
Begitu sampai dirumah, kedua orang tua Martha duduk diruang tamu dan masih membicarakan apa yang mereka lihat tadi.
Anak-anak Martha juga belum pulang sekolah. Mereka tidak habis pikir kenapa Martha menyembunyikan kenyataan dari mereka berdua.
Dan mengatakan jika Brigit pergi ke luar kota. Padahal mereka tadi jelas melihat suaminya datang bersama seorang wanita ke puskesmas yang juga mereka kunjungi.
"Jika Martha mau, kita ajak pulang saja Pak," kata ibunya.
"Dia sudah besar Bu, jika mau maka sudah dari kemarin dia akan kembali ke rumah kita, pasti dia punya pendapat lain hingga tetap bertahan disini," jawab suaminya.
"Tapi ibu sedih lihat dia kurus seperti itu pak, pasti ada tekanan batin yang dia pendam sendirian," Ibunya mulai emosional.
"Jika dia mau, tentu bapak juga senang kalau dia pulang. Daripada ikut suami tapi tidak bahagia. Tentu kita akan dengan senang hati menerimanya serta berkumpul dengan cucu-cucu kita," ujar suaminya melihat jauh ke jalanan dari tempat duduknya.
"Punya anak perempuan satu-satunya, kok nasibnya seperti ini ya pak? Punya suami, tapi masih bekerja keras dan lagi, suaminya juga jarang pulang,"
"Sudah Bu, lihat, itu anak-anak sudah pulang, nanti mereka sedih kalau kita membicarakan ayah dan ibunya," kata suaminya saat melihat Tegar dan Lucy pulang.
"Nenek, Kakek, lihat ini apa?" kata Lucy membawa sebuah mainan kecil.
"Putri duyung?" tebak neneknya sambil menyuruh mereka duduk.
"Iya, betul sekali," Lucy lalu membuka sepatu dan melepaskan tasnya.
"Makan sekarang ya, biar nenek siapin," kata neneknya saat kedua cucunya baru saja pulang.
__ADS_1
"Ngga usah nek, kami ambil sendiri saja," kata Lucy dan Tegar.
"Waahhh cucu-cucu ku ternyata mandiri, baiklah, setelah ini kalian makan ya...." kata neneknya dan dijawab anggukan kepala oleh Tegar dan Lucy.
Mereka memang sudah terbiasa mandiri sejak Martha membantu Brigit bekerja. Dirumah tidak ada siapapun, jadi Tegar akan membantu Lucy untuk mengambil makanan dan mereka makan bersama.
Malam harinya, saat kedua anaknya sudah tidur, Martha dan kedua orang tuanya masih duduk bertiga.
Kedua orang tuanya akan mengajak Martha untuk tinggal bersama mereka jika dia mau.
"Martha, kami tadi lihat suamimu ke puskesmas dengan seorang wanita," kata ibunya pelan.
Martha nampak terkejut dan tidak menduganya jika mereka bisa bertemu Brigit disana. Sementara Martha sudah terlanjur mengatakan jika mereka pergi keluar kota.
"Mungkin kalian salah lihat," kata Martha pada kedua orang tuanya tanpa berani menatap mata mereka.
"Tidak mungkin kami salah lihat. Dia duduk beberapa meter didepan kami. Martha, jangan merahasiakan apapun dari kami, katakan dengan jujur, apa yang sudah terjadi? Kenapa rumah tanggamu jadi seperti ini?" Ibunya berkata sambil menatap lekat wajah putrinya.
"Ehm, kami memang sudah sepakat untuk merahasiakan hal ini dari siapapun," Martha berkilah.
"Apa maksudmu? Kami ini orang tuamu? Kamu adalah putri kami, jika ada masalah ceritakan saja, setidaknya...." Martha tiba-tiba memotong pembicaraan ibunya.
"Bu, maafkan Martha, tapi biarkan saja tetap seperti ini."
"Martha...." Ibunya tidak habis pikir dengan prinsip anaknya. Dia hanya bisa menarik nafas dalam dan panjang.
__ADS_1
Bagaimana pun Martha memang sudah dewasa, sebagai orang tua, dia berusaha untuk membuka pikirannya. Namun, sepertinya Martha punya pendirian sendiri.
Saat ibunya akan berbicara lagi, tanganya dipegang olah ayahnya, dan membuat ibu Martha tidak jadi mengatakan apapun.
Suaminya memberi isyarat untuk tidak lagi membahas tentang apa yang mereka lihat tadi siang.
Kedua orang tua Martha lalu berpamitan kekamar. Sampai didalam kamar, mereka berbicara sambil berbisik-bisik.
"Sudah Bu, jangan dilanjutkan lagi, biarkan saja Martha memutuskan sendiri apa yang menjadi keyakinannya,"
"Tapi pak, ibu tidak tega melihatnya seperti ini," kata ibunya.
"Suatu saat, dia pasti kembali kerumah, mungkin sekarang belum saatnya," kata suaminya menenangkan istrinya.
Akhirnya istrinya mengangguk pelan dan berbaring disamping suaminya.
Sementara Martha menyeka air matanya setelah kedua orang tuanya pergi kekamar.
Martha duduk sambil melamun dan berfikir. Tapi, dia masih tetap ingin mempertahankan rumah tangganya apapun yang terjadi. Dia tidak yakin, Tegar dan Lucy bisa menerima kenyataan jika kedua orang tuanya berpisah.
Brigit tiba-tiba mengirim pesan pada Martha.
"Ma, besok papa pulang," kata Brigit karena Sarita sudah sehat kembali.
"Ya," jawab Martha lalu berdiri dan menutup pintu utama.
__ADS_1