
Sepulang kerja, Martha terus memikirkan darimana mendapatkan uang lima juta dalam satu malam?
Akhirnya dia teringat pada kedua orang tuanya. Dan hanya mereka satu-satunya yang Martha harapkan bisa menolongnya.
Besok pagi, Martha akan pergi menemui mereka untuk meminjam uang.
Sementara Brigit, saat ini sedang bersama Sarita dan juga bayinya. Tadi para tetangga datang di acara syukuran kelahiran bayi laki-laki yang dia beri nama Arsyad Fallah.
Kebahagiaan jelas terlihat dari wajah Sarita dan Brigit. Namun Angel tidak nampak diacara itu. Hari ini dia sudah mengirim pesan pada ibunya akan menginap dirumah ayahnya, Budi.
Angel tetap tidak bisa menerima kehadiran ayah barunya. Dia mulai merasa tidak nyaman berada dirumah ibunya.
Maka dia mulai berbicara pada ayahnya untuk tinggal bersamanya.
"Ayah, hari ini, Angel akan menginap disini, boleh?" tanya Angel saat menunggu ayahnya dikerjakannya dan sekarang mereka dalam perjalanan pulang.
"Tentu saja, kenapa tidak?"
Ayahnya tersenyum pada putrinya dengan hati yang senang. Dia memang sangat menyayangi Angel, namun karena Sarita memenangkan hak asuhnya maka dia tidak menuntut demi kebahagiaan putrinya.
Namun sekarang, dengan sendirinya putrinya datang padanya, maka itu merupakan hal yang sangat dia tunggu selama ini.
*
*
Hari ini Martha mengajak Tegar dan Lucy untuk pergi kerumah kakek dan neneknya. Hal itu membuat mereka terkejut karena tidak sedang liburan sekolah.
"Tapi, hari ini kan tidak sedang liburan ma," kata Tegar.
"Mama sudah minta izin sama guru kalian, kita hanya sebentar, setelah itu langsung pulang" kata Martha.
"Tidak menginap ma?"
"Tidak sayang, begitu sampai, istirahat sebentar, kita lalu pulang, besok kau bisa sekolah,"
"Kenapa tidak menunggu hari Minggu saja ma,"
"Tidak bisa nak, ini sudah sangat mendesak,"
Tegar lalu mengangguk tanpa bertanya lagi.
Mereka bertiga memesan taksi dan pergi ke terminal. Lalu naik bis agar lebih murah dan cepat sampai. Perjalanan yang ditempuh kira-kira empat jam dan lumayan melelahkan.
Mereka tiba disana saat matahari sepenggalah.
Kedua orang tua Martha kaget saat ada taksi yang berhenti tepat dihalaman rumahnya.
"Siapa itu pak?"
"Coba kamu lihat?" kata suaminya.
Begitu keluar, ibunya melihat Martha dan kedua anaknya sudah turun dari taksi, dia senang mereka datang lagi.
__ADS_1
"Kakek, nenek....!" Tegar dan Lucy berteriak lalu berlari ke arah mereka.
Mereka berpelukan, sedangkan Martha berdiri dibelakang kedua anaknya.
"Ayo masuk nak,"
Mereka lalu masuk kedalam. Saat ibunya kedapur untuk menyiapkan minum, Martha mengejarnya dan mereka berbicara didapur.
"Bu, Martha kesini karena ada keperluan,"
"Keperluan?" Ibunya menatap Martha sambil mengambil beberapa gelas bersih.
"Kami tidak menginap Bu,"
"Datang jauh-jauh kenapa tidak menginap?"
"Mereka harus sekolah,"
"Katakan, ada apa?" kata Ibunya sambil memasukkan teh dan gula.
"Martha butuh uang Bu, apakah ibu punya simpanan. Nanti akan Martha kembalikan," kata Martha lirih, takut terdengar oleh kedua anaknya.
Ibunya menatap Martha penuh kasih sayang. Lalu tersenyum padanya.
"Berapa yang kamu butuhkan?"
"Lima juta Bu, nanti Martha akan cicil setiap bulan," kata Martha.
"Ya, ibu ada simpanan, nanti akan ibu ambilkan," kata Ibunya pada Martha.
Martha akhirnya merasa lega karena ibunya punya simpanan dan bisa meminjaminya uang.
Mereka lalu keluar keruang tamu dan bercerita. Saat ini kedua anak Martha Inging bermain diluar dengan kakeknya, maka ibunya segera memberikan uang itu dalam sebuah amplop pada Martha.
"Ini uangnya," kata Ibunya sambil memberikan uang lima juta.
"Bu, maafin Martha, sudah merepotkan ibu. Bukanya memberi, tapi malah menyusahkan," kata Martha dengan sedih.
"Sudah, jangan kau pikirkan, gunakan uang itu untuk keperluan mu, tidak usah kau pikirkan untuk segera mengembalikan. Yang penting, kamu berkecukupan, jangan sampai kedua anakmu kekurangan," nasehat ibunya.
Martha mengangguk lalu memeluknya.
"Maafin Martha Bu, dari dulu selalu menyusahkan kalian, tidak bisa memberi, malah meminta," kata Martha menyesalinya.
"Sudah nak, jangan berfikir begitu, ibu tidak papa. Kau dan anak-anakmu yang penting bahagia. Kenapa Brigit tidak ikut kemari?" tanya ibunya.
Martha tertunduk lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Dia lembur Bu. Dia bekerja keras dan kami tetap masih kekurangan," kata Martha menutupi kesalahan suaminya.
"Ya sudah, tetap bersyukur saja. Apakah cicilan rumahmu belum lunas?" tanya ibunya.
"Belum Bu, motor juga belum lunas. Karena itu, Martha membantu mas Brigit bekerja agar kami berkecukupan," kata Martha tidak berani menatap mata ibunya.
__ADS_1
Tiba-tiba Iskan datang bersama istrinya.
"Lihat siapa yang datang?" kata kakeknya saat membawa Iskan masuk.
"Mbak Martha?" Iskan dan istrinya kaget. Martha segera memasukkan amplop putih kedalam tasnya.
Nella lalu memeluknya karena baru berjumpa saat ini setelah menjadi bagian dari keluarganya.
"Martha..."
"Nella..."
Mereka lalu berpelukan, dan Iskan menatap kakaknya dengan penuh selidik.
Dia sudah curiga dalam hati, jika pria yang di cintai kakaknya itu pasti telah membuatnya menderita dan membuat masalah baginya.
"Dimana mas Brigit?" Iskan memancing pembicaraan.
"Ohh, dia sedang sibuk kerja, lembur terus," jawab ibunya dan diiringi anggukan oleh Martha.
Martha berdebar dan takut jika adiknya akan membuka rahasia Brigit dan Sarita.
Iskan menarik kedua bibirnya kebawah, tanda jika dia tidak percaya pada jawaban itu.
Ibunya lalu mengajak mereka makan bersama. Hatinya sungguh senang kedua anaknya itu akur kembali.
Martha lalu berpamitan dan sudah memesan taksi. Setelah kepergian Martha, Iskan berbicara pada ibunya saat mereka hanya berdua saja.
"Bu, kenapa mbak Martha datang? dan tidak menginap? Apa ada masalah?" tanya Iskan.
Ibunya sesaat akan berbicara jujur pada Iskan, namun melihat kedua saudara itu baru saja akur, maka dia tidak ingin memperkeruh hati Iskan.
"Dia hanya kangen dengan ayah dan ibu, lalu datang," kata ibunya.
"Ohh,"
Iskan mengangguk lalu masuk kekamar beristirahat bersama istrinya dan bayinya.
Ibunya juga masuk kekamar dan disana suaminya sedang mencari amplop berisi uang yang dia simpan dilaci.
"Cari apa pak?" tanya istrinya.
"Itu Bu, uang dari Iskan, amplop berisi lima juta, kemarin bapak simpan disini." kata suaminya.
"Itu pak, Martha meminjam uang itu."
"Martha? Apa suaminya tidak bekerja?"
"Kerja pak. Tapi kan dia masih punya cicilan rumah dan motor, dia butuh uang untuk bayar sekolah Tegar dan Lucy."
"Apa Iskan tahu Bu?" tanya suaminya.
"Sebaiknya jangan beritahu pak, hubungan mereka baru saja baik. Dan itu uang dari Iskan, jika diberikan pada Martha, maka ibu takut dia kecewa," kata istrinya.
__ADS_1
"Kasihan hidup anak perempuan kita ya Bu,"
"Habis mau gimana lagi pak, kita sudah berusaha yang terbaik untuknya. Tapi dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri," kata istrinya.