Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi

Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi
Ingkar janji


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Iskan sedang berbicara dengan istrinya, Nella. Iskan melihat Brigit tinggal dirumah seorang wanita. Dan sering melihat Brigit pagi-pagi berangkat dari sana.


"Aku melihat suaminya mbak Martha, Nella. Sering sekali keluar dari rumah wanita itu,"


"Mas mungkin salah lihat," sanggah Nella istrinya.


"Tidak mungkin jika salah lihat. Aku melihatnya berulang kali,"


"Jika kamu cemas mas, temui mbak Martha dan tanyakan padanya?" nasehat Nella.


Iskan menggelengkan kepalanya. Berat baginya untuk menemui kakak kandungnya itu. Setelah mereka tidak pernah berkomunikasi selama bertahun-tahun.


"Aku tidak bisa menemuinya," kata Iskan.


"Tapi kenapa mas, bagaimana pun kalian itu saudara kandung. Kesalahan mbak Martha karena meninggalkan keluarga, juga sudah lama sekali. Setidaknya, lihatlah kedua keponakanmu mas, kasihan mereka," kata Nella istrinya.


Nella merasa iba pada mbak Martha kakak iparnya. Terlihat Iskan sedang berpikir dengan serius.


Tidak lama kemudian Iskan pamit untuk pergi. Nella mengangguk dan berharap jika suaminya mau menemui kakaknya dan hubungan mereka membaik.


Iskan keluar dan mencari toko kakaknya, dimana dia bekerja. Dia tidak mau menemui kakaknya dirumah, dia tidak suka bertemu dengan pria bernama Brigit. Meskipun dia adalah kakak iparnya. Dia tidak suka dengan kelakuan pria yang dicintai oleh kakaknya itu.


Akhirnya dari jauh dia melihat Martha sedang duduk sendirian. Perlahan, Iskan masuk dan mereka bertemu pandang.


"Iskan, cari apa? masuklah," kata Martha segera bangun dan berdiri menyambut adik yang sangat dia rindukan selama ini.


Iskan berjalan masuk mendekati kakaknya.


"Duduklah," kata Martha senang akhirnya adiknya mau menemuinya setelah sekian tahun mereka bersitegang.


"Mau minum apa?" tanya Martha.


"Tidak usah mbak, aku hanya sebentar," kata Iskan.


"Ya sudah, ini saja ya," kata Martha memberikan minuman jus dingin kemasan dari kulkas kecil di tokonya.


Martha menatap wajah adiknya dan sudah lama mereka berpisah tidak pernah bertemu.


"Aku datang karena ada hal yang mengganggu pikiranku," kata Iskan.


"Ada masalah apa? Apa bapak dan ibu sehat?"


"Mereka sehat, aku mengkhawatirkan Tegar dan Lucy keponakan ku," kata Iskan.


"Mereka sedang sekolah, jika kau ingin bertemu mereka datanglah kerumah," kata Martha.


"Aku tidak ingin bertemu pria itu," jawab Iskan masih kesal dengan suami Martha.

__ADS_1


"Ohh," Martha kaget.


"Aku sering melihat suamimu keluar dari rumah seorang wanita. Apakah dia mengkhianati mbak Martha?"


Martha kaget dan melongo mendengar apa yang baru saja dikatakan Iskan.


"Ehm, itu...." Martha nampak menjadi gagap.


"Jangan berbohong mbak, benar kan, pria itu mengkhianati mbak Martha?"


Martha diam saja. Tertunduk.


"Jika kau sudah tahu dia ada dirumah wanita itu, maka Mbak mohon, jangan sampai Tegar dan Lucy tahu jika ayahnya tidur dirumah orang lain,"


"Tapi kenapa mbak? Harga diri mbak sudah diinjak-injak oleh pria itu, mbak masih saja membelanya,"


"Aku memikirkan anak-anak Iskan. Aku tidak mau mereka tahu ayahnya punya wanita lain dan melukai perasaan mereka berdua,"


"Kau selalu membela pria brengs*k itu, dari dulu kau tidak berubah mbak," Iskan terlihat kesal melihat sikap kakak kandungnya.


"Iskan, jika kau sudah tahu, aku mohon, rahasiakan ini, jangan sampai ayah dan ibu juga tahu," kata Martha memohon.


Iskan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap kakaknya itu.


Ada pelanggan yang akan membeli, maka Iskan segera pamit kendati pembicaraan belum selesai.


Martha mengangguk dan melihat Iskan pergi meninggalkan toko, sementara dia akan melayani pembeli.


*


*


Dan sampai kini Martha hanya mengatakan jika ayahnya lembut empat hari dalam satu Minggu.


Kedua anak Martha juga sudah terbiasa dan tidak bertanya lagi dimana ayahnya. Mereka tahu ayahnya bekerja keras dan lembur seperti yang sering dikatakan ibunya.


Hari ini Martha mendengar kabar jika Sarita melahirkan. Brigit mengabarinya melalui pesan.


Brigit dan Martha memang jarang berbicara sejak Brigit memutuskan untuk poligami dan menikah siri dengan Sarita.


Saat Brigit pulang, Martha hanya akan bertanya beberapa hal penting saja, setelah itu menyibukkan diri dengan anak-anaknya. Dia dan suaminya jarang bercanda lagi seperti dulu.


Jika harus berbicara agak panjang, biasanya hanya saat didepan anak-anak saja.


Martha membaca pesan itu dan menghela nafas dalam.


Keesokan harinya setelah Sarita melahirkan, Brigit datang menemui Martha saat dia akan berangkat bekerja.


"Pa, kau disini?" Martha kaget saat melihat suaminya sudah ada dibelakangnya.

__ADS_1


"Iya, aku butuh bantuanmu,"


"Bantuan?" Martha menatap Brigit dengan bingung.


"Iya, apakah kau punya simpanan uang, ma? Sarita tidak bisa melahirkan secara normal, dan aku kekurangan uang untuk membawanya pulang hari ini." Kata Brigit yang akan membawa Sarita pulang dari rumah sakit.


Dan sebelum membawanya pulang, syaratnya harus melunasi biaya selama dirawat.


"Ada, tapi itu untuk biaya sekolah Brigit pa," kata Martha.


"Aku pinjam dulu ma, nanti papa kembaliin," kata Brigit memelas.


Martha menarik nafas panjang dan dalam. Berfikir sejenak dan dia tidak tega melihat Brigit kucel seperti itu.


Martha lalu masuk dan mengambil uang, lalu dia berikan pada Brigit.


"Makasih ma, aku pinjam dulu, nanti aku akan kembaliin, aku kerumah sakit dulu ya ma,"


Martha mengangguk dan melihat suaminya melajukan motornya dengan kencang.


Dia juga tidak tahu apakah yang dia lakukan ini benar atau tidak? Dia menolong suaminya yang sedang kebingungan. Padahal suaminya sudah menyakitinya, juga wanita itu.


*


*


Satu bulan sudah berlalu, dan sampai hari ini Brigit belum mengembalikan uang yang dia pinjam. Martha mulai cemas dan khawatir.


Dia lalu mengirim pesan pada Brigit, menanyakan uangnya.


Siang harinya Brigit datang ke tokonya saat makan siang.


"Pa, kok bisa datang kemari? Apa libur?" tanya Martha kaget. Karena tidak biasanya suaminya datang ke tokonya siang-siang begini.


"Ma, aku mau minta maaf, aku belum bisa mengumpulkan uang untuk yang papa pinjam, dan....bulan ini papa juga hanya bisa kasih separo gaji ke mama,"


Martha kaget.


"Apa? tapi besok aku harus membayar untuk sekolah Tegar pa. Kau kan tahu, sekolah di sana biayanya mahal," kata Martha setengah kesal.


"Sarita tidak bekerja ma, dia baru saja melahirkan, jadi papa yang harus membiayai untuk makan sehari-hari,"


"Hhhh..." Martha hanya menatap suaminya dengan rasa kesal dan bercampur aduk.


"Maaf ya ma, sekarang papa harus pergi ke kantor lagi," kata Brigit dan langsung pergi meninggalkan toko tempat istrinya bekerja.


Sekarang, Martha yang kebingungan. Dia hanya mendapatkan separo gaji dari Brigit. Mereka juga masih punya cicilan motor, dan lagi untuk biaya sekolah besok, Martha harus cari kemana?


Dalam waktu yang sudah mendesak, mencari pinjaman lima juta bukanlah hal yang mudah. Sedangkan pinjam bosnya, tidak mungkin, bahkan hutangnya dulu masih dicicil. Dan lagi sekarang dia hanya mendapatkan nafkah hanya separo gaji suaminya.

__ADS_1


Martha menahan nafas dalam, didalam kepalanya sedang berfikir keras untuk mencari pinjaman.


__ADS_2