Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
1. Lamaran Mendadak


__ADS_3

Kak,


Bapak ** Habibie pernah berkata,


Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu diubah menjadi sebuah kelebihan untuk selalu mencintai.


Kak,              *


Sayyidina Ali Bin Abi Thalib juga pernah berkata,


Mencintai satu orang itu biasa, tapi mencintai satu orang yang sama berkali-kali itu luar biasa.


Kak,


Aku memang bukan Ibu Ainun yang luar biasa.


Bukan juga Fatimah binti Muhammad, wanita sholehah penghuni surga.


Namun Kak,


Jika diijinkan, aku ingin mencintaimu layaknya Ibu Ainun pada Pak Habibie.


Juga mendampingimu seperti Fatimah Az-Zahra yang setia pada Sayyidina Ali.


Kak,


Aku meminta ijinmu,


Untuk mencintaimu dengan ridho Allah.


Untuk menyebut namamu di setiap sujudku, agar bisa mengetuk pintu Allah agar menyatukan kita dalam ikrar yang suci.


Salam, Danisa Ainun Mahya.

__ADS_1


Aduh, pipiku pegal sekali karena sedari tadi terus menerus tersenyum. Aku memang selalu seperti ini ketika menulis sebait surat untuknya, lelaki yang kukagumi.


Ini sudah surat yang ke lima puluh tiga, surat yang kutulis khusus untuknya, namun aku tak punya keberanian sama sekali untuk memberikan surat itu kepadanya. Lalu, aku apakan suratnya?


Tentu saja aku simpan baik-baik hingga saatnya nanti akan aku berikan kepadanya. Kapan? Tidak tahu. Jadi tolong doakan saja agar aku berjodoh dengan lelaki itu. Narendra Errabbani.


Kak Rendra adalah seniorku di kampus, sudah memasuki semester akhir. Ia juga berperan penting sebagai asisten dosen. Selain itu, setiap dua kali seminggu ia akan mengajar tahfidz di pondok pesantren yang tak jauh dari kampus.


Aku mengenalnya saat tak sengaja harus berurusan dengan Pak Jafran, dosen Ilmu Fikih, yang ternyata saat itu tak bisa menemuiku sehingga melimpahkan tugasnya pada Kak Rendra. Terima kasih ya Pak, berkat bapak saya jadi bisa mengenal lelaki luar biasa itu.


Iya benar. Kak Rendra itu luar biasa di mataku. Bagaimana tidak? Ia lelaki sholeh yang tidak pernah lupa dengan Sang Pencipta. Ia juga sopan, sangat menghargai wanita, dan selalu menundukkan pandangannya. Ia pintar, di usianya yang baru dua puluh dua tahun, ia sudah berhasil menghafal tiga puluh juz Al-Qur’an. Tak lupa selalu meraih IPK tertinggi di angkatannya.


Sungguh, bagaimana bisa Allah menciptakan manusia dengan ketaatan dan otak brilian sepertinya?


Lalu bagaimana denganku?


Tentu saja, aku hanyalah wanita biasa. Bukan si pintar ataupun si sholehah seperti Kak Rendra. Lucu ya? Aku yang seperti ini, berani memimpikan seorang lelaki seperti Kak Rendra.


Tapi tak apa, aku tak pernah putus asa terhadap perasaanku.


Aku tersenyum lagi, menyangga dagu dengan kedua telapak tanganku. Aku memandangi sajak yang kutulis untuk Kak Rendra sekali lagi. Berharap bahwa nantinya aku akan mempunyai kesempatan untuk memberikan semua surat ini untuknya.


TOK TOK!


Suara ketukan di pintu terdengar ketika aku sedang larut dalam khayalanku. Tak lama setelahnya, tampak kepala Umi menyembul dari balik pintu dan tersenyum kepadaku.


“Nisa, Umi sama Abi mau bicara sebentar, bisa?” tanya Umi dengan nada pelan dan lembut.


Ya, aku selalu mengagumi Umi. Bagaimana beliau selalu bertutur kata halus kepada siapapun, tak hanya kepada anak-anak dan suaminya, namun juga semua orang. Beliau juga berperan sebagai istri yang baik untuk Abi, memperlakukan Abi selayaknya raja.


Pun kepada anak-anaknya, Umi selalu bersikap lembut. Tak pernah sekalipun melontarkan makian atau bertindak keras, sekalipun anak-anaknya terkadang sangatlah susah diatur.


“Baik Umi, Nisa pakai jilbab dulu setelah itu keluar,” jawabku balas tersenyum.

__ADS_1


Umi mengangguk dan segera menutup kembali pintu kamarku. Aku menyambar pashmina yang kugantung di belakang pintu. Melilit kain panjang itu untuk menutupi rambutku yang mulai bertumbuh panjang hingga sepinggang. Tentu saja setelah terlebih dulu menggelung rambutku agar tidak berhamburan ke mana-mana.


Aku keluar kamar setelah lima menit kemudian. Sepanjang perjalanan ke ruang tengah, aku bertanya-tanya apa yang akan Umi dan Abi bicarakan kepadaku, melihat raut wajah Umi yang walaupun tersenyum, aku yakin sekali bahwa Umi sebenarnya sedang menyimpan masalah.


Ketika aku tiba di ruang tengah, sudah ada Abi dan Umi yang sedang menjamu seorang tamu. Aku mengernyit melihat perawakan tamu itu, seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Seorang bapak-bapak berusia kiranya setengah abad lebih, tebaknya setelah melihat ubannya menyembul dari balik kopiah yang ia kenakan. Kumis hitam tebal, namun memancarkan aura ramah dan berwibawa.


Aku menunduk sopan dan tersenyum tipis ketika tamu itu memandangku yang duduk segera duduk di sebelah Umi segera setelah tiba di ruang tengah. Abi dan tamu itu masih asyik berbincang, sedangkan aku melempar tatapan tanya pada Umi yang hanya dibalas gelengan pelan oleh beliau.


Aneh sekali. Kenapa hanya aku yang dipanggil? Ke mana ketiga adikku yang lain, si Ghina, Nurul dan Adnan?


“Malam Dek Nisa, masih ingat saya?”


Tamu Abi itu tersenyum ramah, melontarkan pertanyaan yang entah harus aku jawab apa. Aku hanya tersenyum, agak tak enak hati untuk menjawab tidak karena mungkin saja bisa membuat bapak itu malu. Karena jujur, aku tak ingat.


“Silahkan langsung ke inti masalahnya saja Pak Usman,” kata Abi memulai pembicaraan.


Entah mengapa perasaanku sedikit tidak nyaman. Apa mungkin karena tidak ada adik-adikku di sini? Tentunya membuat aku berpikir buruk bahwa ini semua pasti hanya masalah untuk orang dewasa.


“Jadi begini Dek Nisa, kedatangan saya ke sini adalah untuk menyampaikan amanat dari teman saya, Pak Darum yang sedang mencarikan jodoh untuk anaknya. Kebetulan saya, Abi-mu dan Pak Darum itu berteman. Saya sedang membantunya untuk memilihkan calon yang sesuai kriteria yang pas sebagai calon menantu Pak Darum. Dan ketika saya tunjukkan foto Dek Nisa, beliau setuju, sehingga saya kemari untuk menyampaikan lamaran beliau.”


Otakku sepertinya berhenti sesaat ketika Pak Usman menyampaikan maksud dan tujuannya kemari. Aku berusaha mencerna ucapan panjang lebarnya yang entah mengapa terdengar berdengung di telinga.


Lamaran?


Aku dilamar?


Bagaimana bisa aku dilamar oleh seseorang yang bahkan wajahnya saja aku tak tahu. Terlebih lelaki itu mencari jodoh lewat ayahnya dan lamarannya disampaikan oleh teman ayahnya.


Sebentar, aku pasti salah dengar. Iya, kan?


Tidak mungkin aku tiba-tiba dilamar seperti ini. Bagaimana bisa? Padahal seingatku, baru saja aku berjibaku dengan buku dan bolpoin, menulis angan untuk lelaki impianku. Namun dalam beberapa menit, tiba-tiba aku dilamar.


Tidak. Ini pasti salah, kan?

__ADS_1


Aku menatap wajah Umi dan Abi bergantian, berharap setelah ini mereka tertawa dan bilang bahwa mereka hanya sedang mengerjaiku saja. Namun nihil, aku hanya melihat keseriusan pada kedua bola mata mereka. Jadi, ini semua serius?


Ya Allah, rencana apa yang sebenarnya sedang Engkau siapkan untukku?


__ADS_2