Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Naif


__ADS_3

Di kantor Raflesia, Iskan sedang berbicara serius dengan seorang teman sekolahnya yang bertetangga dengan Sarita.


Adit rumahnya tepat didepan rumah Sarita, sehingga dia sedikit banyak tahu bagaimana pria bernama Brigit itu menikah siri dengannya.


"Kau tahu siapa wanita itu?" tanya Iskan yang penasaran siapa gerangan wanita yang sering dikunjungi oleh kakak iparnya.


"Ohh, dia namanya Sarita, mantan istrinya Pak Budi. Tapi sekarang sudah menikah siri dengan pria bernama Brigit. Jarang ada istri yang sabar menghadapi pria macam itu," kata Adit.


"Apa!?" Iskan terkejut bukan kepalang mendengar jika kakak iparnya ternyata telah menikah siri dengan tetangga Adit.


"Kau kenal dia? Kau kelihatan terkejut?" tanya Adit balik saat melihat reaksi Iskan.


"Ehm, tidak," jawab Iskan.


Iskan lalu pergi ke meja kerjanya. Dia mengirim pesan pada kakaknya. Dan meminta bertemu sepulang kerja.


Saat ini Martha sedang membereskan barang-barang ditokonya. Begitu melihat pesan dari adiknya, hatinya merasa sangat senang.


Dia bersyukur, hubunganya kembali membaik sekarang.


Bagaimanapun, dia juga sangat menyayangi adik kandungnya itu.


Iskan sekarang sudah pulang dari kantor dan akan ke toko menemui kakaknya. Sampai ditoko, ternyata kakaknya juga sudah menunggunya.


"Tokonya sudah tutup?"


Martha mengangguk sambil tersenyum saat melihat Iskan sudah didepannya.


"Aku tutup cepat,"


"Ayo kekafe itu," kata Martha lalu mengajak adiknya berjalan ke kafe tidak jauh dari tokonya.


Mereka duduk dan memesan minuman.


"Mbak, aku datang karena ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi,"


"Maksudmu?" Martha tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Iskan.


"Mbak, jujur, aku sering melihat suamimu keluar pagi-pagi dari rumah seorang wanita. Dan temanku, rumahnya tepat didepan rumah wanita itu. Dia mengatakan mereka sudah menikah siri, apakah mbak sudah tahu kelakuan pria brengs*k itu?" Kata Iskan menatap tajam ke arah Martha.


Dia memang tidak pernah suka dengan kakak iparnya yang menurutnya adalah pria tidak baik.


Martha kaget dengan pertanyaan Iskan.


Akhirnya dia mengangguk pelan.


"Jika sudah tahu, tinggalkan pria itu mbak, Kau masih punya harga diri, untuk tidak hidup bersama pria tidak berguna itu," Iskan emosional karena kasihan dengan kakaknya.


"Tidak Iskan, mbak tidak bisa meninggalkan nya,"

__ADS_1


"Kenapa mbak? Apakah mbak begitu mencintainya hingga menutup mata pada apa yang sudah dia perbuat?"


"Aku tahu, semua orang akan mengatakan hal itu? Aku punya pendirian lain Iskan. Demi anak-anak ku, maka aku akan melakukan apapun, agar mereka tetap bahagia,"


"Tapi yang mbak lakukan ini, menyakiti diri mbak sendiri? Pria itu, akan semakin semena-mena karena tahu kelemahan mbak Martha,"


"Biarkan Iskan, selama anak-anak ku masih kecil, biarkan saja tetap seperti ini. Jika mereka sudah dewasa, maka aku baru bisa bercerai,"


"Mbak terlalu naif," Iskan tidak percaya dengan prinsip kakaknya yang rela diperlakukan tidak adil oleh suaminya.


"Aku pikir, kau akan berubah setelah tahu belangnya," kata Iskan.


Martha menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, jika mau mbak seperti itu, apa boleh buat. Sebagai adik, aku tidak terima kau disakiti oleh suamimu,"


"Terimakasih Iskan, kau peduli dengan kakakmu, tapi, maafkan aku, aku tidak bisa meninggalkanya,"


Iskan lalu berdiri dan meninggalkan Martha sendirian.


Martha menatap Iskan yang terlihat kecewa karena kakaknya tetap tidak mau meninggalkan pria yang sudah menyakitinya.


*


*


Kehidupan dirumah Sarita.


"Susunya habis mas," kata Sarita pada Brigit,


"Apakah punya kamu tetap tidak bisa keluar? Sehingga dia bisa minum asi?" kata Brigit yang ingin lebih irit dan tidak membeli susu formula.


"Tidak mas. Sudah aku coba dengan berbagai cara tapi tetap tidak keluar," kata Sarita.


"Aku ngga punya uang Sarita, gajiku sudah aku berikan untuk kamu dan Martha," kata Brigit.


"Terus ini gimana mas?"


"Ya sudah, aku akan cari uang pinjaman," kata Brigit lalu keluar rumah.


Brigit lalu mengendarai motornya dan akan mencari pinjaman untuk kebutuhan harian yang menjadi lebih besar.


Dengan dua istri maka membuatnya kewalahan dalam mencukupi ekonomi keluarga dengan gaji pas-pasan.


Dia lalu pergi kerumah Martha, dan dengan dalih menjenguk anaknya dia ingin meminjam uang padanya.


"Papa...." teriak Lucy berlari memeluk papanya. Martha yang sedang menyiapkan makan malam lalu menoleh ke arah pintu.


Tegar juga tersenyum melihat papanya datang.

__ADS_1


"Asyik, papa tidak lembur," kata Tegar.


"Mau makan sekalian mas," kata Martha pada suaminya.


"Boleh," jawab Brigit ringan.


Mereka lalu duduk bersama dan makan malam layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Canda tawa dari bibir kedua anaknya membuat hati Martha semakin yakin dengan pilihannya untuk bertahan.


Kedua anaknya lalu mengajak papanya kekamar dan mereka bermain di kamar anak-anak. Sementara Martha membereskan meja makan.


"Papa tidur sini kan?" kata Lucy yang sesaat membuat Brigit teringat pada niatnya datang, yaitu untuk meminjam uang.


Terpaksa Brigit mengangguk.


Setelah kedua anaknya tidur, Brigit lalu menemui Martha yang sedang melihat pembukuan di tokonya.


"Pa, apakah mereka sudah tidur?" tanya Martha menoleh saat pintu nya terbuka.


"Sudah, baru saja," jawab Brigit berjalan mendekat.


"Ma, apakah kau punya sedikit uang, aku sedang kesulitan, aku pinjam uangmu jika ada," kata Brigit.


Ingin rasanya Martha berbohong dan bilang tidak punya. Tapi entah kenapa, dia tidak tega melihat wajah suaminya itu.


"Ada, pa, tapi tidak banyak," kata Martha.


"Ini... hanya ini yang aku punya," kata Martha memberikan uang dua ratus ribu pada suaminya.


"Ya, ini sudah cukup ma, aku punya hutang pada temanku, dan aku akan membayarnya sekarang, dia sangat butuh katanya," Brigit mulai berbohong. Martha percaya pada ucapan suaminya karena terlihat memelas.


Brigit lalu berpamitan pada Martha dan akan ke rumah Sarita untuk memberikan uang itu. Tapi ternyata Sarita malah tidak ada dirumahnya.


Sarita panik saat anaknya terus menangis dan dia tidak punya uang. Dia lalu menemui mantan suaminya, Budi dan meminjam uang padanya.


Dengan dalih kangen sama Angel, dia meminjam uang pada Budi.


Dan saat Brigit akan keluar mencari Sarita, tidak lama ada tukang ojek berhenti didepan rumahnya.


Ternyata itu adalah Budi yang mengantar Sarita pulang.


Wajah Brigit memerah melihat mantan suami Sarita mengantarkan istri sirinya itu.


Namun Sarita nampak berjalan dengan tenang dan menyapa Brigit setelah Budi pergi.


"Kenapa bisa bersama mantan suamimu?" tanya Brigit dengan bara dimatanya.


"Aku panik mas, bayi kita menangis terus minta susu, aku ngga punya uang, makanya aku pinjam Mas Budi, nanti akan aku kembalikan setelah aku kerja kembali," kata Sarita.


"Sudah aku bilang aku sedang cari pinjaman," kata Brigit emosi.

__ADS_1


"Kau lama sekali mas, aku pikir kau tidak pulang, dan bagaimana aku bisa membiarkan dia menangis sepanjang menunggumu," kata Sarita dengan nada tinggi juga.


__ADS_2