.


__ADS_2