Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Pulang kerumah orang tuanya


__ADS_3

Brigit mengajak Sarita menjauh dari rumahnya. Sampai dipinggir jalan raya, mereka berhenti.


"Kau naik apa kemari?" tanya Brigit.


"Aku naik angkot," jawab Sarita.


"Jika begitu, tunggulah disini, biar aku ambil motor untuk mengantarmu," kata Brigit lalu meninggalkan meninggalkan Sarita, berjalan kerumahnya mengambil motor.


Sampai dihalaman rumah Lucy sedang bermain bersama Tegar.


"Papa mau kemana?" tanya Lucy pada ayahnya yang mengambil kunci motor.


"Papa ada keperluan,"


"Aku boleh ikut?" rengek Lucy.


"Lain kali ya, papa akan ajak kamu jalan-jalan, sekarang, papa pergi dulu ya,"


"Iya pa..." Lucy melihat ayahnya meninggalkan halaman.


Brigit lalu menyuruh Sarita naik ke motor mereka.


Diperjalanan, Brigit dan Sarita berbicara sambil Sarita memegang perut Brigit dengan erat.


"Sudah kubilang, jangan kerumah, kau tidak mau dengar,"


"Aku pikir, jika berbicara baik-baik maka hati mbak Martha akan luluh dan menerimaku sebagai madunya,"


"Sudahlah, kita menikah siri saja, tidak usah menikah resmi," kata Brigit membujuk Sarita.


"Baiklah, aku mau menikah siri, siapa tahu, nanti mbak Sarita bisa luluh seiring berjalanya waktu," kata Sarita berharap.


Mereka lalu masuk halaman rumah Sarita. Anak nya yang bernama Angel, mengintip dari jendela saat ibunya membonceng ayah dari teman satu kelasnya.


Angel menunjukan wajah tidak suka dan menutup jendela itu kembali. Dia lalu membaca komik kesukaannya.


Sarita masuk dengan menggandeng Brigit. Mereka duduk diruang tamu.


"Aku ambilkan minuman mas," ujar Sarita sambil berjalan kedapur.


Tidak lama kemudian dia datang dengan minuman dingin dan duduk disamping Brigit.


"Kau jangan minum minuman dingin, kau kan sedang hamil," kata Brigit memperingatkan Sarita.


"Iya mas," kata Sarita lalu bersandar di bahu Brigit.


Menyalakan televisi dan menikmati kebersamaan itu.


"Kapan kita nikah dirinya mas?" tanya Sarita.


"Bulan depan aja ya, aku kan harus menyisihkan uang untuk melamarmu," kata Brigit.


"Aku tidak meminta mahar uang mahal mas, semampunya saja, lagian ini kan hanyaenikah siri," ujar Sarita.


"Tetap saja kan harus ada acara syukuran, kan perlu uang," kata Brigit membelai rambut Sarita.


"Aku akan bantu kamu mas, aku punya tabungan,"


"Iya, terimakasih," kata Brigit.


Tiba-tiba, Angel anak Sarita keluar dari kamarnya dan menoleh pada tamu ibunya. Terlihat ibunya sedang duduk begitu dekat dengan om itu.


Maka Angel menunjukkan ketidak sukanya dengan menutup pintu kasar.


Brakkk!


Membuat Sarita dan Brigit kaget. Mereka bersamaan menatap Angel dan Sarita nampak kesal karena Angel sudah tidak sopan pada Brigit.


"Pelan Angel," kata Sarita.


Angel tidak mempedulikannya dan berjalan kedapur mengambil minum. Lalu masuk kamar lagi dan menutup pintunya dengan kasar.


Braakkk!


Membuat Sarita kaget, begitu juga Brigit.


Sarita akan bangun dan memarahi putrinya itu, namun Brigit menarik tangannya, menyuruhnya duduk kembali.


"Jangan marah padanya. Dia hanya anak-anak," kata Brigit.


"Dia tidak sopan. Ada tamu ibunya, tapi menutup pintu kencang-kencang," jawab Sarita.


"Jika kau memarahinya maka dia akan semakin tidak menyukaiku. Lebih baik jangan, itu akan membuatnya semakin membenciku bahkan saat aku menjadi suamimu," kata Brigit.


Sarita menarik nafas panjang.


"Ayahnya sendiri sudah menelantarkannya dan tidak mau bekerja. Dia tidak tahu, ayahnya yang dia bela itu seperti apa? Aku harus bekerja keras mencukupi kebutuhan setiap hari sementara dia dirumah hanya duduk diam dengan hobynya saja," kata Sarita menceritakan mantan suaminya yang dia ceraikan.


"Kau jauh lebih baik daripada ayahnya itu," kata Sarita memuji Brigit.


"Tetap saja, butuh waktu bagi Angel untuk menerima ku sebagai ayah sambungnya,"


"Kau tidak kesal padanya?" tanya Sarita saat Angel tidak menghormati Brigit.


"Tidak," jawab Brigit.


Sementara dirumah, Martha sedang mengemasi semua bajunya kedalam koper, Dia juga mengemasi baju anaknya.

__ADS_1


Tegar dan Luci masuk kekamar dengan kaget melihat ibunya mengemasi baju.


"ma, kok bajunya di masukin kedalam koper, emang kita mau kemana?" tanya Tegar.


"Kalian mandilah, setelah itu ganti baju kalian, kita akan kerumah kakek dan nenek," kata Martha.


"Tapi, kita belum pernah pergi kesana, papa melarangnya," kata Lucy.


"Darimana kau tahu papamu melarangnya,"


"Dari kakak," jawab Lucy polos dan Martha menatap Tegar.


"Maaf ma, dia terus bertanya kenapa kita tidak kerumah kakek dan nenek, maka aku bilang begitu," kata Tegar merasa bersalah.


"Sudah tidak papa, sekarang kalian cepatlah mandi dan ganti baju" kata Martha lalu melanjutkan berbenah.


Sementara Tegar dan Lucy bergantian memakai kamar mandi dan berganti baju dengan hati senang karena akan pergi kerumah kakek dan neneknya yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Martha sudah selesai berbenah, begitu juga Tegar dan Lucy sudah rapi, mereka lalu keluar dari rumah dan sudah memanggil taksi online.


Tidak lama kemudian mereka masuk kedalam taksi.


Dan saat itu, Brigit sedang dalam perjalanan pulang kerumah.


Halaman rumahnya sepi, Brigit lalu masuk kehalaman. Pintu utama nampak tertutup.


Ternyata terkunci dari luar. Brigit segera mencari kuncinya, setelah menemukan kuncinya didekat pot ditempat biasa, Brigit lalu masuk.


"Ma....! Ma....!"


Tidak ada sahutan.


"Tegar! Lucy!"


Tetap tidak ada sahutan.


Brigit lalu duduk diruang tamu.


"Kemana mereka pergi? Apakah jalan-jalan ke mall?" Brigit berbicara seorang diri.


Brigit ketiduran disofa dan terjaga jam delapan malam.


Lampu masih belum menyala, semua ruangan nampak gelap.


"Ma! Kok gelap, apa mati lampu?" Tetap tidak ada sahutan.


Brigit lalu bangun dan mencari saklar.


"Ma...kamu sudah pulang?" Teriak Brigit sambil berjalan ke dapur dan ke meja makan.


Meja makan itu kosong, tidak ada makanan yang terhidang seperti biasanya.


"Ahh, kemana mereka pergi? Jam segini belum pulang?" kata Brigit lalu mendengar suara mie tek-tek.


Brigit segera keluar rumah dan memanggil tukang mie tek-tek langganan.


"Pak, bikinin satu ya," Pesan Brigit.


"Tumben satu bang, biasanya empat," jawab Abang penjualnya.


"Iya mang, mereka lagi jalan-jalan, jam segini belum pulang," jawab Brigit.


"Ohh, lagi healing gitu ya..."


"Ahh, si mamang bisa aja," kata Brigit.


Dengan cepat, Brigit menghabiskan mie yang dia pesan. Setelah membayar, Abang yang jualan melanjutkan jualanya keliling daerah itu.


Brigit duduk sebentar sambil melihat jalanan. Siapa tahu tidak lama setelah dia makan, Martha dan anaknya datang.


Setengah jam dia duduk sendirian di teras dan tidak ada tanda-tanda istrinya datang, maka dia masuk kembali dan menutup pintu karena nyamuknya semakin banyak.


Brigit lalu masuk kekamarnya dan akan mandi.


Selesai mandi dia membuat lemari. Dan masih belum menyadari jika baju istrinya kosong.


Dia memakai baju sambil bersiul.


Setelah itu menutup kembali pintu almarinya. Dan saat itu dia kaget, saat melihat almari disebelahnya kosong.


"Kosong? Kemana Martha memindahkan bajunya?" Tanya Brigit sendirian.


"Ohh, paling ke kamar anak-anak, karena kan dia tidak mau tidur disini lagi," kata Brigit menjawab pertanyaannya sendiri.


Brigit lalu berjalan kekamar Tegar dan Lucy untuk memeriksa baju Martha.


Dan begitu pintu almarinya dibuka, Brigit sungguh terkejut dan diam seribu bahasa.


"...."


Dia lalu berjalan kesamping dan membuka lemari Lucy, ternyata banjirnya juga kosong.


Dia benar-benar kaget kali ini.


"Baju mereka tidak ada semua? Kemana Martha membawa anak-anak nya?" Kata Brigit.


"Kerumah orang tuanya? Tidak mungkin, sudah lama dia tidak berhubungan dengan mereka dan keluarganya,"

__ADS_1


Brigit lalu melihat beberapa celengan telah kosong. Artinya semua uang dirumah itu yang disimpan sudah diambil oleh Martha semua.


Mereka memang mempunyai kebiasaan untuk menabung dirumah. Dan jarang menabung di bank, karena dirumah lebih praktis.


Bisa nabung berapa aja, tidak harus banyak.


Brigit memegang kepalanya yang cenat cenut.


"Padahal uang itu mau dia gunakan untuk melamar Sagita. Sekarang malah semuanya sudah raib," gumam Brigit lalu berjalan ke lemarinya.


Dia juga menyimpan uangnya di dompet yang jarang dipakai.


"Kosong, Martha mengambil semua uang yang aku simpan," kata Brigit memegang dompet uang kosong itu lalu melemparkannya.


Sekarang dia melihat dompetnya sendiri tersisa 100.000 an. Karena memang dia sudah menyerahkan semua gajinya pada istrinya dan sebagian dia tabung sendiri.


Sekarang batu tanggal lima, maka masih tersisa dua puluh lima hari lagi bagi gajian.


"Gimana ini? Kemana dia harus mencari uang?"


Brigit lalu mondar-mandir mencari mencari cara.


Dia sudah berjanji untuk melamar Sarita dan sekarang tidak punya uang sama sekali. Maka bagaimana dia akan melamarnya?


Martha sudah membawa semua uang itu kabur bersama kedua anaknya, Brigit terlihat bingung kali ini.


*


*


Martha sendiri sudah sampai dihalaman rumah ke dua orang tuanya.


"Ini rumah kakek ma?" Tanya Brigit dan segera turun dari taksi.


"Benar," jawab Martha.


Mereka lalu berdiri dipinggir jalan sambil membawa koper.


Martha awalnya ragu-ragu untuk menginjakkan kaki dirumah kedua orang tuanya.


Namun kali ini dia mengumpulkan segenap keberanian untuk datang dan meminta ampunan pada mereka berdua.


Jika di ijinkan maka Martha akan tinggal bersama mereka. Namun jika tidak, maka dia akan mencari kontrakan rumah untuk dia dan anak-anaknya.


Martha mengajak Tegar untuk berjalan masuk kehalaman dan juga Lucy.


Mereka lalu berdiri dipintu utama dan mengetuk pintunya.


Dari dalam pintu dibuka, nampak kedua orang tua Martha sudah semakin tua dan berdiri dipintu.


Mereka menatap Martha, si anak yang hilang dan kedua cucunya yang belum pernah mereka temui sampai saat ini.


Kedua orang tuanya kaget dan tidak menduga anak perempuannya yang telah lama hilang, kembali dengan dua cucu mereka.


"Ibu....maafkan Martha...Saya telah salah jalan dan tidak mendengarkan kalian...." kata Martha bersujud di kaki ibunya.


Membuat kedua anaknya tertegun dan bingung dengan apa yang dilakukan ibunya.


"Bangunlah nak, sudah, lupakan apa yang terjadi, lihatlah mereka, mereka cucu-cucu ku...." kata Ibunya memegang bahu Martha agar berdiri.


Dan luka masa lalu jangan sampai diungkit lagi dan terdengar oleh kedua cucunya itu.


Martha lalu berikan dengan ibunya. Sementara kakeknya memeluk kedua cucunya dan mengajak mereka masuk kedalam.


Mereka lalu duduk diruang tamu.


Kebetulan tadi pagi, neneknya batu saja beli berbagai macam buah dipasar. Maka dia menyuruh kedua cucunya untuk memilih buah yang disukainya.


"Ayo, makan ini, siapa nama kalian? Kalian sudah sebesar ini?" tanya neneknya.


Tegar dan Lucy mengambil buah Anggur dan memakanya.


"Saya Tegar, dan ini Lucy nek, kenapa kita tidak pernah bertemu? Kami senang akhirnya bisa bertemu dengan nenek, juga kakek..."


"Ohh, itu...jangan pikirkan masa lalu. Yang penting sekarang kita bertemu dan bisa sering bertemu lagi," kata Neneknya menoleh pada Martha.


Nampak mata Martha masih sembab karena menangis.


"Suamimu tidak ikut?" tanya ayah Martha.


"Tidak pak," jawab Martha sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu sudah minta ijin denganya?" tanya ayahnya lagi.


"Belum," jawab Martha.


"Bagaimana kalau nanti dia mencarimu," kata Ayahnya gusar.


"Tidak pak, Martha sudah mengirim pesan," jawab Martha yang akan mengirim pesan nanti malam. Namun terpaksa berbohong agar ayahnya tidak khawatir.


"Ya sudah, setelah ini kalian bisa istirahat dikamar," kata Neneknya melihat Martha nampak lelah.


"Iya nek," jawab Tegar dan Lucy.


Ayah dan Ibu Martha nampak saling berpandangan. Mereka yakin jika putrinya datang pasti karena ada suatu masalah. Terlihat jelas diwajahnya yang menyimpan kesedihan.


Sebagai orang tua yang sudah membesarkannya, tentu dia tahu apa yang tersirat dari wajah anak perempuannya. Meskipun berusaha disembunyikan serapi mungkin.

__ADS_1


Martha lalu mengajak kedua anaknya untuk beristirahat dikamar bekas Martha dulu saat masih gadis. Sebelum akhirnya memilih kabur bersama pria yang dia cintai.


Karena orang tuanya tidak setuju maka mereka kawin lari. Dan tidak ada kabar selama bertahun-tahun.


__ADS_2