
Malam hari, saat anaknya semua udah tidur, Martha keluar dari kamar dan duduk dimeja makan. Mengambil minuman dan merenung sendirian.
Memikirkan biduk rumah tangganya yang sedang mendapat ujian.
Ibunya mendengar suara orang diluar kamar lalu membuka pintu. Dan saat tahu Martha sedang sendirian, maka dia berjalan keluar dari kamar dan duduk disamping anak perempuannya.
Tanganya mengelus punggung Martha hingga membuat Martha kaget dan menoleh.
"Ibu..."
Martha menatap ibunya.
"Ada masalah apa nak? Kenapa suamimu tidak menyusulmu kemari?" tanya Ibunya.
"Martha tidak memberitahunya Bu, kalau datang kemari," jawab Martha tertunduk.
"Kenapa? Harusnya ijin dulu sama suamimu, apalagi kau datang membawa koper, kau tentu akan menginap berhari-hari disini," ucap ibunya.
"Martha sedang ingin menenangkan diri Bu,"
Martha nampak menghela nafas dalam.
"Ada masalah apa? Apakah kalian bertengkar?"
Ibunya melihat putrinya begitu bersedih dan matanya sembab.
"Iya Bu, kami bertengkar,"
"Jika bertengkar, maka jangan malah keluar dari rumah suamimu. Nanti malah jadi melebar kemana-mana. Selesaikan dulu masalahnya dengan kepala dingin. Lihatlah, anakmu, apakah kau tidak kasihan pada mereka?"
"Masalahnya tidak bisa selesai Bu," jawab Martha seakan semua solusi tetap akan membuatnya sakit hati dan terluka.
"Didunia ini, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan Martha. Coba renungkan baik-baik, pasti ada solusinya," Ibunya menatap wajah Martha dengan lembut.
Martha mengangkat wajahnya,
"Mas Brigit, menghamili wanita lain Bu, dan sekarang wanita itu menuntut untuk dinikahi..."
Martha tidak sanggup menahan air matanya kini.
Dia mengusapnya dengan punggung tangannya.
"Apa?" Ibunya menutup mulutnya dengan tanganya dan sangat shock mendengar penuturan putrinya.
"Iya Bu,Martha bingung,harus bagaimana?"
Martha memejamkan matanya, berusaha mencari solusi terbaik.
Nampak ibunya menarik nafas berulang kali.
"Ibu tidak menduga, suamimu tega mengkhianati mu Martha. Kau bahkan lari dari keluarga demi dirinya. Tapi dia, sudah mengkhianati dan menyakiti hatimu. Sebenarnya ibu sangat marah padanya. Rasanya ibu ingin menamparnya, karena sudah membuat matamu menangis...tapi...."
Martha menatap ibunya.
Ibunya diam sejenak.
"Tapi...melihat kedua cucuku, tentu saja aku tidak akan melakukan keinginanku itu sebesar apapun rasa marah ibu pada suamimu,"
__ADS_1
"Itulah Bu, yang membuat Martha bingung, karena kebahagiaan anak-anak. Martha sedih jika melihat mereka harus kehilangan satu diantara kami,"
"Kau benar nak, pikirkan baik-baik sebelum membuat keputusan yang mungkin akan menyakiti hatimu, juga kedua anakmu."
"Apa yang sebaiknya Martha lakukan Bu?"
Martha menatap ibunya berharap mendapat kan jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
"Kau coba tenangkan dirimu dulu. Setelah itu, kau akan tahu langkah apa yang harus kau ambil. Ini masalah hatimu Martha, Ibu tidak bisa ikut campur, bagaimana pun, jika kau masih mencintai suamimu, maka tanyakan sekali lagi pada hatimu, maka kau akan mendapatkan jawaban yang paling tepat,"
Ibunya lalu meninggalkan Martha sendirian untuk merenung dan memikirkan segalanya.
Handphone nya dimatikan, sehingga suaminya tidak bisa menghubunginya.
Brigit menunggu hingga tengah malam. Namun karena Martha tidak pulang, maka sekarang dia yakin, jika Martha kembali ke rumah kedua orang tuanya.
Berulang kali, Brigit menelpon Martha, namun teleponya tidak aktif.
Brigit lalu menelpon Sarita.
"Iya mas," kata Sarita melalui telepon.
"Martha pergi dari rumah...sampai sekarang belum pulang," kata Brigit di tengah kegalauan hatinya.
"Kok bisa mas, kapan perginya?" Sarita juga nampak terkejut.
"Tadi, saat aku ada dirumahmu,"
"Apa, mbak Martha membawa semua bajunya mas?"
"Iya, sepertinya kerumah orang tuanya," jawab Brigit.
"Ya," jawab Brigit menutup telepon dan merasa sudah lega setelah bisa berbicara pada seseorang.
*
*
Dua hari kemudian,
Martha sudah mendapatkan jawaban dari kegalauan hatinya. Dan dia akhirnya memutuskan apa yang terbaik untuk rumah tangganya.
"Ma, kita pulang hati ini ya, Lucy sangat merindukan papa," kata Lucy saat mereka jauh dari suaminya tanpa saling berbicara.
"Iya ma, aku juga kangen sama papa,"
"Kalian tidak betah tinggal dirumah kakek?" tanya kakeknya sambil tersenyum.
"Bukan gitu kek, kami senang disini, tapi ngga ada papa, rasanya sepi kek, seperti ada yang kurang gitu," kata Tegar yang sudah agak besar.
Neneknya menyentuh bahu Martha, lalu tersenyum padanya.
"Pulanglah, apapun yang kau pilih, jika kau yakin demi kebaikan anakmu dan masa depan mereka, maka ikhlas kan semuanya. Anggap ini sebagai cobaan dari Tuhan," kata ibunya.
Martha mengangguk pelan.
Dia lalu mengaktifkan ponselnya.
__ADS_1
Dan saat itu, kebetulan suaminya menelponnya.
"Ma, kalian dimana? Biar papa jemput," kata suaminya yang sudah merindukan dirinya dan juga anak-anak nya.
"Aku dirumah bapak dan ibu pa,"
Jawab Martha.
"Kalau begitu, aku akan kesana menjemputmu,"
"Iya mas,"
Martha lalu menutup teleponnya.
"Siapa yang menelpon? Suamimu?"
"Iya Bu, mas Brigit mau menjemput Martha,"
"Kalau begitu, kemasi barangmu, pulanglah ke rumah suamimu," kata ibunya pada anak perempuannya.
"Iya Bu,"
Martha segera mengambil semua barang-barang nya dan memasukkanya ke dalam koper.
Sementara Tegar dan Lucy sedang bercengkerama dengan kakek dan neneknya.
"Suaminya akan datang kesini pak, kamu jangan memarahinya,"
"Ya buat apa marah Bu, anak perempuan kita masih mencintainya, mereka masih menjadi suami istri, apapun yang terjadi, sekarang sudah menjadi urusan dan tanggung jawab mereka berdua, aku kasihan pada kedua cucuku ini....bapaknya sifatnya begitu...tapi ya mau bagaimana lagi, semua sudah menjadi pilihan Martha,"
"Ya sudah pak, sekarang, ibu juga tidak mau ikut campur lagi, apalagi mengintervensi, pilotnya selama Martha kuat, maka ibu serahkan pada keputusannya sendiri," kata ibunya.
"Ya, kita hanya berdoa saja, semoga suaminya berubah, bisa jadi imam yang baik untuk keluarganya," kata suaminya menimpali.
"Kalau bapak renungkan dan pikirkan kembali, sakit hati bapak dibuat sama suaminya itu. Anak perempuan kita dibawa pergi begitu saja, bertahun-tahun, dan sekarang hatinya di sakiti, tapi, bapak sadar, putri bapak sedang diuji sama Tuhan."
"Iya pak, ya sudah pak, sepertinya suaminya datang, ibu biar bukain pintunya,"
Ibunya lalu keluar dan terlihat Brigit datang dengan membawa buah tangan. Sepertinya buah-buahan yang dia beli dipinggir jalan. Walau bagaimanapun dia malu jika datang tidak membawa apapun.
Padahal uangnya habis dan hanya tersisa sedikit. Tapi demi harga dirinya didepan kedua orang tua Martha, maka dia terpaksa membeli buah untuk oleh-oleh.
"Bu...apakah Martha ada disini?" Tanya Brigit agak canggung dan kaku.
"Iya, istrimu ada disini. Masuklah," jawab Ibunya mempersilahkan Brigit masuk ke ruang tamu.
"Pak...saya datang mau menjemput Martha,"
"Ya, sebentar lagi dia selesai berkemas."
"Pak, maafkan apa yang sudah Brigit lakukan dulu,"
"Iya, bapak dan ibu sudah memaafkanmu. Tapi, jika kau membawanya pergi lagi, maka jangan sakiti hatinya. Bahagiakan dia,"
"Iya pak," Jawab Brigit tertunduk.
Tidak lama kemudian Martha keluar dengan dua anaknya.
__ADS_1
"Papa....!" Teriak Tegar dan Lucy lalu memeluk ayahnya karena sangat merindukannya.
Martha hanya terharu dan mengusap airmatanya. Anaknya memang masih membutuhkan figur ayahnya, sehingga dia memutuskan untuk memilih keputusan tersulit dalam hidupnya.