
Sudah satu Minggu Martha tidur dikamar anaknya sejak mereka kembali. Dan membiarkan Brigit tidur sendirian dikamarnya.
Brigit lama-lama tidak tahan dengan rasa kesepian dan hukuman dari Martha.
Dia merasa butuh penyaluran untuk hasratnya, namun istrinya masih marah dan tidak membiarkan Brigit menyentuhnya.
Brigit terlahir sebagai pria dengan keinginan se*k yang kuat. Sehingga jika tidak melakukanya maka dia akan mengalami sakit kepala dan migrain.
Martha berfikir, dengan tidak membiarkan suaminya menyentuhnya maka akan membuatnya jera. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Keputusannya itu justru membuat Brigit pergi malam-malam saat semua orang sudah pulas tertidur. Dia datang kerumah Sarita.
Seperti malam ini jam 23.00
Dirumah Sarita, sudah sepi. Dia dan anaknya juga sudah tidur. Tiba-tiba, Brigit menelpon dari halaman rumahnya, memintanya untuk membuka pintunya.
Sarita kaget dan sebelum mengijinkan Brigit masuk kedalam rumahnya, dia membuka kamar Angel.
Dan saat tahu putrinya sudah tidur, maka Sarita lalu membukakan pintu untuk Brigit. Suasana di gang itu sudah sepi. Dan tidak ada tetangga yang melihat Brigit masuk kerumah Sarita yang sudah menjadi janda.
Begitu dibukakan pintunya, Brigit segera menarik Sarita kekamar Sarita. Dan kebetulan Brigit sudah paham dimana letak kamarnya.
Brigit sudah tidak tahan lagi kali ini, dia segera menutup pintu dan menguncinya.
"Ada apa mas? Malam-malam datang kemari,"
"Sarita, buka bajumu. Aku sudah tidak tahan lagi."
Mendengar penuturan Brigit, maka Sarita segera membuka gaunnya. Brigit langsung menciumnya dan meremas buah miliknya.
Dia tidak melakukan pemanasan lama. Dia segera menyalurkan keinginanya dan tidak membutuhkan waktu lama dia sudah merasa puas.
Sarita lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Ada apa mas? Tidak biasanya kamu malam-malam begini datang kemari?" tanya Sarita pada Brigit.
"Aku kangen sama kamu," hanya itu yang Brigit katakan. Dia tidak mengatakan jika istrinya menolak berhubungan dengannya.
Brigit lalu terpejam dan tidur dirumah Sarita hingga pagi hari jam 04.00 Sarita membangunkanya dan menyuruhnya pulang.
"Mas, bangun mas," kata Sarita pada Brigit.
Eehhhh,
Brigit membuka matanya.
"Apa?"
"Bangun, sudah jam empat pagi, sebentar lagi angel akan bangun. Kamu harus pulang mas, sebelum dia terbangun," kata Sarita menatap Brigit.
__ADS_1
"Ya tunggu dulu, aku akan memakai bajuku dulu," kata Brigit segera menyingkirkan selimu dan mencari bajunya.
"Ini bajumu mas," kata Sarita seakan tahu apa yang di cari Brigit.
Brigit segera memakai baju itu dan mencium Sarita sekali lagi.
"Nanti ketemuan mas, ditempat biasa?" tanya Sarita. Karena mereka bisanya akan ketemuan setelah pulang kerja.
"Aku sedang tidak ada uang Sarita. Uangku habis, aku tidak bisa menyewa kamar untuk kita berdua," ujar Brigit.
"Ohh, aku juga tidak punya uang, aku harus membayar biaya sekolah Angel," kata Sarita.
"Jika begitu, sementara aku akan datang kerumahmu setiap tengah malam, bagaimana?"
"Tapi apa mbak Martha tidak marah mas?" tanya Sarita.
"Martha tidur dengan anak-anak. Aku tidur sendirian, jadi dia tidak tahu kalau aku keluar tengah malam," kata Brigit.
"Ya sudah mas, sekarang kamu pulang dulu," Sarita lalu membukakan pintu dengan pelan untuk Brigit.
Tidak lama kemudian Angel terbangun dan tidak tahu jika semalam Ibunya memasukkan pria kedalam rumahnya.
Sampai dirumah, Martha memang belum bangun. Brigit segera kembali kekamarnya dan tidur.
Padahal Martha terbangun jam satu malam dini hari.
Dia melihat pintu kamar Brigit sedikit terbuka lalu dia memeriksanya.
Martha yakin jika Brigit tidur dirumah wanita itu dan bermesraan disana. Martha menghela nafas dalam dan berusaha untuk tidak menangis.
Alasan dia tidak mau di sentuh dengan suaminya adalah kebiasaan buruk suaminya yang suka cekal celup sana sini. Maka Martha khawatir dia akan tertular penyakit.
Setelah tahu jika suaminya tidak ada dirumah, maka Martha lalu kembali tidur dikamar anaknya.
Pagi hari, Martha sebenarnya sudah bangun, namun dia belum keluar dari kamar. Dia menunggu suaminya masuk lebih dahulu, karena dia yakin suaminya akan pulang sebelum fajar.
Dan benar saja, terdengar bunyi pintu berdecit.
Martha tahu jika suaminya sudah pulang, tidak lama terdengar pintu kamar ditutup perlahan. Artinya saat ini suaminya sudah tidur dikamarnya.
Martha lalu keluar kedapur. Dia memasak seperti biasanya. Setelah itu menyiapkan bekal untuk anak-anaknya.
Setelah beres dia lalu kekamar Brigit dan akan membangunkanya, namun Brigit sudah bangun dan mandi. Sekarang sudah tapi dengan seragam kantornya.
"Sudah bangun pa?" tanya Martha dari pintu yang sedikit terbuka.
"Iya ma, papa akan keluar sarapan," kata suaminya.
"Ya, pa, sarapannya sudah siap,"
__ADS_1
Martha lalu duduk satu meja dengan suaminya. Sementara kedua anaknya sedang mandi akan berangkat ke sekolah.
"Tegar dan Lucy biar mama yang antar saja pa," kata Martha sambil menyendok kan nasi ke piring suaminya.
"Iya ma, emang mama ngga sibuk?" tanya Brigit.
"Tidak pa, kebetulan hari ini toko buka siang," kata Martha.
"Ohh, ya sudah kalau gitu,"
Brigit sarapan dan seakan mulai terbiasa dengan hukuman untuk tidak menyentuh Martha.
Martha mengantarkan Brigit sampai kepintu, dan jika dulu, Brigit sering mencium keningnya, maka kali ini dia hanya tersenyum lalu pergi ke kantor.
Martha sudah mengubah semua kebiasaan dirumahnya dan lama-kelamaan menjadi terbiasa.
Dia hanya menunggu anaknya menjadi dewasa dan bisa memahami situasinya.
Sekarang mereka masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Maka Martha masih bertahan dirumah itu dengan menguat- nguatkan hatinya.
Sebenarnya dia juga sedih dan kesepian, namun rasa sakit yang dia rasakan membuatnya harus memilih jalan ini.
Tidak lama kemudian kedua anaknya datang ke meja makan dengan baju yang sudah rapi.
"Papa mana ma?" tanya Tegar.
"Papa baru saja berangkat," jawab Martha.
"Lalu tegar berangkat sama siapa ma?"
"Nanti mama yang antar kalian berdua,"
"Apa mama ngga kerja?"
"Mama berangkat siang sayang,"
Mereka lalu sarapan bersama. Setelah sarapan Martha mengantarkan Tegar dan Lucy ke sekolah.
Martha melihat Sarita dan putrinya juga baru saja sampai.
Angel nampak menatap Martha begitu lama. Angel seakan tahu jika hubungan ibunya dengan ibu dari tegar sedang tidak baik-baik saja.
Angel lalu mengangguk pada Martha, sebelum masuk kedalam kelas.
"Angel, tunggu! Ayo masuk bareng," ajak Tegar.
Angel adalah gadis pemalu dan pendiam. Sehingga dia sering diganggu oleh teman-temannya.
Dan Tegar adalah salah satu teman yang sering melindunginya dari gangguan temanya yang nakal.
__ADS_1
Namun beberapa hari ini Angel sepertinya menghindari Tegar, dan itu membuat Tegar khawatir.