
Tegar membawa rasa kecewa dan kesedihan nya hingga sampai dirumah. Dia pulang dan ternyata dirumahnya sedang ada kakek dan neneknya yang berkunjung dan akan menginap selama satu Minggu.
"Tegar, sudah pulang?" tanya kakek dan neneknya saat melihat Tegar masuk. Tegar lalu mencium tangan mereka. Terlihat Lucy sedang duduk bersandar pada neneknya.
"Kakek, nenek," Tegar langsung duduk didekat mereka. Melihat mereka datang, membuatnya merasa bahagia.
"Kakek sudah dari tadi?" tanya Tegar.
"Iya. Kakek sengaja tidak mengabari ibumu, tadi kebetulan Lucy sudah pulang. Jam berapa ibumu pulang?" tanya kakeknya.
"Jam 6 kek, kadang lebih cepat tapi kadang juga terlambat,"
"Ayahmu, pulang jam berapa?" tanya kakeknya lagi.
Tegar nampak menggelengkan kepalanya.
"Papa jarang pulang," kata Tegar.
"Kenapa begitu?"
"Lembur, kata mama," jawab Tegar dan segera mengalihkan pembicaraan karena tidak suka membicarakan tentang ayahnya saat ini.
Sore hari, Martha pulang dan kaget saat melihat kedua orang tuanya datang.
"Bapak, Ibu," Martha lalu mencium tangan mereka dan memeluknya.
"Kenapa tidak mengabari sehingga saya bisa pulang lebih awal?" kata Martha.
"Kami kangen dengan mereka," kata ibunya sambil melihat Lucy dan Tegar yang sedang menonton acara kesukaan mereka.
Martha tersenyum.
"Kamu agak kurusan Martha, jangan bekerja terlalu keras, jaga juga kesehatan mu," kata ibunya saat Martha duduk didekatnya.
__ADS_1
"Iya Bu," Martha tersenyum.
"Apakah suamimu jarang pulang?" tanya Ibunya pelan agar kedua anak Martha tidak mendengarnya.
Martha mengangguk beberapa kali.
"Lembur?" Ibunya mencoba memancing kejujuran putrinya.
Raut wajah Martha langsung berubah sedih. Beberapa kristal bening nampak mendesak disudut matanya.
Martha diam saja tak bergeming.
"Bu, maaf, Martha belum bisa mengembalikan uang yang saya pinjam," kata Martha tertunduk.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang penting pikirkan dirimu dan anak-anak mu. Ibu masih punya simpanan,"
"Martha benar-benar sedih. Setelah besar dan punya anak, masih saja merepotkan dan menyusahkan kalian," kata Martha lirih.
"Sudahlah Martha, jangan pikirkan kami. Yang bikin kami bahagia adalah saat melihatmu dan anak-anak mu hidupnya senang. Kami bisa mengurus diri kami sendiri, uang dari Iskan, lebih dari cukup untuk hidup kami berdua," kata Ibunya pada Martha.
"Iya Bu,"
Martha tidak ingin ayah dan ibunya mencemaskan pernikahanya, sehingga sebisa mungkin berusaha menutupi apa yang terjadi padanya.
Brigit mengatakan tidak bisa datang, karena dia harus menjaga anaknya karena Sarita sedang tidak enak badan.
Maka Martha harus membuat alasan agar kedua orang tuanya tidak curiga.
"Suamimu belum pulang juga?" tanya Ibunya saat Martha membereskan meja dan kedua anaknya sudah pergi kekamarnya.
"Tidak pulang Bu. Mas Brigit keluar kota," kata Martha berbohong.
Ibunya mengangguk lalu mengajak suaminya tidur.
__ADS_1
Pagi harinya, ayah Martha merasa tidak enak badan setelah melakukan perjalanan jauh, maka dia minta diantar oleh istrinya kepuskesmas terdekat.
"Martha, ibu akan mengantar bapakmu ke puskesmas, dimana yang paling dekat?" tanya ibunya.
"Biar Martha yang antar Bu," kata Martha.
"Tidak usah, anak-anak mu mau sekolah, kau urus mereka saja. Nanti kami bisa naik taksi kesana," kata Ibunya.
"Ini alamatnya Bu," Martha lalu menuliskan ya pada sebuah kertas, dan meminta ibunya memberikan pada sopir taksi.
Kedua orang tua Martha lalu pergi naik taksi ke puskesmas.
Dan mereka sampai disana tidak lama kemudian. Namun saat duduk dikursi antrian mereka terkejut saat melihat Brigit dan seorang perempuan bersama bayinya juga duduk disana.
Ternyata Brigit sedang mengantar Sarita berobat ke puskesmas itu.
"Pak, itu Brigit kan, suami Martha? Kata Martha dia pergi keluar kota. Kenapa disini dengan seorang perempuan, dan membawa bayi," bisik istrinya lirih karena mereka duduk di bangku paling belakang. Sedangkan Brigit dan Sarita duduk dikursi depan.
"Mana Bu?" nampak suaminya mencari kearah depan dengan matanya.
"Itu pak?" Istrinya menunjuk pada Brigit dan Martha yang sedang duduk berdekatan.
"Iya Bu, benar, itu suami Martha," kata suaminya.
"Ibu punya firasat buruk pak,"
"Lebih baik nanti kita tanyakan pada Martha saja kalau sudah sampai dirumah Bu," kata suaminya.
Tidak lama kemudian terlihat Brigit dan Sarita masuk ke sebuah ruangan. Beberapa saat disana, mereka keluar kembali dan berjalan melewati kedua orang tua Martha.
Brigit sedang menggandeng Sarita saat keluar, dan tidak melihat jika ada mertuanya disana.
Tentu saja hati ibu Martha terbakar melihat pemandangan itu. Dia teringat pada perjuangan Martha demi pria yang dia nikahi tanpa restu dari orang tuanya dulu.
__ADS_1
Dan sekarang pria itu telah menyakiti hatinya, maka ibu Martha tidak sabar untuk segera pulang dan menemui Martha.