Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Seperti wanita bodoh


__ADS_3

Sejak Brigit membagi gajinya menjadi dua, maka untuk biaya hidup sehari-hari, membuat Martha harus sangat irit.


Inilah yang membuat Martha tidak ingin poligami. Dulu suaminya berjanji akan memberikan semua gajinya hanya untuknya. Namun karena suatu keadaan, maka Sarita tidak bekerja dan dia membagi gajinya menjadi dua.


Gaji utuh yang dia berikan saja, masih tidak mencukupi untuk biaya Martha dan kedua anaknya, sebagai staf biasa. Martha masih harus bekerja menutupi kebutuhan keluarga.


Dan sekarang malah dibagi dua. Martha merasa kesal dan marah. Namun mau bagaimana lagi? Saat ini gaji Martha juga tidak cukup jika untuk membiayai kehidupan kedua anaknya.


Martha masih harus bersabar, menunggu anaknya besar dan dewasa hingga dia bisa terlepas dari belenggu ini.


Suatu malam, Brigit pulang karena ini memang jatah Martha. Setelah empat hari dirumah Sarita, maka Brigit akan menginap tiga hari dirumah Martha.


Sarita sedang dalam masa nifas, maka Brigit tidak bisa menyalurkan hasratnya, sedangkan dia terlahir dengan keinginan se*k yang besar. Maka dia merayu Martha agar malayaninya.


"Sudah malam, aku mau tidur," kata Martha akan beranjak kekamar anaknya.


"Ma...." Mata Brigit begitu sayu karena ada yang mendesak naik ke ubun-ubun nya.


"Apa pa?"


"Malam ini saja, tidur dikamar kita ya," kata Brigit.


Martha menggeleng teringat jika dia benar-benar sakit hati karena telah dikhianati.


"Kita masih suami istri, kenapa kau tidak mau melayani suamimu? Nanti dosa jika kau menolaknya," ucap Brigit.


"Sudah ku bilang pa, aku tidak bisa,"


"Kali ini, aku tidak ingin kau menolaknya. Mengertilah Martha, aku sudah tidak tahan lagi," Brigit benar-benar memohon.


Martha akan berjalan kekamarnya dan tidak mempedulikannya. Namun Brigit sepertinya sudah tidak mampu lagi menahan keinginannya.


Dia segera menggendong Martha meskipun istrinya meronta dan menolaknya.


Sekuat tenaga Martha berusaha lepas dari cengkeraman Brigit. Namun tenaganya tidak seberapa.


"Jika kau teriak, maka Tegar dan Lucy akan mendengarnya," bisik Brigit sambil terus memegangi kedua tangan Martha dan melepaskan bajunya.


"Aku ngga mau Pa,"


"Kali ini saja. Aku tidak tahan lagi Martha," sambil berbicara, Brigit terus melepaskan semua yang menempel pada badan Martha.


Dan sekarang dia sudah benar-benar melepaskan semuanya, namun Martha masih meronta dan tidak mau melayaninya.


Brigit tidak peduli. Dia bahkan tidak mengunci pintunya dan langsung melakukan pemanasan pada istrinya.


Bening-bening kristal berjatuhan dipipi Martha. Dia merasakan sakit saat sesuatu itu mendesak masuk tanpa keinginanya.


Namun Brigit terus melakukan aksinya, tidak peduli jika Martha menolak dan melawannya.


Hingga dia selesai dan melepaskan Martha. Martha segera mengambil baju dan pergi ke kamar mandi.


Menyiram tubuhnya dengan air dingin dan air matanya jatuh semakin deras.

__ADS_1


Dia menangis sesenggukan didalam kamar mandi, dan setelah memakai bajunya Martha keluar.


Saat keluar dari kamar mandi, Brigit sudah tertidur pulas.


Martha segera keluar dan menutup pintunya. Kemudian dia masuk kekamar anaknya dan tidur disana.


Hatinya benar-benar terasa sakit, setelah dipaksa melayani suaminya sendiri. Karena dia memang sudah tidak ingin berhubungan sejak dia tidur dengan wanita lain.


Namun apa dayanya, tenaganya tidak sekuat itu untuk melawan keinginan suaminya sendiri.


Martha masih mengusap airmatanya saat berbaring disamping Lucy.


*


*


Pagi harinya, Brigit sudah berangkat tanpa sarapan dulu. Martha melihat kamarnya sudah kosong, dan itu membuatnya terkejut.


Tidak lama kemudian, ada pesan masuk di hp Martha.


~ma, papa sudah berangkat, maaf ya, apa yang terjadi tadi malam~


Martha tidak membalas pesan itu dan mengedarkan pandanganya pada selimut yang masih berantakan.


Martha lalu membereskan semuanya. Matanya mulai berair lagi, jika teringat kenangan manis dikamar yang sebelumnya begitu hangat.


Namun sekarang, mereka tidur dikamar terpisah dan tidak ada lagi kehangatan dikamar ini.


"Mama," Lucy tiba-tiba masuk


"Papa mana?" tanyanya polos.


"Lucy kangen ma, kok papa sudah berangkat pagi-pagi sekali?"


Deg.


Mendengar kata anaknya yang kangen dengan papanya membuat hati Martha seperti tersayat.


"Papa kerja berangkat pagi, nanti malam papa pulang,"


"Kalau begitu, aku mau tungguin papa. Aku ngga mau tidur cepat ya ma," kata Lucy.


Martha mengangguk.


Martha diam dan berfikir sejenak. Dia lalu mengirim pesan pada Brigit agar pulang lebih cepat, karena Lucy merindukannya.


Inilah yang membuat Martha selalu dilema dalam keadaan yang membuatnya tak berdaya, karena cintanya pada kedua anaknya.


Mereka sedang sarapan bersama. Tegar melihat satu bangku yang kosong.


"Sekarang kita jarang makan bersama papa," kata Tegar menatap bangku yang kosong.


Martha kaget karena tidak biasanya Tegar terlihat tidak bersemangat.

__ADS_1


"Nanti malam papa akan pulang lebih cepat dan makan malam dirumah," jawab Martha.


"Kenapa akhir-akhir ini kita jarang bersama-sama? Dulu, kita akan jalan-jalan setiap hari Minggu, aku juga mau main futsal sama papa," kata Tegar.


"Nanti mama akan bilang agar kita bisa jalan-jalan dan kamu bisa main futsal," jawab Martha menatap wajah Tegar.


Mata tegar terbelalak.


"Benar ma?"


"Ya...." kata Martha melihat kebahagiaan mulai kembali dimata Tegar.


"Asyiiikkk!"


Martha lalu mengantarkan Tegar dan Lucy ke sekolah.


Dan saat akan pulang, melihat Angel yang diantar seorang pria digerbang sekolah.


Martha tersenyum pada gadis remaja itu. Angel mengangguk pada Martha.


Dan saat keluar, pria bernama Budi yang mengantar Angel mendekati Martha.


"Mbak Martha?" sapa Budi.


"Iya, saya, tapi...." Martha merasa belum pernah bertemu dengan pria itu.


"Saya ayahnya Angel, mantan suami Sarita," kata pria itu tenang.


"Ohh," Martha tertegun sesaat.


"Angel tinggal dengan saya sekarang. Sejak ibunya menikah lagi," kata Budi ingin melihat reaksi istri sahnya.


"Ehm,...." Martha nampak kebingungan.


"Ya sudah mbak, saya pulang duluan," kata Budi saat melihat reaksi Martha yang nampak bingung.


Martha mengangguk dan masih terpaku.


Tin! Tin!


Ada mobil kepala sekolah akan masuk gerbang, mengagetkan Martha.


Martha lalu berjalan kepinggir dan mendekati motornya. Dia menghela nafas dalam lalu pulang ke rumahnya.


Di rumah, Martha terus saja memikirkan apa yang terjadi dalam hidupnya. Drama pernikahan dan juga poligami yang tidak semestinya.


Membuatnya seperti wayang, dan tidak bisa melawan takdir yang harus dia jalani.


Martha lalu memikirkan kembali keputusannya. Antara berpisah atau bertahan.


Jelas, dia memang tidak bahagia dalam drama pernikahan dan poligami yang dia jalani.


Gaji suami yang sedikit, namun masih harus dibagi dua. Rasa sakit, setiap bersama suaminya juga sering menderanya. Bayangan kebahagiaan masa lalu dan pengorbanan yang dia lakukan juga sering terlintas dalam benaknya.

__ADS_1


Lagi-lagi jika bercerai, apa yang harus dia katakan pada Tegar dan Lucy, membuatnya hanya bisa menangis bahkan sebelum bisa menjelaskan pada mereka.


Namun, tatapan orang yang tahu drama pernikahanya, seperti pak Budi tadi, seakan menganggap jika dia adalah wanita yang bodoh dan sedang dibodohi namun masih bertahan.


__ADS_2