
Siang ini, Martha sedang membersihkan ruang tamu, kedua anaknya sedang bermain diluar. Suaminya sedang dikamar istirahat.
Hari ini adalah hari Minggu, semua anggota rumah itu berkumpul dirumah.
Seperti hari-hari sebelumnya, saat hari Minggu, maka Martha akan bersih-bersih rumah dan merawat tanaman dihalaman.
Dia telah menggunting tanaman yang mulai terlihat berantakan agar rapi. Setelah itu membersihkan seluruh dapur, kamar lalu terakhir ruang tamu.
Tiba-tiba, Lucy berlari kearahnya, "Ma, ada tamu digerbang" kata Lucy memberitahu mamanya.
"Suruh masuk saja," jawab Martha lalu dengan cepat merapikan ruang tamu dan berjalan kedapur untuk cuci tangan, dan akan menyambut tamu itu.
Seorang wanita cantik berdiri dipintu, mengangguk ramah pada Martha.
"Silakan masuk," kata Martha.
"Iya mbak, namaku Sarita," kata Sarita memperkenalkan diri.
Wanita ini sudah sering Martha lihat di sekolah Tegar, dia sering berdiri dipinggir jalan itu saat Martha mengantarkan Lucy ke sekolah.
Begitu dia menyebut jika namanya Sarita, jantung Martha seakan pecah,
Jadi ini wanita yang dicintai suaminya? Yang ada di handphone suaminya dan menjadi kekasih gelapnya?
Kaki Sarita menjadi kaku dan matanya melebar, namun dia tahan. Dia ingin tahu, kenapa wanita ini berani datang kerumahnya?
"Duduklah, aku akan mengambilkan minum," kata Martha tidak seramah tadi, tapi lebih ke ekspresi dingin.
Martha pergi kedapur untuk mengambilkan minuman. Sarita menatap ke sekeliling rumah itu. Dan berfikir, dimana Brigit saat ini? Kok tidak terlihat? Itu yang Sarita pikirkan. Hingga terlihat Martha keluar dari dapur dengan dua minuman.
Sarita lalu mengalihkan pandangannya.
"Minumlah," kata Martha.
"Terimakasih," jawab Sarita.
"Aku datang kesini, untuk berbicara dari hati ke hati denganmu," kata Sarita.
"Tentang apa? Sepertinya kita tidak saling mengenal," Ujar Martha.
"Suamimu mengenalku. Kita sudah lama saling mengenal," kata Martha.
"Lalu?" Martha ingin tahu tujuan Sarita datang. Perempuan ini sungguh bernyali besar, pikir Martha.
__ADS_1
Sarita menarik nafas dalam dan panjang.
"Aku hamil anak mas Brigit..." kata Sarita.
"Hhhh," Martha mendesah dan sudah tidak kaget karena suaminya sudah mengatakanya beberapa hari yang lalu.
"Kenapa bisa hamil anak suamiku? Apakah kau tidak tahu jika dia pria beristri dan punya dua orang anak? Apakah dia mempe*kosamu ?"
Martha menatap tajam tepat ke bola mata Sarita.
"Tidak, kamu saling mencintai..." kata Sarita berterus terang.
"Ohh, kalian saling mencintai? Lalu kalian berselingkuh di belakang ku? Apakah kau memikirkan bagaimana perasaanku mendengar pengakuan mu? Kau juga seorang wanita, anakmu satu kelas dengan anaku. Apakah kau tidak malu melakukan semua ini? Menghancurkan kebahagiaan rumah tangga orang lain? Dan datang ke rumah istri sahnya? Mengakui perbuatan kalian?"
"Maafkan aku mbak, aku berniat baik untuk datang karena aku pikir mbak bisa berbicara dari hati ke hati,"
"Apa niatmu datang kemari?" Tanya Martha, sudut bibirnya ditarik kebawah, tanda kalau ada kesedihan diwajahnya.
"Aku ingin meminta ijin mu untuk menjadi istri kedua mas Brigit secara sah. Aku harap kau bisa menerima kenyataan ini,"
"......" Suasana menjadi hening.
"Kemarin mas Brigit juga mengatakan hal yang sama, dan aku menolaknya. Apakah kekasih gelapmu itu tidak bercerita padamu hingga kau harus datang kemari?" Martha menatap intens menunjukkan kemarahan dari sorot matanya yang berusaha dia tahan.
"Sudah mbak, itulah yang membuat saya datang dan berbicara secara langsung ke mbak Martha. Saya sudah hamil, dan ini anak mas Brigit. Saya mohon pengertian mbak Martha, untuk mengijinkan aku menjadi istri kedua secara sah,"
"Aku akan membiayai hidupku sendiri, dan gaji mas Mas Brigit utuh untuk Mbak Martha. Tapi saya mohon, ijinkan mas Brigit menikah lagi," tambah Sarita sambil memohon seraya meneteskan air mata.
"Aku sangat kecewa dengan kalian berdua. Dan aku tidak bisa memberikan ijin itu. Aku tidak bisa berbagi suami dengan wanita manapun," jawab Martha.
"Bukankah di agama kita poligami diperbolehkan? Lalu kenapa kau menolaknya, saat kau tahu jika aku dan suamimu secara terbuka meminta padamu, kami saling mencintai, kau tahu?"
"Ohh, sekarang kau datang atas nama cinta dan keyakinan tentang poligami? Kau tahu, kalian sudah melanggar salah satu syariat agama, yaitu berzina. Sebaiknya jangan bawa nama agama. Aku sungguh malu mendengar sebuah keyakinan dari mulut pendosa,"
"Mbak, mari kita melakukan poligami. Kau akan masuk surga jika kau mengijinkanya," kata Sarita.
"Aku masuk surga dan kau akan ke neraka, begitu?"
Kata Martha dengan sangat kesal.
"Mbak....."
"Pulanglah Sarita, aku tidak ingin anakku tahu kau datang dan ada keributan di rumahku,"
__ADS_1
Dan saat berbicara begitu, Sarita memohon dikakinya sambil menangis. Membuat Brigit terbangun karena mendengar suara Sarita dari kamarnya.
Brigit lalu keluar dan melihat Sarita sedang memegang kaki Martha sambil menangis.
Brigit tidak kaget dan tidak tahan melihat Sarita memohon di kaki Martha.
"Sarita, apa yang kau lakukan?" Brigit datang dan memegang bahu Sarita lalu membangunkanya.
Pemandangan itu membuat hati Martha berdarah dan remuk.
Dia tidak mampu menahan kemarahannya lagi.
"Antarkan wanita ini pulang, aku tidak mau melihat wajahnya lagi. Jangan membuat keributan dirumahku," kata Martha pada Brigit.
"Pulanglah Sarita, sudah ku bilang jangan datang kemari, tapi kenapa kau datang?"
"Mas...aku ingin bicara langsung dari hati ke hati dengan istrimu. Tapi dia sungguh keras kepala...." kata Sarita dan terdengar oleh Martha.
"Sarita, pulanglah, aku tidak ingin anaku sedih karena kau datang, apakah kau masih punya malu? Jika begitu, aku, pemilik rumah ini, mengusirmu, maka pergilah sekarang," kata Martha dan Brigit menoleh ke arah istrinya.
Ada air mata menggenang di wajah Martha.
Karena Brigit tidak ingin membuat suasana bertambah panas, maka dia mengajak Sarita keluar dari rumahnya.
Martha memandang punggung dua orang itu yang menjauh dan keluar dari halaman.
Dia terduduk disofa dan mengusap airmatanya.
Pria yang dia nikahi atas nama cinta telah berbagi hati dan menduakan cintanya.
Padahal Martha sudah meninggalkan keluarganya demi pria yang sekarang menjadi suaminya.
Keyakinannya akan cinta suaminya dulu, membuatnya melawan keluarganya. Keluarga Martha tidak setuju dengan pilihan hatinya.
Mereka mengatakan jika dia bukan pria yang baik. Namun nasehat itu menguap begitu saja saat hatinya dipenuhi rasa cinta pada pria pilihanya.
Semua nasehat seakan mental dan tidak sampai ke hatinya.
Dia kabur dengan Brigit dan menikah lalu punya anak. Dan sejak pergi dari rumah, hubunganya dengan kedua orang tuanya dan juga keluarganya terputus.
Brigit melarangnya, dan masih atas nama cinta dia buta akan apa yang tidak bisa dia lihat dari kepribadian suaminya.
Suaminya ternyata telah mengkhianatinya, dibelakangnya, bukan hanya sekali tapi berkali-kali.
__ADS_1
Dengan wanita yang berbeda, namun baru dengan Sarita, suaminya sampai meminta ijin untuk menikah lagi. Sarita hamil, namun selain karena hamil, Martha melihat ada banyak cinta dimata suaminya untuk wanita itu.
Martha sangat mengenal suami yang di cintai ya dengan cinta buta. Sehingga dia bisa merasakan jika Brigit sangat mencintai Sarita saat ini.