Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Meminta sekali lagi


__ADS_3

Sarita sudah bersiap kerumah Martha dengan baju yang sedikit longgar. Perutnya mulai terlihat membesar dan agak sesak dengan baju yang biasa dia pakai.


Sebenarnya dia juga berdebar saat akan menemui Martha dirumahnya. Namun dia harus nekat karena ini demi identitas bayi dalam rahimnya.


Dia segera mengambil tas dan pergi ke rumah Martha.


Kebetulan hari ini Martha berangkat siang. Setelah mengantar kedua anaknya sekolah, dia pulang kerumah dan bersih-bersih.


Nanti baru akan berangkat kerja. Saat akan merapikan buku-buku dilemari tiba-tiba pintunya diketuk oleh seseorang.


"Ya sebentar," Martha menyahut sambil menaruh kemoceng.


Dia bergegas membuka pintunya, dan sangat terkejut saat melihat siapa tamunya yang ternyata adalah selingkuhan dari suaminya.


"Kau!?" Martha kaget.


"Kenapa datang pagi-pagi kemari?"


"Boleh aku masuk?" tanya Sarita.


Martha menatapnya lalu diam sesaat untuk kemudian mengangguk pelan.


"Duduklah," kata Martha dingin.


"Katakan ada apa? Aku sedang sibuk. Aku akan berangkat ke toko sebentar lagi,"


Masih bagus Martha tidak mencaci atau mungkin menampar wanita ini, seperti yang di lakukan wanita yang suaminya telah selingkuh. Dan wanita ini sungguh tidak tahu malu untuk terus datang ke rumahnya.


"Mbak, aku masih dengan niat yang sama. Restui hubungan kami mbak, aku sudah bercerai dan sekarang hamil. Dan anak yang aku kandung ini harus jelas siapa ayahnya,"


"Itu sudah resiko yang harus kau hadapi. Kau yang egois kenapa seakan aku yang egois karena tidak merestui hubungan kalian?"


"Aku mohon dengan segala kerendahan hati mbak, bahkan jika kita menikah nanti, aku janji. Mas Brigit akan berlaku adil padamu," kata Sarita.


"Bukan masalah adil atau tidak Sarita. Bukan itu alasannya. Hanya aku yang tahu alasannya. Dan aku tidak perlu mengatakan kepadamu, kenapa aku tidak mau poligami. Meskipun kau datang sepuluh kali kerumahku, jawabannya tetap tidak Sarita,"


Martha tetap berkeras untuk tidak mau berpoligami.


"Kalau begitu, kenapa mbak Martha tidak bercerai saja dari mas Brigit?"


"Apa kau bilang? Kau sangat lancang Sarita? Jika saja kau sedang tidak hamil. Maka aku sudah pasti menampar mu!"


" Jika begitu, kenapa kau tidak membiarkan suamimu bahagia? Kami saling mencintai, kenapa kau tidak mengerti mbak?"


"Cukup! Aku tidak mau dengar lagi! Pulanglah, aku mau berangkat kerja,"


"Jika kau tidak merestui kami, maka aku akan membuat Mas Brigit meninggalkanmu!"


"Lakukan saja! Aku sudah tidak peduli!"

__ADS_1


Martha lalu masuk kedalam dan membiarkan Sarita sendirian diruang tamu.


Sampai didapur, ingin rasanya Martha menangis dengan keras. Namun dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak ingin menangisi pengkhianatan suaminya.


Sarita lalu bangun perlahan karena usahanya untuk meluluhkan hati Martha sia-sia.


Dia tetap tidak mau melakukan poligami.


Maka jalan satu-satunya adalah dia harus membujuk Brigit agar mau menceraikan Martha dan menikahinya secara resmi.


Jika hanya menikah siri, maka status anak yang dia kandung tetap akan menjadi tidak jelas. Karena hanya pernikahan sah yang di akui oleh negara.


Dengan perasaan kecewa, Sarita meninggalkan rumah Martha. Dan sampai dijalan dia malah bertemu dengan mantan suaminya.


Maka Budi menghentikan motornya dan mendekati mantan istrinya itu.


Sarita tadinya akan menghindar, namun Budi terlanjur mendekat dan terpaksa dia turun dari motornya.


"Ada yang harus aku bicarakan denganmu," kata Budi.


"Soal apa?" tanya Sarita kaku.


"Angel. Kemarin dia menemuiku dan tidak sekolah. Ayo kesana, kita bicara," kata Budi memarkir motornya.


"Ya, tapi jangan lama-lama, aku harus bekerja," kata Sarita.


Mereka lalu duduk dan berbicara.


"Aku dengar kau ingin menikah lagi, itu yang membuat dia sedih dan datang padaku,"


"Wajar kan jika aku akan menikah lagi, aku wanita tidak bersuami," kata Sarita.


"Kau bebas untuk menikah lagi, kenyataanya kau memang bukan istriku lagi, tapi, yang membuat Angel sedih karena kau akan menikah dengan ayah teman satu kelasnya,"


"Nanti dia juga akan mengerti, sebaiknya kau tidak usah khawatir,"


"Sarita, pikirkanlah perasaan Angel sekali saja. Carilah pria lain tapi jangan pria yang masih menjadi suami orang," kata mantan suaminya dan membuat Sarita melotot tidak suka.


"Dia akan segera menceraikan istrinya," kata Sarita.


"Hhh, kau benar-benar egois," jawab Budi.


"Jika sudah selesai, maka aku akan bekerja,"


"Aku hanya mengingatkanmu jangan sampai kau kehilangan Angel karena sikapmu yang egois seperti itu,"


"Kau sedang mengancamku? Apakah kau akan merebut hak asuh angel dariku?"


"Aku tidak akan merebutnya, dia akan datang sendiri padaku, jika denganmu tidak bahagia," ujar suaminya.

__ADS_1


"Aku peringatkan untuk tidak mempengaruhi putriku, dan jangan ikut campur urusanku!" hardik Sarita lalu pergi dari tempat itu.


Budi hanya menghela nafas dalam dan melihat Sarita pergi.


Dia memang keras kepala dari dulu, dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.


*


*


Sore hari sepulang kerja, Sarita seperti biasa bertemu dengan Brigit. Karena tempat kerja mereka begitu dekat, maka mudah sekali untuk sering bertemu.


"Mas, ayo ketaman, ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting," kata Sarita mengajak Brigit ke taman.


"Ya," Brigit menurut saja dan kembali ke motornya.


Mereka naik motor masing-masing untuk kemudian pergi ke taman, di mana Sarita dan Brigit sering kesana jika tidak pergi ke penginapan atau ke hotel.


Mereka lalu duduk dibawah pohon. Ada tempat duduk yang disediakan untuk warga yang ingin bersantai.


"Ada apa?" tanya Brigit menatap wajah Sarita yang cantik dengan riasan yang sempurna.


"Mas, perutku sudah semakin besar. Dia butuh status yang jelas. Jika mbak Martha tidak ingin berpoligami, maka bagaimana dengan nasibku?"


"Kita nikah siri saja,"


"Nikah siri tidak diakui negara mas."


"Jika begitu, aku harus bagaimana?"


"Bagaimana kalau kau bercerai dengan mbak Martha Mas, tapi kau tetap bertanggung jawab pada biaya hidup kedua anakmu, itu cukup adilkan mas?"


"Dia tidak mau bercerai Sarita."


"Kalau begitu, apakah kau akan mengorbankan diriku?"


"Bukan begitu,"


"Mas, kamu harus tegas. Pilih satu diantara kami. Aku sudah hamil, dan ini anakmu," kata Sarita setengah emosi karena Brigit dinilai tidak bisa mengambil keputusan.


"Aku akan memikirkanya,"


"Kau terus saja berpikir dari kemarin. Aku gelisah mas. Perutku semakin besar, apa kata orang nanti?" Sarita semakin kesal.


"Tenang sayang, kau sedang hamil, jangan emosi seperti itu. Aku akan cari jalan keluarnya,"


Brigit berusaha menenangkan Sarita.


"Aku tidak mau tahu mas. Aku mau kau datang besok dengan keputusan yang jelas! Jangan sampai kamu campakkan aku mas, jika kau sampai melakukanya, maka aku tidak akan mengampunimu!"

__ADS_1


"Iya, iya, sekarang jangan marah lagi, tenang, dan ini biar aku yang akan cari jalan keluarnya," kata Brigit lalu merangkul Sarita namun sebenarnya dihatinya juga sedang mengkhawatirkan sesuatu.


__ADS_2