Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
12. Senyum Pria Itu


__ADS_3

Tuhan,


Aku bersalah karena tak mempercayai-Mu


Aku bersalah karena menyalahkan rencana-Mu


Tuhan,


Aku tahu bahwa ini cobaan tentang keikhlasanku


Aku tahu bahwa tak seharusnya aku mengeluh


Tuhan,


Engkau tahu hamba-Mu ini merintih di setiap sujudnya


Engkau tahu diri ini belum pantas untuk menjadi penghuni surga-Mu


Tapi Tuhan,


Terima kasih karena Engkau kirimkan sosok lelaki sepertinya


Sosok yang ingin mencintaiku karena-Mu


Sosok yang Insya Allah ingin aku cintai dengan segenap hatiku


Tuhan,


Tolong jaga lelaki-ku,


Juga wanita luar biasa dengan keikhlasan yang melebihi besarnya gunung Uhud


Wanita dengan hati lapangnya yang melebihi luas gurun Sahara


Tuhan,


Juga tolong jaga aku dan hatiku,


Agar aku bisa tetap mencintai kedua sosok itu karena-Mu.


Danisa Ainun Mahya

__ADS_1


Aku tersenyum tiada henti menatap buku catatanku, yang selalu menjadi saksi curahan hatiku setiap aku mengalami hari yang berat ataupun hari bahagia. Perbincangan hangat pagi tadi dengan Mas Daffa membuat bibirku entah mengapa tak bisa berhenti tersenyum.


Aku merasa lega, seperti salah satu beban yang ada di pundakku seketika terangkat, membuat tubuhku menjadi ringan.


“Ajarkan saya untuk bisa mencintaimu karena Allah.”


Ucapan Mas Daffa terngiang-ngiang di pikiranku. Membuat perutku tergelitik dan jantung jadi berdebar tak karuan. Ah, apa-apaan ini? Kenapa aku bisa seperti ini hanya dalam waktu beberapa hari setelah menikah? Padahal sebelumnya aku sangat menentang pernikahan ini.


Lalu apa yang terjadi setelah itu?


Setelahnya kami tertawa bersama, walaupun ada rasa canggung yang sangat kentara, yang terlihat di wajah Mas Daffa. Entahlah, mungkin ia sadar bahwa ucapannya terlalu cheesy. Atau mungkin bayang-bayang Mbak Hana kembali menghantui. Aku tak bisa menebak ekspresi wajahnya.


Lalu hari ini berlalu begitu saja, dengan kami yang saling menghindar, hanya bertemu di meja makan. Seperti sekarang, jika aku ada di kamar, maka Mas Daffa lebih memilih menghabiskan waktu di ruang tengah sembari membaca buku filsafat kegemarannya.


Sebenarnya aku tak tahan jika keadaan terus-menerus canggung seperti ini. Namun aku tak tahu harus berbuat apa untuk mencairkan suasana. Aku tak bisa bercanda leluasa terlebih dengan orang baru.


Sibuk memutar otak memikirkan keadaan rumah yang sunyi, tiba-tiba teleponku berdering. Aku tersenyum begitu melihat nama Umi terpampang di layar ponselku. Ah, baru beberapa hari tapi aku sudah merindukan Umi.


“Assalamu’alaikum Umi.”


“Wa’alaikum salam, sayang. Apa kabar anak Umi?”


“Nisa baik-baik aja. Umi, Abi dan adik-adik gimana?”


“Alhamdulillah semuanya di sini baik juga.” Umi terdiam beberapa saat, entah mengapa aku mendengar nada bicaranya sedikit lesu dan sendu. Ada apa dengan beliau?


“Umi yakin baik-baik aja?” tanyaku memastikan.


“Umi baik kok. Oh iya, gimana suami kamu? Umi belum sempat kenalan dan ngobrol langsung. Dia baik kan sama kamu?”


Aku spontan mengangguk kecil, walaupun aku yakin di seberang sana Umi tak akan bisa melihatnya. “Baik kok Umi, alhamdulillah.”


Aku tak yakin apa harus berkata sejujurnya pada Umi perihal Mas Daffa yang sudah memiliki istri dan aku dijadikan istri kedua. Aku tak ingin Umi syok dan berujung jadi beban pikiran. Beliau pasti akan sedih jika tahu kenyataan yang ada.


“Nisa, sebenarnya ada yang mau Umi omongin sama kamu, tapi kayaknya gak bisa kalau di telepon. Besok Nisa bisa ke sini? Atau kalau Nisa sibuk biar Umi yang ke sana, Nisa cukup kirim alamatnya saja.”


Aku mengernyit. Kira-kira ada hal sepenting apa sampai Umi meminta bertemu langsung. Pastinya jika bukan hal yang sangat penting, pasti Umi akan lebih memilih bicara lewat telepon.


“Gimana kalau Umi yang ke sini aja? Ajak adik-adik juga soalnya Nisa kangen. Nanti Nisa kasih alamat, Umi nanti naik taksi aja biar Nisa yang bayar kalau udah sampai sini.”


“Ya sudah, nanti Umi yang ke sana, tapi Umi gak bisa bawa adik-adik kamu dulu soalnya lebih baik kita bicara berdua. Lain waktu nanti biar Umi ajak adik-adikmu, ya?”

__ADS_1


Aku semakin bertanya-tanya ada apa sampai Umi tidak ingin adik-adikku tahu soal masalah ini. Namun aku menelan kembali semua pertanyaan itu untuk saat ini. Biar nanti aku tanyakan langsung saat Umi ke sini.


“Kalau gitu Umi tutup dulu ya teleponnya, Umi harus nyiapin makan malam. Nisa, kalau kamu ada kesulitan atau masalah, tolong jangan dipendam sendiri. Kamu masih punya Umi sama Abi, nak.”


Aku tersenyum kecil mendengar pesan dari Umi yang selalu mengkhawatirkanku. “Iya Umi, doakan Nisa selalu baik-baik aja ya.”


“Umi tutup ya, assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam, Umi.”


Tepat ketika aku memutus sambungan telepon, aku mendengar derit pintu kamar yang terbuka. Ternyata Mas Daffa yang masuk, ia melirikku sejenak namun segera membuang wajah, entah karena malu atau canggung.


Aku menipiskan bibir, merasa gugup karena atmosfer kamar yang jadi hening dan sunyi karena kecanggungan ini. Aku memutar otak, apa yang harus kukatakan untuk mencairkan suasana ini.


Oh iya, makan malam. Aku teringat ketika menarik kembali percakapan bersama Umi beberapa menit yang lalu.


“Mas, kamu mau makan pake apa? Biar aku masakin,” tawarku basa-basi.


Mas Daffa yang duduk di atas springbed sembari bermain ponsel, melirik sesaat. Ia menggaruk pelipis dengan ujung telunjuknya untuk mengurangi rasa gugup sepertinya.


“Saya apa saja doyan, kok,” jawabnya singkat.


Aku menghela napas panjang nan berat, membuat Mas Daffa menoleh dan kini memusatkan


atensinya padaku.


“Kenapa Danisa? Ada masalah?”


Aku berjengit, segera menggeleng cepat. “Gak ada apa-apa kok, Mas. Aku cuma heran aja, kenapa Mas Daffa formal banget selalu manggil diri sendiri ‘saya’. Aku kan jadi agak kikuk kalau mau ngomong,” ucapku kelepasan. Padahal sebenarnya aku tak berniat protes akan panggilan itu, hanya saja mulutku sepertinya tak punya rem.


Tak kusangka, Mas Daffa justru tertawa kecil. Kedua matanya sampai menyipit membentuk bulan sabit kala kedua ujung bibirnya melengkung ke atas. Manis sekali. Entah mengapa suara tawanya terdengar renyah dan menyejukkan.


Eh, astaga! Apa yang kamu pikirin sih, Danisa!?


“Maaf ya, nanti akan saya coba ngomong aku biar kamu gak canggung. Terbiasa soalnya kebawa pekerjaan,” ujarnya masih dengan sisa tawanya.


Aku sudah pernah mengatakannya, bahwa senyum dan tawa Mas Daffa itu mengandung magnet. Bisa memaksa siapa saja yang melihatnya seakan dipaksa untuk ikut tersenyum, tak terkecuali aku.


Entah sejak kapan aku mulai menyukai senyum dan tawa itu. Seakan-akan tawanya begitu merdu mengalun indah di runguku. Juga senyum teduhnya yang menenangkan hati, membuatku menyadari bahwa salah satu pesona kuat pria itu, ada pada senyumnya.


Malam ini aku menyadari, bahwa aku mulai terpikat pada senyumnya. Senyum pria itu yang sangat berbahaya.

__ADS_1


__ADS_2