
"Siapa yang mengatakan itu padamu?" Sarita malah balik bertanya.
"Tetangga ada yang melihat ibu bersama om Brigit. Kenapa ibu masih menemui pria itu?"
Sarita menatap tajam mata Angel.
Sarita lalu berjalan mendekati putrinya dan mengajaknya duduk karena dia berfikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakan jika dia akan menikah dengan Brigit.
Apalagi dia sudah tahu jika dirinya hamil, dan tetangga juga sudah mencurigainya. Sebelum dia benar-benar menjadi buah bibir masyarakat, maka dia akan mengambil tindakan.
"Duduklah bersama ibu, disini, ada yang akan ibu bicarakan denganmu," kata Sarita.
"Angel," Sarita menatap wajah Angel yang masih polos.
"Ibu dan ayahmu sudah berpisah, karena kami, orang dewasa telah memilih jika itu yang terbaik bagi kami, karena jika bersama, tidak bahagia, maka kami berpisah, untuk itu ibu minta maaf padamu," Sarita berbicara dengan nada pelan agar dimengerti oleh Angel dan dia tidak pergi meninggalkanya.
"Dan sekarang, ibu bertemu dengan pria denganya ibu merasa bahagia, Angel....kamu ingin ibu bahagia bukan?" Sarita menjebak Angel dengan pertanyaan yang sulit.
"Iya...." Angel mengangguk pelan.
"Jika begitu, kau tidak keberatan bukan jika ibu menikah lagi?"
"Tapi Bu...." Angel masih keberatan.
"Angel, banyak kok orang yang melakukan poligami, mereka juga hidupnya bahagia, dan bahkan mereka bukan dari kalangan masyarakat biasa, kadang, mereka adalah orang yang menjadi panutan banyak orang, coba kamu lihat berita di tv. Poligami itu sudah bukan hal yang akan membuatmu malu," kata Sarita berfikir keras mencari kata-kata yang tepat.
"Bu, masalahnya hanya tegar satu-satunya teman Angel. Jika ibu menikah dengan ayahnya, maka Tegar pasti akan membenciku," kata Angel.
"Jangan khawatir, sementara semua ini kita rahasiakan, karena ibu sudah hamil Angel, jadi ibu harus menikah....tapi ibu janji, semua ini akan kita rahasiakan dari temanmu itu,"
Angel menatap ibunya.
Tidak setuju dengan pemikirannya. Namun dia juga kasihan pada ibunya yang sudah hamil. Dan juga anak yang dikandung oleh ibunya.
Angel akhirnya luluh dan mengangguk.
Sarita memeluk Angel erat.
"Makasih sayang," bisik Sarita pada putrinya itu.
Angel lalu masuk kekamar dan tidur. Sementara Sarita langsung memberitahu Brigit jika anaknya sudah setuju mereka menikah siri.
Maka Sarita mengatakan agar Brigit dan dia menikah dalam waktu dekat.
Drt....
Saat ini, Brigit sedang duduk bersama Martha, setelah makan malam.
Martha melirik handphone yang bergetar itu. Brigit segera membaca pesan dari Sarita lalu menatap Martha.
__ADS_1
*
*
Satu Minggu kemudian, Brigit dan Sarita menikah siri. Dan malam itu Brigit menginap dirumah Sarita.
Brigit lalu mengirim pesan pada Martha jika dia tidak pulang dan menginap dirumah Sarita. Mereka sudah menikah secara siri, dia memberitahu Martha.
Martha tidak membalas pesan suaminya, dan menaruh handphone diatas meja.
Hanya butiran kristal yang jatuh ke pipinya, meskipun sudah berusaha dia tahan agar tidak menangis, tapi tetap saja dia terpukul dan kecewa.
Sekarang suaminya sudah benar-benar melakukan poligami, dan akan sering menginap dirumah Sarita. Maka satu pekerjaan Martha menjadi berkurang yaitu menyiapkan makan malam.
Meskipun dia berusaha kuat dan sabar, tetap hatinya terasa perih dan sakit. Terbayang apa yang saat ini sedang dilakukan suaminya, dia bersenang-senang dengan wanita itu.
Martha memejamkan matanya, mengatakan kata-kata yang bisa menguatkan hatinya, agar tidak menangisi suami tak berguna itu.
Dia terus memberikan motivasi untuk hatinya dan dirinya sendiri. Agar rasa sakit itu tidak menghancurkan dirinya dari dalam. Dan agar dia tetap bisa melewati hari dengan semangat demi kedua buah hatinya.
"Tidak Martha, tetap harus kuat, jika sampai kau tertekan, sedih, dan sakit, lalu siapa yang akan menjaga Tegar dan Lucy, harus kuat demi mereka," Martha bergumam lirih untuk dirinya sendiri.
Martha lalu berjalan menutup pintu gerbang, karena suaminya tidak pulang malam ini.
*
*
"Ma, papa ngga pulang?" kata Tegar yang bangun dimalam hari dan melihat kamar papanya kosong.
Martha diam sesaat. Haruskan dia berbohong?
"Ehm, tidak," jawab Martha.
"Emang, papa kemana ma, kok tidak pulang?"
"Ohh, bekerja."
"Lembur?"
"Iya,"
"Ehm, papa hebat ya ma, papa sampai lembur begitu kerjanya,"
Martha menatap Tegar sambil tersenyum. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya.
Biarlah sampai saat ini, sosok papanya masih menjadi pahlawan terbaik dan terhebat bagi kedua anaknya. Agar mereka tetap bersemangat dan mendapatkan figur hanya yang baik saja.
Keburukan sikap papanya, biar cukup aku yang tahu....bisik Martha dalam hati.
__ADS_1
Sampai disekolah, Martha melihat Angel berjalan tertunduk dan sepertinya naik angkot. Setelah Tegar dan Lucy masuk kedalam, Martha lalu menyapa Angel.
"Angel...." sapa Martha membuat Angel terkaget dan mendongak.
Dia terkejut bertemu dengan ibu dari Tegar yang suaminya malam ini menginap dirumahnya dan mereka sudah menikah siri.
Angel merasa malu dan sungkan, dia akan lari tapi Martha segara memegang tangannya.
"Aku sudah tahu semuanya, jangan khawatir," kata Martha menatap raut wajah Angel.
Angel menatap balik Martha dan kaget lalu mengangguk.
"Kau pergi naik angkot?"
"Iya Tante,"
"Ya sudah, sana masuk kedalam," kata Martha yang dia juga sedih melihat Angel yang justru dia anggap telah dewasa.
Tegar tidak tahu jika ayahnya melakukan poligami, sedangkan Angel telah tahu segalanya dan Martha berfikir itu pasti tidak mudah diterima oleh akalnya yang masih polos.
*
*
Sepulang sekolah Angel menghindar dari Tegar, kendati begitu Tegar mengejarnya hingga sampai ke gerbang.
"Angel tunggu!" teriak Tegar.
Angel akhirnya berhenti.
"Ada masalah apa? Dari tadi pagi kau terlihat sedih dan murung, apa ada yang mengganggumu lagi?" tanya Tegar yang melihat sikap Angel yang lebih murung dari biasanya.
Dia bahkan hanya dikelas dari berangkat hingga pulang. Tidak keluar makan dan berkumpul dengan teman-temannya.
"Tidak ada," jawab Angel.
"Lalu kenapa kau tidak keluar dari tadi? Kenapa dikelas terus?" Tegar melihat Angel sedang tertunduk dan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku sedang malas,"
"Kita pulang bareng ya," ajak Tegar.
"Ngga! Ngga! Jangan! Aku pulang sendiri. Jangan kerumahku jika aku tidak mengundangmu!"
"Angel kau kenapa?"
"Pokoknya jangan! Jika sampai kau kerumahku, maka....aku tidak mau berteman denganmu lagi!" kata Angel lalu masuk kedalam angkot yang kebetulan berhenti didekatnya.
Tegar semakin bingung dengan ultimatum yang aneh dari Angel.
__ADS_1
Sementara Angel ketakutan jika sampai Tegar tahu ayahnya menikah siri dengan ibunya. Bahkan ayahnya semalam sudah tinggal dirumahnya.
Jika sampai Tegar tahu dan berita itu tersebar, maka Angel tidak akan bisa sekolah lagi disana. Selain malu, tatapan dari semua temannya pasti akan penuh kebencian, menghakiminya.