Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Tertekan


__ADS_3

"Ikut ibu ke kantor!" seru Bu Indah sambil dibantu oleh teman-temannya menggotong Axel ke ruang kesehatan.


Axel masih pingsan saat dibawa ke ruang kesehatan.


Ternyata dia punya penyakit dalam, sehingga saat dengan refleks Tegar memukulnya, membuatnya kaget dan pingsan.


Sejak dia mengetahui jika ternyata ayahnya melakukan poligami, meskipun itu tidak dibenarkan oleh ibunya, namun dalam hati dia memikirkan nya. Hal itu tentu saja membuat emosi anak seusianya mudah meledak.


Begitu sampai diruang pembinaan siswa, bu Indah segera duduk didekat Tegar.


Guru yang lain mengurus Axel, sedangkan Bu Indah akan menanyakan kenapa Tegar memukul temannya.


"Sebelum ibu memanggil kedua orang tuamu, ibu ingin tahu, kenapa kau memukulnya?" tanya Bu Indah pelan.


Tegar diam saja.


Bu Indah menunggu sampai Tegar mau terbuka dan jujur dengan apa yang terjadi. Karena memang saat kejadian, sedang tidak ada guru didalam kelas.


"Tidak biasanya kau bersikap seperti ini, kau adalah salah satu murid berprestasi disini, kami bangga padamu, tapi sikapmu kali ini, sudah membahayakan orang lain, kami tidak bisa memaklumi yang kau lakukan," kata Bu Indah dan Tegar masih diam saja.


"Kami harus memanggil kedua orang tuamu," kata Bu Indah.


Tegar diam saja dan menunduk kelantai.


Bu Indah langsung menelpon Martha dan memintanya datang ke sekolah.


Karena yang diminta hadir adalah kedua orang tua, maka Martha lalu menghubungi Brigit.

__ADS_1


Mereka berdua panik saat bertemu didepan gerbang.


"Ada apa?" tanya Brigit pada Martha.


"Aku juga tidak tahu. Katanya, anak kita memukul temannya," kata Martha.


"Tegar? Dia berkelahi?" Brigit juga kaget, karena tidak pernah sekalipun Tegar terlibat pertengkaran dengan teman-temannya. Dia tergolong anak yang baik dan penurut. Jarang membuat kenakalan dirumah maupun di sekolah.


"Kita langsung kesana," ajak Martha.


Mereka sampai diruang pembinaan.


Tegar sedang bersama Bu Indah. Tegar terlihat cuek saat kedua orang tuanya datang. Dia tertunduk dan diam saja.


"Apa benar, kamu memukul temanmu?" tanya Martha saat sudah duduk disamping Tegar.


Tegar hanya mengangguk.


Mereka sungguh kaget dengan pengakuan Tegar.


"Dia memulai duluan. Dia mengejek aku dan Angel," kata Tegar baru mau buka suara setelah kedua orang tuanya datang. Tegar sengaja ingin mereka terbuka atas apa yang pernah dia dengar beberapa hari yang lalu.


Martha menatap suaminya dengan rasa penuh kesal. Karena dia menjadi teringat jika Angel adalah anak dari Sarita.


"Bu, ini membuat kami kaget dan terkejut. Mungkin ada masalah lain yang dia pikirkan, tidak biasanya Tegar bersikap seperti itu," kata Bu Indah saat Tegar sudah menunggu diluar bersama Brigit, ayahnya.


Mereka hanya berdua, karena sebenarnya Bu Indah ingin berbicara dari hati ke hati dengan ibunya Tegar mengenai perkembangan anaknya selama di sekolah.

__ADS_1


"Beberapa hari ini, dia sering melamun dan menjadi lebih pendiam dari biasanya," kata Bu Indah.


"Apakah ada masalah yang membuat dia tertekan?" tanya Bu Indah.


Martha diam saja dan menghela nafas dalam. Dia tidak mungkin bercerita tentang pernikahan ayah Tegar dengan ibunya Angel. Itu akan membuat kedua anak itu menjadi malu.


"Nanti akan saya tanyakan padanya, mungkin ada masalah lain yang mengganggu pikirannya," kata Martha pada Bu Indah.


Karena pembicaraan mereka sudah selesai maka kedua orang tua Tegar boleh membawa Tegar pulang lebih awal.


Mengingat kondisi emosi Tegar yang masih terganggu, maka akan membuatnya kesulitan menerima pelajaran.


Saat tiba dirumah, Brigit marah pada Tegar karena menganggap apa yang dia lakukan sudah memalukan. Orang tua sampai dipanggil karena perbuatanya, itu adalah hal yang seharusnya bisa di hindari.


"Kenapa kamu memukul temanmu!" kata Brigit dengan nada tinggi.


Tegar menatap ayahnya dengan tajam dan sinis.


Tanpa menjawab pertanyaan ayahnya, maka dia langsung lari kekamar dan menutup pintu.


Dia menangis didalam kamarnya dan Isak tangisnya tidak terdengar dari luar.


Martha tidak terima, Brigit berbicara dengan nada tinggi seperti itu pada Tegar.


"Kenapa kamu malah menyudutkanya pa? Dia menjadi seperti itu, karena kamu,"


"Kenapa karena aku? Emang apa yang sudah papa lakukan?"

__ADS_1


"Karena dia tahu jika kamu poligami. Aku tidak mengatakanya, tapi dia tahu dari orang lain," kata Martha menjelaskan.


Brigit menatap tajam pada Martha.


__ADS_2