
Malam ini, Martha mengajak kedua anaknya untuk makan direstoran mewah. Kebetulan dia dapat bonus lumayan besar karena omset penjualan yang mencapai target.
Mereka masuk dan beberapa pelayan yang rapi dan cantik menyambut dengan senyum manis dan mengarahkan mereka ke meja yang sudah dipesan.
"Waahhh, ini keren," kata Tegar tersenyum pada mamanya sambil menyapu pandanganya pada seluruh ruangan.
Interior didalamnya kental dengan budaya Jepang. Karena mereka sedang makan di restoran Jepang yang mewah di kota itu.
"Kalian bisa pesan semua menu yang kalian sukai," kata Martha sambil membuka buku menu yang ada diatas meja.
"Tapi, ma....harganya mahal semua," kata Tegar dan menutup buku menu itu kembali.
"Tidak papa, mama sengaja mengajak kalian sesekali kemari, mama punya cukup uang untuk menu yang kalian pesan,"
Tegar lalu tersenyum dan membuka buku menu kembali dan memesan beberapa makanan yang belum pernah dia makan sebelumnya.
"Aku mau ini, ini dan ini," kata Lucy pada ibunya.
"Oke," Martha lalu menunggu sampai makanan yang mereka pesan datang.
"Oh ya ma, papa sekarang jarang sekali pulang, apa masih bekerja ke luar kota?" tanya Lucy pada ibunya.
"Tidak," jawab Martha tiba-tiba berbeda dari sebelumnya.
Tegar sudah menduga jika ibunya pasti akan membuka rahasia papanya pada Lucy dan mungkin tidak lama lagi.
__ADS_1
Tegar sudah dewasa, dan dia sudah tahu segalanya, meskipun tidak pernah ada pembicaraan tentang problema itu secara terbuka.
Sementara, Lucy memang tidak tahu apapun tentang masalah yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Martha mengira jika sekarang sudah saatnya dia mengakhiri segalanya. Dan dia menganggap, jika Tegar sudah dewasa dan Lucy sudah menginjak remaja.
"Papa kalian tidak keluar kota," kata Martha tiba-tiba berbicara jujur.
"Lalu, papa kemana?" tanya Lucy masih dengan logat polosnya.
Pada saat itu, tiba-tiba dari arah pintu, terlihat Brigit dengan stelan jas hitam rapi, berjalan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan baju sangat seksi.
Martha kaget, saat melihat suaminya datang ke restoran yang sama. Martha menggelengkan kepalanya dan hanya tersenyum kecut melihat pemandangan itu.
Dan saat ini, Martha semakin yakin jika memang sudah waktunya dia mengakhiri hubungannya.
Tegar dengan santai mengangguk pelan.
"Tegar tidak keberatan, selama mama bahagia, toh, papa memang jarang pulang dan bersama kita lagi sekarang," kata Tegar melirik pada Lucy.
Hal berbeda terjadi pada Lucy, nampak bening kristal membasahi kedua matanya.
Martha jelas trenyuh melihat hati putrinya hancur dan matanya menangis. Namun setelah melihat sikap suaminya yang semakin menjadi, maka Martha tidak sanggup lagi menyimpan rahasia sikap buruk ayah mereka.
"Jika berpisah, artinya tidak tinggal satu rumah lagi?" kata Lucy menatap mata ibunya.
__ADS_1
Martha mengangguk pelan.
Lucy menangis sesenggukan dan mengambil tissue didekatnya. Nampak gadis polos itu berpikir sambil menyeka air matanya. Dia juga sudah remaja dan tahu apa yang dirasakan ibunya.
Dia tahu, jika salah satu pasangan sudah tidak setia, artinya ibunya pasti sedih dan terluka, hanya itu yang Lucy pikirkan tentang perkataan ibunya tadi.
Akhirnya Lucy mengangguk pelan.
"Tapi, bisakah sebelum berpisah papa datang kerumah dan makan bersama kita?" pinta Lucy.
"Iya," jawab Martha sambil menyeka air matanya juga melihat gadis kecilnya sudah bisa menerima kenyataan ini.
"Hanya papa dan mama yang tidak tinggal satu rumah seperti dulu lagi. Tapi kalian, tetap bisa bertemu dengan papa, sesuka hati kalian, kalian bisa makan dan pergi jalan-jalan dengan papa kalian," kata Martha menjelaskan jika tidak akan ada yang berubah dari hubungan ayah dan anak. Yang berubah hanyalah hubungan suami dan istri yang tidak akan sama lagi dan menjadi orang lain seperti sebelumnya.
Tegar dan Lucy mengangguk.
"Mama sedih?" tanya Lucy menatap wajah ibunya.
"Dulu, mama sedih, sekarang, mama tidak sedih lagi, dan sekarang mama bahagia, melihat kalian sudah dewasa," kata Martha memegang tangan Tegar dan Lucy.
Mereka lalu tersenyum bersama saling menguatkan dan pada saat itu, makanan yang mereka pesan, sudah datang.
"Kita makan sekarang, jangan lupa berdoa dulu," kata Martha tersenyum pada kedua anaknya.
Sebelum makan dia sempat melirik ke meja dimana Brigit sedang duduk bersama wanita itu, dan sesekali mereka tertawa. Namun Brigit tidak sadar, jika anak dan istrinya juga ada disana.
__ADS_1
Untunglah, hanya Martha yang melihatnya, Tegar dan Lucy tidak melihat papanya bersama wanita itu.