
Brigit sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Martha dan kedua anaknya sedang sarapan sebelum mereka berangkat ke sekolah dan Martha ke toko.
"Ma, kemarin Tegar lihat papa ada dirumah Angel," kata Tegar.
"Siapa Angel?" tanya Martha.
"Itu ma, anaknya Tante Sarita," jawab Tegar.
"Ohh...." hanya itu yang keluar dari mulut Martha. Bagaimana pun dia menutupinya akan ada saatnya anaknya tahu segalanya. Apalagi mereka sudah besar sekarang.
"Lalu..." Martha nampak memancing apa yang Tegar pikirkan.
"Ya nggak sih, cuma aneh saja. Kan Tante Sarita itu sudah bercerai, jika berduaan dirumah bisa jadi fitnah kan ma?" kata Tegar yang sebenarnya juga memancing reaksi mamanya.
"Ehm, iya sih..."
"Ya sudah ma, ayo berangkat, nanti biar ngga telat," kata Tegar mengalihkan pembicaraan.
Dia sendiri tidak ingin membuat mamanya bersedih.
Martha segera mengambil kunci motor dan dia akan sekalian berangkat bekerja. Meskipun toko belum buka, tapi dia akan menemui seseorang.
Setelah sampai disekolah Brigit, Martha melihat ke sekeliling. Dia tidak melihat Sarita hari ini. Kedua anaknya sudah masuk kedalam. Martha lalu pergi kesebuah warung dan akan bertemu dengan seseorang.
"Sudah lama disini?" tanya Martha pada gadis remaja itu.
"Kamu tidak sekolah?" tanya Martha setelah mendapat pesan dari Angel, teman satu kelas Tegar.
Angel menggelengkan kepalanya.
"Darimana mendapat nomor telepon Tante?" tanya Martha penasaran.
"Dari Tegar,"
"Apakah tegar tahu kita bertemu?" tanya Martha lagi.
Angel hanya menggelengkan kepalanya.
"Apakah Tante tahu?" tanya Angel tiba-tiba.
"...." Martha mengangguk. Dia mengerti maksud dari pertanyaan itu tanpa disebutkan dengan jelas.
"Maafkan ibu saya Tante, tapi saya mohon, jangan sampai Tegar tahu. Aku sangat malu. Dan hanya dia satu-satunya teman Angel." kata Angel menatap pada Martha.
"...." Martha mengangguk tanpa berbicara.
Dalam hati dia sedih, melihat mata penuh duka dan tekanan dari Angel. Setelah perpisahan yang mungkin mengguncangkan hatinya, sekarang ibunya mencintai ayah dari temannya.
Pasti tidak mudah menerima kenyataan ini bagi anak seusianya.
"Tante berjanji, Tegar tidak akan tahu semua ini," kata Martha yang tidak ingin menambah luka pada hati gadis kecil itu.
"Terimakasih Tante..." kata Angel lalu beranjak pergi.
"Kau mau kemana? Ngga ke sekolah?" tanya Martha.
"Sudah telat Tante,"
"Mau pulang?"
Angel menggelengkan kepalanya.
"Mau Tante antar pulang?" tanya Martha.
__ADS_1
Angel menggeleng.
"Mau ke tempat kerjaan ayah saja," kata Angel lalu pergi dan menyetop angkot yang kebetulan lewat
Martha hanya bisa menarik nafas dalam dan panjang. Melihat punggung gadis itu hingga dia masuk angkot.
*
*
Malam ini Martha masih terjaga. Suaminya juga sama. Mereka duduk diruang tamu. Sementara anaknya sudah tidur.
"Sudah lama tidak duduk berdua seperti ini," kata Brigit tiba-tiba.
Martha menoleh dan tidak mengatakan apapun.
"Maafkan aku,"
Martha menggelengkan kepalanya dan tidak suka dengan kata yang baru saja diucapkan suaminya.
"Jangan terlalu sering meminta maaf. Untuk apa? Aku bahkan tidak suka mendengarnya kau mengucapkan setiap hari dan mengulangi lagi ke esokan harinya,"
"Ya....aku mencintai kamu dan dia. Itu kesalahan yang tidak bisa dimaafkan,"
Martha diam saja.
"Aku merasa tidak enak badan, bisakah kamu memijitnya?" tanya Brigit dan membuat Martha mendongak.
"...." Martha lalu mengangguk.
"Dikamar?" tanya Brigit.
Martha menggelengkan kepalanya.
Padahal niat Brigit adalah untuk mengulang kemesraan dengan istrinya. Dan berduaan dikamar untuk selanjutnya melakukan hubungan yang sudah lama tidak mereka lakukan.
"Ya sudah..." terpaksa Brigit menyetujuinya lalu membuka bajunya.
Saat Martha memijit suaminya, Tegar diam-diam mengintip dari pintu kamarnya.
Dia ingin tahu, apakah hubungan ayah dan ibunya baik-baik saja?
Melihat mereka tidak bertengkar dan saling berdekatan, maka hati Tegar menjadi tenang.
Dia lalu menutup pintunya kembali.
Ternyata dugaannya salah, dia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang papanya.
*
*
Dua bulan sudah berlalu.
Kandungan Sarita semakin terlihat membesar. Brigit sama sekali tidak bisa menyentuh Martha. Maka dia setiap hari pergi kerumah Sarita setiap dia menginginkan kehangatan dan menyalurkan hasratnya.
Malam ini, Brigit datang kerumah Sarita. Dan mereka melakukan hubungan seperti ya g sudah-sudah.
Pagi harinya, Angel terbangun pagi-pagi sekali dan melihat motor dihalaman karena dia memang keluar mengintip dari jendela.
Angel kaget dan shock.
Dia lalu duduk diruang tengah. Berharap pria itu akan keluar dari kamar ibunya.
__ADS_1
Sarita, seperti biasanya, sebelum fajar tiba, membangunkan Brigit dan menyuruhnya pulang.
Banyak tanda merah dileher dan dada Sarita akibat keganasan Brigit semalam. Berulang kali Brigit mencumbunya dan meninggalkan tanda kepemilikan itu.
Gaun yang Sarita pakai agak terbuka. Tanda itu terlihat jelas di lehernya serta dadanya.
"Mas, bangun mas. Cepat pulang!" kata Sarita dan Brigit membuka matanya.
Mencium bibir Sarita dan menggigitnya kecil.
"Kamu benar-benar kesayanganku," bisik Brigit.
"Enak ya mas...."
"Luar biasa. Bikin aku ketagihan, Rasanya tidak sabar menunggu nanti malam, lihat ni, masih berdiri," kata Brigit memperlihatkan senjatanya yang masih siap tempur.
"Ngga ah mas, sudah lagi. Nanti malah ketahuan," kata Sarita.
Brigit segera memakai bajunya, namun saat melihat Sarita membungkuk untuk merapikan kamarnya, Brigit tidak tahan, dan menunda memakainya.
Dia lalu menyibakkan gaun itu dan memasukkan miliknya disana.
"Ahh..." Sarita kaget dan merasakan hangat yang menyenangkan.
Tanpa pemanasan mereka bergoyang dan menikmati kemesraan itu.
Tidak lama Brigit segera mengakhiri aksinya dan merasa puas. Dia lalu memakai bajunya. Sarita merapikan gaunya dan keluar dari kamar.
Mereka berdua terkejut melihat Angel duduk disana.
Sarita segera mengambil sweater untuk menutupi semua tanda merah itu.
Angel terlanjur melihatnya dan merasa jijik dengan mereka berdua.
"Angel? Apa kau bangun dari tadi?" tanya Sarita dan Brigit hanya terpaku seperti patung.
Kaget dan malu.
"Mas, sebaiknya kamu pulang sekarang," Sarita menyuruh Brigit segera pulang sebelum Angel menumpahkan kemarahannya.
Brigit langsung keluar dan Angel berteriak padanya saat dia sampai dipintu.
"Aku tahu apa yang kalian lakukan? Kalian berselingkuh bukan! Jangan pernah datang kemari lagi om! Atau Angel akan berteriak dan memanggil tetangga!" Angel mengancam dengan nada tinggi meskipun dia masih anak-anak, tapi kali ini dia tidak punya pilihan.
Brigit segera meninggalkan rumah itu tanpa berbicara.
Sarita membekap mulut Angel.
"Kenapa? Ibu akan menampar Angel? Tampar saja! Demi pria itu!" Angel menantang ibunya dan membuat ibunya terdiam.
"Kamu masih kecil, kamu tidak tahu apa-apa. Jangan berbicara tidak sopan pada orang dewasa," kata Sarita.
"Hentikan semua ini Bu. Angel malu. Jika ada tetangga yang melihatnya bagaimana?" Angel panik.
"Sudahlah Angel. Masuk kekamarmu dan bersiap ke sekolah. Ibu tahu apa yang harus ibu lakukan. Kamu masih anak-anak, kamu tidak akan mengerti...."
"Ibu selalu menganggap aku anak-anak. Tapi aku tahu kenapa kalian bercerai dan kenapa ibu seperti ini," Angel lalu pergi kekamarnya dan menangis.
Sarita tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kali ini aksinya ketahuan oleh anak perempuannya. Bagaimana jika besok-besok ketahuan oleh tetangga?
Dia sekarang semakin yakin untuk segera menikah dengan Brigit.
Dan akan menemui Mbak Martha sekali lagi.
__ADS_1