Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Cemburu


__ADS_3

Brigit masih terbakar api cemburu saat Sarita masuk kedalam rumah dan menidurkan bayinya. Brigit berjalan dibelakangnya hingga lalu duduk didekatnya.


"Lain kali jika ingin bertemu dengannya kau harus bilang padaku," kata Brigit membuat Sarita menoleh.


"Maksudmu, Mas Budi? Apakah kau sedang cemburu dan berfikir yang tidak-tidak padaku?" Sarita merasa tidak nyaman dengan tatapan Brigit.


"Kau sekarang istriku, sebaiknya tidak menemui pria lain tanpa ijinku," kata Brigit tegas.


"Aku sekalian melihat Angel, aku rindu padanya,"


"Kali ini tidak apa, tapi lain kali kau bisa menemui Angel disekolah,"


Sarita menatap Brigit sejenak dalam diam.


Tak ingin berdebat dengannya dia mengangguk pelan.


"Ini uangnya, aku pinjam dari Martha," kata Brigit.


Sarita menerima uang itu dan menyimpan dalam dompetnya.


"Ayo tidur sekarang," kata Brigit menatap Sarita.


Mereka lalu masuk kedalam kamar.


"Apakah sudah selesai?" tanya Brigit.


"Aku belum KB Mas, tunggu sampai aku ke dokter, aku tidak ingin sampai hamil lagi," kata Sarita.


Brigit terlihat kecewa namun dia mengangguk.


*


*


Beberapa hari kemudian, Brigit dan Martha serta kedua anaknya pergi jalan-jalan, karena ingin menyenangkan Lucy dan juga Tegar.


Mereka pergi ke sebuah wahana. Setelah itu pergi ke tempat futsal mengantarkan Tegar dan Brigit yang akan bermain futsal.


Mereka akan bermain dan sudah menggunakan kaos dan sepatu bola. Tiba-tiba, handphone Brigit berdering, dia segera mengangkatnya.


Ternyata itu telepon dari Sarita, bayinya demam dan dia ingin agar Brigit segera datang.


Brigit menutup telepon dan menatap wajah Tegar sesaat.


"Papa, sepertinya harus pergi, ada hal mendesak, bagaimana kalau kita tunda futsalnya," kata Brigit lalu segera mengambil tasnya dan keluar dari sana dengan tergesa-gesa.


Sementara Tegar terlihat sangat kecewa lalu berjalan pelan keluar dan menemui Martha.


"Kok sudahan?" tanya Martha kaget.


"Papa harus pergi, jadi kata papa ditunda futsalnya," kata Tegar dengan malas.


"Dimana papa?" tanya Martha yang karena saking paniknya, Brigit tidak berpamitan padanya.


Dia segera pergi ke parkiran motor dan pergi dari tempat itu.


Martha mencari Brigit dengan matanya kesekeliling tempat itu.

__ADS_1


Martha nampak mengangguk. Melihat Tegar yang kecewa, maka dia menawarinya untuk menonton film.


"Bagaimana kalau setelah ini ke bioskop?" tanya Martha.


Tegar menggeleng pelan masih memperlihatkan rasa kecewanya.


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang sekarang," kata Martha sambil berdiri.


Tiba-tiba, seorang tetangga Sarita yang satu kerjaan dengan Brigit menegur Martha.


"Mbak, kamu istrinya mas Brigit kan?"


"Ehm, iya, ada apa ya?" Martha menatap wanita itu.


"Mbak hebat ya? Mau poligami dengan wanita lain, kalau saya mbak, tidak akan bisa tegar seperti mbak Martha," kata wanita itu tidak peduli jika ada Tegar dan Lucy disana.


Membuat Martha kaget dengan perkataanya dan terlebih tatapan Tegar.


"Ya sudah ya mbak, saya masuk duluan," kata wanita itu yang mengantarkan anaknya juga.


"Hai Tegar, masuk lagi yuk!" kata temannya.


"Ngga, aku udah capek. Mau pulang," kata Tegar dengan raut wajah berubah.


Dia kaget mendengar jika papanya melakukan poligami dan dia tidak tahu hal itu.


Martha terdiam seperti patung dan hanya melihat perubahan wajah tegar.


Mereka lalu naik ke motor dan pulang.


Tegar duduk disamping ibunya.


"Ma, apa benar yang dikatakan Tante tadi? Papa poligami Ma? Papa menikah lagi?" Pertanyaan tegar membuat seketika apa yang dia coba sembunyikan seakan harus dia katakan dengan jujur.


Martha menatap Tegar dengan lembut.


"Kata siapa?" Martha tersenyum tipis.


"Tante tadi bilang begitu," kata Tegar.


"Jangan didengarkan, mungkin dia salah orang," kata Martha pada Tegar.


"Tidak mungkin Ma, aku kenal dengan anaknya. kami satu sekolah, dan dia pernah berbicara dengan papa saat disekolah," kata Tegar.


Martha diam saja. Dia berusaha menghindari topik ini dan tidak ingin membahasnya.


"Tegar, kau akan mandi setelah Lucy," kata Martha mengalihkan pembicaraan.


"Ma, kenapa papa jarang pulang? Apakah papa tidak bekerja? Apakah papa punya istri lagi?"


"Sebenarnya papa tidak lembur kan Ma?"


Martha bingung dengan pertanyaan Tegar.


Tiba-tiba, Lucy keluar dari kamar mandi.


"Kak, sana mandi!" teriak Lucy lalu masuk kamar.

__ADS_1


"Tegar, mandi lah dulu, setelah itu baru mama juga mau mandi," kata Martha yang tidak menghiraukan pertanyaan dan rasa ingin tahu Tegar.


Tegar nampak kecewa dengan sikap mamanya yang tidak mau terbuka padanya. Dia segera bangkit dan mandi.


Martha mengusap air dari sudut matanya. Dia tidak ingin mengganggu pikiran bocah itu dengan masalah rumah tangganya.


*


*


Keesokan harinya, beberapa teman sekolahnya didalam kelas sedang berbisik-bisik. Seorang anak bernama Exel mengatakan jika ayah Tegar dan ibu Angel menikah dan mereka sekarang menjadi saudara tiri.


Hal itu membuat Angel dari tadi pergi ke kamar mandi dan menangis disana.


Dia malu pada semua temannya dan tidak berani menemui mereka. Tegar yang melihat jika didalam kelas, tidak ada Angel segera mencarinya keluar kelas. Dia mencari kesana kemari.


Dan saat melewati kamar mandi dia mendengar suara tangisan dari dalam kamar mandi wanita.


"Angel! Kau didalam! Keluarlah!" kata Tegar dengan panik.


Lama Angel tidak mau keluar namun karena bel masuk berbunyi maka Angel keluar juga.


Dia menatap sinis pada Tegar.


"Angel, kau tidak apa-apa?" Tegar nampak khawatir saat melihat Angel keluar dari kamar kecil.


"Ini semua karena ayahmu! Ayahmu jahat, ayahmu sudah merebut ibuku dan aku benci pada kalian!" kata Angel yang berfikir jika Ibu Tegar tidak bisa memegang rahasia dan membocorkan semua ini.


Angel berlari kedalam kelas, disusul oleh Tegar.


Semua teman menoleh pada mereka berdua, sementara Guru mata pelajaran juga sudah berdiri dibelakang Angel dan Tegar.


Angel dan Tegar segera duduk di bangku mereka masing-masing.


Teman-teman mereka melihat mereka dan tersenyum melecehkan.


Angel tertunduk dan tidak berani menatap satu temannya satupun.


Tegar hanya memperhatikan Angel dari tempat duduknya karena pelajaran sudah dimulai.


Saat bel berbunyi seorang bernama Axel mendekati Angel dan berbisik di telinganya.


"Panggil dia kakak, kalian sekarang saudara tiri, hahahaha!" Axel langsung tersungkur saat mendapat pukulan dari Tegar.


Semua teman yang menyaksikan pun kaget dan panik.


Sementara Angel menatap Tegar dengan sinis dan tajam.


Angel lalu keluar dari kelas dengan tas sekolahnya dan meninggalkan kelas sambil berlari.


Sementara satu orang melapor pada wali kelas dan nampak seorang guru masuk dan mendekati Axel.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Bu Indah.


"Dia!" semua orang menatap Tegar.


"Ikut ibu ke kantor!" seru Bu Indah sambil dibantu oleh teman-temannya menggotong Axel ke ruang kesehatan.

__ADS_1


__ADS_2