Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Ancaman Martha


__ADS_3

Brigit pulang kerumah dengan hati yang gelisah. Sepanjang perjalanan pulang, dia terus berfikir bagaimana akan berbicara dengan Martha.


Jam 21.00 malam.


Martha menemani Lucy dikamarnya, dan mendengar motor suaminya yang berhenti dihalaman rumah.


Martha lalu melihat Lucy yang sudah tertidur pulas, dia segera berjalan keluar untuk menemui suaminya.


Suaminya tersenyum pada Martha, senyum yang berbeda dari biasanya. Seperti ada kecemasan dari senyum yang ditunjukkan.


"Masuk mas, baru pulang? Apa lembur lagi?"


"Eh, iya..." jawab Brigit.


Sebenarnya Martha tahu jika suaminya tidak lembur, dia hanya sedang menguji kejujuran Brigit. Dan masih sama seperti yang dulu, dia terbiasa berbohong.


Martha tersenyum kecut.


Mereka duduk dimeja makan. Martha membuka tudung saji. Lalu menyiapkan makanan untuk suaminya.


Selesai makan, biasanya Brigit akan langsung mandi namun kali ini dia duduk lama di meja makan dan terus menatap wajah Martha.


Hati Brigit berdebar, setelah Martha membereskan meja makan dia memanggilnya agar duduk didekatnya.


"Ma,"


"Iya mas," Martha menoleh.


"Duduk sini ma..."


Martha lalu duduk berhadapan dengan Brigit.


"Ma...ada yang ingin papa katakan..." Bibir Brigit nampak kelu dan bergetar saat akan mengatakan keinginannya.


"Katakan saja pa,"


"Ini soal Sarita,"


"Ohh, wanita itu lagi?" Martha akan bangun dari duduknya.


Tangan Brigit segera menggenggam tangan Martha yang diatas meja.


"Jangan pergi ma. Pikirkan sekali lagi, dia sudah hamil, aku harus menikahinya..."


"Mas...berapa kali sudah aku katakan, aku tidak mau poligami, nanti bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga pasti tidak mau."


"Papa benar-benar bingung, jika harus memilih satu dari kalian, jika kau tidak mau mengalah kali ini, maka aku terpaksa akan menikahinya ma, kau setuju atau tidak," kata Brigit.

__ADS_1


"Jika kau sudah memutuskan untuk berbuat begitu, aku bisa apa pa? Tapi jika kau tanya pendapatku maka aku tetap tidak mau poligami," kata Martha.


"Aku sudah mengakui kesalahanku, aku juga sudah mengalah dan kita tidur terpisah, apa sebaiknya kita bercerai saja?"


"Apa!? Kita bercerai? Setelah semua pengorbananku untukmu selama ini sekarang kau ingin bercerai? Kau lupa? Aku meninggalkan keluargaku demi dirimu, dan sekarang ini yang aku dapatkan?" Nada suara Martha mulai meninggi.


"Jika begitu aku harus bagaimana?" Brigit memegang kepalanya sendiri dengan kedua tangannya karena pikiranya yang buntu.


"Tinggalkan wanita itu Mas, kita sudah punya Tegar dan Lucy. Anak itu bisa kau urus tanpa harus menikahinya," kata Martha pada Brigit.


"Masalahnya...aku..." Brigit tidak meneruskan ucapannya, takut bertambah melukai hati Martha jika dia mengucapkannya.


"Kau mencintainya? Itu yang akan kau katakan bukan?" Martha tidak kuasa menahan bening kristal yang menggenang. Meskipun dia tahan agar dirinya tidak menangis.


"Ya. Aku mencintai kalian berdua. Kalian berdua adalah orang yang penting dalam hidupku, dan aku tidak ingin kehilangan salah satu dari kalian,"


"Kau benar-benar egois mas!"


"Ma...lihatlah aku, aku masih mencintaimu, cintaku masih sama seperti dulu," kata Brigit.


"Jika kita sampai bercerai Mas, aku yakinkan padamu, bahwa aku akan memenangkan hak asuh mereka berdua. Dan jika itu sampai terjadi, maka aku akan membawa mereka pergi jauh darimu. Kau tidak akan bertemu mereka lagi seumur hidupmu," ancam Martha dalam kemarahan.


"Ma...jangan bilang seperti itu. Jangan bawa anak-anak pergi dariku," kata Brigit.


"Aku mempertahankan mu demi kebahagiaan mereka mas, meskipun aku tahu aku tidak bahagia sekarang. Tapi aku tetap bertahan agar mereka berdua bahagia. Tapi jika kau hancurkan hati mereka, aku tidak rela,"


"Sudahlah mas, aku tidak mau membahas ini lagi. capek! Aku mau tidur!"


Keesokan harinya,


Brigit sudah ditunggu Sarita pagi-pagi sekali. Sarita tidak sabar untuk bertemu Brigit dan menikah dengannya.


"Mas, gimana hasilnya? Apakah kalian akan bercerai?" tanya Sarita dengan wajah bersinar.


"Tidak," jawab Brigit pelan.


"Gimana sih mas? Terus aku dan bayiku bagaimana?" Sarita menyolot dengan nada tinggi.


"Dia mengancam akan membawa anak-anak pergi jika sampai aku menceraikan nya. Aku tidak mau kehilangan anak-anak ku,"


"Mas, aku benar-benar kecewa padamu. Kau tetap kalah dari istrimu itu. Kau itu kepala rumah tangga. Kau yang harusnya membuat keputusan bukan dia!" suara Sarita meninggi.


"Maafkan aku Sarita, jika kau mau mari kita menikah siri. Aku sudah lelah membujuk Martha dan bertengkar dengannya," kata Brigit membuat Sarita menangis.


Sarita masih sesenggukan saat Budi lewat dan menghentikan motornya sebentar.


Namun saat melihat Brigit ada didekatnya, maka dia lalu melajukan motornya kembali. Tadi dia pikir, Sarita sendirian, ternyata dia sedang bersama kekasihnya itu, pikir Budi mantan suaminya.

__ADS_1


*


*


Angel sedang pulang kerumah dan bertemu beberapa tetangganya yang suka usil. Maka saat Angel lewat, tetangganya itu bertanya padanya.


"Angel, jam segini batu pulang sekolah?" tanya tetangganya itu.


"Iya, Mpok, ada les tambahan tadi," jawab Angel sopan.


"Oh ya, kemarin aku melihat ibumu ditaman dengan seorang pria, dan aku lihat ibumu sepertinya sedang hamil, apakah kau akan punya ayah baru?" tanya tetangganya itu.


"Apa?"


Angel ternganga dan langsung tidak suka dengan apa yang di ucapkan tetangganya itu.


"Masa sih jeng?" kata temanya disampingnya.


"Iya, perutnya itu kan biasanya langsing, kemarin terlihat seperti sedang hamil," kata tetangganya itu.


"maaf Bu, mungkin Ibu Sarita memang gemuk, jadi perutnya agak gendut, jangan suudzon, tidak baik lho Bu....nanti ujung-ujungnya jadi fitnah..." kata teman yang satu lagi.


"Angel? Dimana dia?" Mereka tidak sadar jika Angel sudah pergi sambil menangis mendengar apa yang diucapkan tetangganya itu.


*


*


Sampai dirumah Angel langsung masuk ke kamar dan menangis. Jika benar apa yang dikatakan tetangganya itu, artinya apa yang dia takutkan akan menjadi kenyataan.


Ibunya akan menikah dengan ayah dari Tegar. Dan jika itu sampai terjadi, maka dia akan menanggung malu didepan Tegar dan juga semua temannya.


Semua akan bilang jika ibunya wanita yang tidak baik dan tidak bisa menjaga kehormatannya. Dan dia, tidak sanggup mendengar hinaan itu dari teman juga dari tetangga dirumahnya.


Maka Angel tidak tidur meskipun sudah jam 21.00 malam.


Ibunya baru saja pulang, diapun langsung keluar dan melihat ibunya dipintu, baru akan masuk.


Angel langsung memperhatikan perut ibunya, dan ternyata benar, perutnya memang terlihat gemuk tidak seperti biasanya.


Sarita heran melihat Angel yang menatap perutnya seperti itu.


"Ada apa? Tumben kau belum tidur? Besok sekolah bukan? Sudah malam, pergilah tidur, ibu akan mandi," kata Sarita.


Angel tak bergeming.


"Bu, ibu tidak hamil kan?"

__ADS_1


Membuat Sarita kaget dan menoleh padanya.


"Siapa yang mengatakan itu padamu?" Sarita malah balik bertanya.


__ADS_2