
Keesokan harinya, Tegar sudah rapi dengan baju sekolah. Dia melihat papanya sudah duduk dimeja makan bersama Lucy.
Tegar langsung duduk tanpa menyapanya. Wajahnya masih menunjukkan kalau dia kesal dan marah.
Brigit tersenyum menatap Tegar dan mengajaknya duduk disampingnya.
"Duduk sini, dekat papa," kata Brigit.
Namun Tegar tidak bergeming, hal itu di lihat oleh Martha.
Martha lalu duduk diantara mereka dan mencoba membuat suasana meja makan menjadi hangat.
"Aku mau diantar mama ke sekolah," kata Tegar tiba-tiba saat Martha memberikan nasi dan lauk padanya.
"Biar papa yang antar saja, sekalian papa mau berangkat kerja," kata Brigit.
"Tidak. Aku mau mama saja yang antar," kata Tegar dingin tanpa melihat wajah papanya. Kemarahan masih tergambar jelas di raut wajahnya.
Brigit menarik nafas dalam dan panjang. Dia tidak bisa memaksa Tegar, karena dia sudah remaja dan beranjak dewasa.
"Nanti papa pulang kerja, kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Brigit berusaha merayu Tegar.
"Aku mau cokelat!" kata Lucy dengan senang.
"Kamu Tegar?" tanya Brigit lembut.
"Aku tidak mau apa-apa," jawab Tegar lalu berdiri.
"Ma, bisa antar Tegar sekarang?" kata Tegar berdiri mengambil tas sekolahnya.
Brigit menatap putra kesayangannya dengan rasa kecewa karena jarak diantara mereka yang mulai terasa.
__ADS_1
"Ya...." kata Martha mengangguk dan memahami kemarahan yang sedang ditunjukan Tegar.
Martha juga bisa merasakan rasa malu yang dia terima karena poligami yang dilakukan papanya kebetulan dengan ibu dari teman satu kelasnya.
"Lucy mau diantar papa saja," kata adiknya yang masih kecil dan belum tahu apa-apa.
Martha mengangguk lalu pergi bersama Tegar ke sekolah.
Brigit hanya bisa terdiam menatap mereka berdua.
Sampai di sekolah, Martha bertemu dengan orang tua Axel. Ternyata orang tua Axel adalah teman Budi. Dan dia tahu jika suami Martha berselingkuh dengan Sarita.
"Axel, maaf, aku menyesal telah memukulmu," kata Tegar saat berpapasan dengan Axel yang diantar ibunya.
Axel rupanya masih kesal sehingga dia diam saja dan tidak menjawab perkataan Tegar yang meminta maaf dengan tulus padanya.
"Axel, temanmu sudah minta maaf, maafkan dia, kalian bisa berteman lagi dengan lebih baik," kata Soraya ibunya Axel.
"Bu, maafkan anak saya, seharusnya dia tidak memukul temannya,"
Soraya mengangguk dan menatap Martha lama dan dalam.
"Ma, aku ke kelas dulu," kata Tegar berpamitan pada mamanya di ikuti Axel yang acuh berjalan dibelakangnya.
Setelah mereka masuk kelas, Soraya mengajak Martha berbicara tentang perkembangan anak-anak usia remaja. Ternyata dia bekerja menjadi asisten seorang psikolog.
"Jika anak sikapnya berbeda dari biasanya, pasti karena ada masalah yang dia pendam dan mengganggu pikirannya," kata Soraya berbicara pada Martha.
Martha tertegun dan menatap ibu dari Axel.
"Mungkin ada masalah yang tidak bisa dia ungkapkan atau utarakan, atau kadang apa yang terjadi pada kedua orang tuanya, menjadi beban pikirannya," kata Soraya yang tahu jika Martha menyembunyikan poligami suaminya dari keluarganya.
__ADS_1
Martha hanya tersenyum lalu mengangguk. Tidak ingin banyak berbicara pada ibunya Axel, maka Martha lalu berpamitan lebih dulu.
"Bu, terimakasih, karena memaklumi apa yang sudah terjadi, saya permisi dulu, Lucy sendirian dirumah," kata Martha.
Soraya mengangguk dan menggelengkan kepalanya.
Martha masih memegang prinsip nya jika poligami suaminya adalah sebuah aib, sehingga dia belum mau membukanya pada siapapun.
Kesetiaan suami adalah mahkota bagi seorang istri. Dan perselingkuhan nya membuat seakan-akan dia gagal sebagai istri yang baik, hingga suaminya memiliki wanita lain.
Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah karena suaminya memang pria yang tampan, dan banyak wanita yang mudah tergoda padanya.
Brigit sendiri, juga ternyata menyadari ketampanannya hingga menggunakan untuk mempermainkan banyak wanita.
Setelah Martha pulang, Budi datang bersama Angel.
Angel membuang mukanya saat bertemu dengan Martha tadi digerbang, sedangkan saat bertemu dengan ibu dari Axel, dia memilih untuk menunduk.
Budi mengangguk pada Soraya lalu pergi menemui kepala sekolah.
Ternyata, Angel memutuskan untuk pindah sekolah karena tidak nyaman bersekolah disekolah ini lagi. Terlebih karena dia satu kelas dengan Tegar dan kedua orang tua mereka menikah siri.
Ada rasa malu dan berbagai tekanan yang dirasakan oleh Angel dan tidak mampu dia tahan lagi. Dia ingin bersekolah dengan tenang tanpa ada masalah yang terus saja menganggu konsentrasi belajarnya.
Akhirnya, ayahnya menyetujui untuk memindahkan Angel ke sekolah lain dengan berbagai pertimbangan.
Mereka menemui kepala sekolah dan menjelaskan duduk permasalahannya. Kepala sekolah akhirnya mengerti dan setelah berbicara dengan beberapa guru dan Angel tetap kukuh mau pindah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Saat keluar dari ruang Kepala Sekolah, Tegar mendengar bisik-bisik dari temannya jika Angel akan pindah sekolah, Tegarpun menjadi sedih. Dia lalu berlari kearah ruang kepala sekolah.
Tapi Angel sudah pergi dari sana, dan dengan kecewa, Tegar kembali ke kelas.
__ADS_1