
Brigit bertemu dengan Sarita saat pulang dari kerja. Sarita sudah pulang lebih dulu, dan menunggunya digerbang.
Setelah bertemu mereka lalu janjian pergi kesebuah taman kota. Mereka pergi dengan motor masing-masing.
Sampai ditangan kita, mereka duduk disebuah warung bakso. Lalu memesan bakso sambil Brigit mengatakan sesuatu pada Sarita.
"Bagaimana mas, apakah kau sudah bilang pada istrimu?"
Sarita menoleh pada Brigit sambil mengaduk minuman yang dia pesan dan meminumnya.
"Aku sudah mengatakanya. Dia sangat marah, dan ...."
Brigit terbayang kemarahan Martha kemarin saat dia mengatakan ingin menikah lagi.
"Aku ingin istrimu dan aku bisa akur setelah kita menikah Mas,"
"Itu tidak mungkin Sarita."
"Tapi mas, mungkin setelah kita berbicara dari hati ke hati maka mbak Martha akan mengerti."
Tiba-tiba, Abang tukang bakso datang lalu memberikan pesanan mereka.
Brigit segera memberikan satu untuk Sarita, menggesernya. Brigit mengambil saos dan kecap, juga sambal. Mengaduk bakso lalu memakannya.
Sarita juga melakukan hal yang sama, disini mereka biasa menghabiskan waktu untuk mengobrol sepulang kerja. Setelah itu mereka pergi ke penginapan untuk berbicara lebih pribadi.
Selesai makan, mereka pergi ke penginapan yang tidak jauh dari situ. Jika menyewa hotel maka Brigit tidak punya cukup uang, begitu pula Sarita.
Bercumbu dirumah Sarita, jelas tidak mungkin, karena ada anak-anak Sarita. Maka sepulang kerja biasanya setelah makan mereka pergi ke penginapan.
Tidak setiap hari, mereka ke penginapan dua hari sekali atau tiga hari sekali.
Tadi malam, Brigit tidak bisa menyalurkan hasratnya karena istrinya tidur dengan anak-anak nya dan mereka sedang bersitegang.
Karena itu, hari ini dia mengajak Sarita ke penginapan.
Mereka memarkir motornya, beberapa pegawai yang jaga sampai hafal wajah dua sejoli ini.
"Kamar atas pak," kata seorang pegawai sambil melirik Sarita.
"Kali ini biar aku yang bayar," kata Brigit mengeluarkan uang dan membayar dimuka.
"Sampai pagi tidak pak?" tanya seorang pegawai.
"Tidak, hanya empat jam saja," jawab Brigit.
"Baiklah, ini kembaliannya," kata pria itu.
Brigit lalu merangkul Sarita dan mengajaknya pergi kelantai atas.
Brigit langsung membuka pintu kamar dengan kunci yang di berikan padanya. Setelah itu mereka masuk kedalam danBrigit menguncinya kembali.
Nampak bantal dan sprei warna putih terhampar rapi. Brigit segera menjatuhkan tubuhnya di kasur itu.
Lalu dia menarik tangan Sarita.
__ADS_1
"Kemari sayang...." Brigit segera melepaskan bajunya.
Dan juga melepaskan baju Sarita. Mereka bercumbu dan majikan pemanasan.
Sarita menggelinjang, bahkan perutnya terlihat mulai membesar saat dia tidak memakai baju.
Brigit mengelus perut itu dengan lembut. Lu mencium dada dan turun ke perut Sarita. Membuat kaku Sarita melebar dan Brigit langsung melakukan tujuannya.
Mereka berdua nampak puas dan terengah-engah. Brigit memeluk Sarita ke dalam pelukannya dalam posisi miring.
Sementara Sarita membenamkan kepalanya kedada Brigit.
"Mas...."
"Hem..."
"Jangan seperti ini terus mas. Lebih baik kita segera menikah,"
"Mm,"
"Perutku semakin besar, dan aku ingin sebelum usianya empat bulan kita sudah menikah Mas,"
"Bagaimana jika menikah diri saja," kata Brigit sambil membersihkan miliknya dengan tissue.
"Aku ingin menikah resmi mas,"
"Aku tidak bisa menceraikan Martha,"
"Kalau begitu, dengan ijin istrimu maka kita bisa menikah secara resmi mas,"
Dia mandi dengan cepat. Selesai mandi duduk disamping Brigit yang sudah rapi.
"Kita harus duduk bertiga dan berbicara dari hati ke hati dengan mbak Martha mas," kata Sarita.
"Martha tetap tidak akan setuju. Satu-satunya jalan maka kita harus menikah siri saja,"
"Biar aku pikirkan caranya Mas, aku yakin mbak Martha akan mengerti,"
"......"
Mereka lalu duduk sambil sandaran dan menatap ke langit-langit kamar. Saat ini masih jam 8 malam. Biasanya mereka akan keluar dari situ jam 9 malam. Brigit pulang kerumahnya begitu pula Sarita.
Drt....
Ada telepon dari anaknya yang besar. Jika kedua orang tua Sarita datang kerumahnya.
"Halo..."
"Bu, ada kakek dan nenek dirumah ibu dimana?"
Kata Angel anaknya yang satu kelas dengan Tegar.
"Ohh, ibu ada lembur malam ini, sebentar lagi ibu akan pulang," jawab Sarita lalu menoleh pada Brigit.
"Mas, sepertinya aku akan pulang sekarang, ada orang tuaku dirumah datang dari kampung," kata Sarita.
__ADS_1
"Baiklah, ayo pulang sekarang!" Brigit segera bangun dan mengedarkan pandangannya keruangan.
Dia khawatir ada barangnya yang tertinggal. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal maka Brigit menggandeng Sarita keluar dari kamar.
Didepan pintu bertemu dengan tujuan yang biasa bersih-bersih dan nampak mengenali mereka berdua.
Brigit lalu mengangguk dan tersenyum, sementara Sarita tertunduk malu sambil terus berjalan.
Semua pegawai tahu, jika hampir semua orang yang datang adalah bukan dengan pasangannya. Melainkan datang dengan pacar gelap atau sejenisnya untuk menyalurkan hasrat mereka berdua.
Tidak ada pasangan yang akan datang ketempat ini. Hanya mereka yang melakukan hubungan gelap, yang akan datang kemari.
Setalah selesai dengan tujuannya, maka mereka akan pergi dan biasanya paling lama tiga jam. Jarang yang menginap sampai pagi.
Hampir rata-rata pengunjungnya adalah orang yang sama. Mereka bisa datang satu Minggu sekali, dua Minggu sekali atau satu bulan sekali.
Brigit menyalakan motornya dan juga Sarita. Mereka berpisah dipersimpangan jalan.
Mereka mengambil jalan masing-masing. Dan pulang kerumah seperti biasanya
Hari ini Brigit sampai rumah jam 8.30.
Martha sudah tahu kemana Brigit menghabiskan waktunya setelah pulang kerja. Dengan siapa lagi, jika bukan dengan kekasih gelapnya.
Martha membukakan pintu lalu meninggalkanya tanpa ada senyum manis penyambutan seperti biasanya.
Brigit menatap punggung Martha yang berjalan kemeja makan.
"Aku sudah menyiapkan makan untukmu, jika kau sudah makan, maka aku akan membereskanya," kata Martha datar.
Dalam hatinya Martha tahu jika mungkin Brigit sudah makan dengan kekasih gelapnya itu.
"Aku akan makan," kata Brigit setelah melepas sepatunya maka dia pergi ke meja makan. Dia merasa lapar setelah mengeluarkan tenaga dalamnya tadi bersama Sarita.
Martha mengambilkan piring dan akan berjalan kekamarnya. Tapi Brigit mencegahnya.
"Duduk disini ma, temani papa makan," kata Brigit.
Dengan enggan, Martha lalu duduk disamping suaminya.
Biasanya dia dengan senang hati melayani suaminya setelah pulang kerja. Dan dia berfikir jika Brigit setiap hari lembut dan bekerja keras demi ekonomi keluarga.
Tidak tahunya sepulang kerja dia bersenang-senang dengan kekasih gelapnya. Tentu saja sikapnya menjadi dingin setelah tahu jika suaminya berkhianat di belakangnya.
"Mama ngga makan?" tanya Brigit.
"Sudah tadi, bareng anak-anak," jawab Martha tetap datar. Dan memilih untuk tidak menatap suaminya.
"Papa suapin mau?"
"Ngga pa, mama masih kenyang,"
"Biar romantis gitu ma....sudah lama kita tidak seromantis ini," kata Brigit merayu Martha.
Martha menggelengkan kepalanya. Hatinya sudah terlanjur sakit dan terluka. Bahkan untuk senyuman yang dia berikan pada Brigit, semua itu hanya terpaksa. Karena mereka masih suami-istri dan tinggal satu rumah.
__ADS_1