Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
8. Wanita Luar Biasa


__ADS_3

Pagi ini aku terbangun dengan tubuh yang sudah lebih baik dari kemarin. Perbincangan dengan Mas Daffa semalam, membuatku mulai bisa menerima keadaan ini. Memang tidak mudah, namun aku berusaha. Lagi pula, semua sudah terjadi, dan aku tak punya pilihan lain selain menerima keadaan ini.


Ah, sebenarnya aku bisa memilih opsi untuk pergi dan menuntut cerai, karena menurutku ini memang sudah masuk ranah penipuan. Tapi, memikirkan efek yang mungkin akan diterima keluargaku, aku mengurungkan niat itu.


Aku sudah membicarakan semuanya dengan Mas Daffa. Tentang pernikahan ini, bagaimana keadaan keluargaku sebenarnya yang membuatku dengan terpaksa menyetujui pernikahan ini. Juga tentang kuliahku yang belum selesai dan masih memasuki semester empat.


Alhamdulillah, Mas Daffa membiarkanku melanjutkan pendidikanku, tentunya dengan semua biaya yang akan ditanggung olehnya. Juga, ia bilang sebagai ganti rugi atas keluarganya yang sudah menipuku dan memaksakan pernikahan ini.


Walaupun ada dalam satu waktu aku menyesalinya. Mengapa aku bisa menjadi wanita yang seakan mudah dibeli dengan uang. Namun bagaimana lagi, aku tak bisa mengorbankan keluargaku demi kebahagiaanku sendiri. Lagi pula, semua hal di dunia memang berorientasi pada uang, bukan?


Aku segera menyibak tirai yang menutupi jendela besar di kamarku. Membiarkan sinar matahari menembus kaca tebal yang terpasang di kamar yang luas nan sepi ini. Meresapi hangatnya sinar mentari pagi, aku tersenyum kecil. Memutuskan meneguhkan hati untuk menghadapi guncangan yang mungkin akan terjadi mulai


sekarang.


Tentang menjadi istri kedua.


Tak pernah sekalipun aku bayangkan bahwa aku akan mengalami semua ini. Sebelumnya, aku sangat menentang poligami. Juga berprinsip keras jika tak mau diduakan dengan wanita lain jika sudah menikah.


Lucu juga. Sekarang prinsip itu kabur begitu saja karena kalah oleh keadaan dan himpitan ekonomi tentunya. Sungguh memang benar, bahwa sekuat apapun kita memegang prinsip, maka akan kalah ketika Allah sudah menghendaki jalan lain.


Aku melangkahkan tungkai keluar dari kamar, berkeliling menyusuri rumah besar ini sendirian. Ya, sendirian. Lalu ke mana suamiku? Jawabannya tentu saja pulang ke rumah istri pertamanya. Lagi pula, tak ada yang bisa ia lakukan di sini, bersama wanita asing yang tiba-tiba menjadi istrinya atas dasar paksaan. Tentu saja lebih baik ia pulang ke rumah istri yang benar-benar ia nikahi atas dasar cinta.


Pedih memang. Namun aku tak apa, lagi pula memang aku juga tidak cinta padanya.


Dalam diam di kesendirianku, tiba-tiba bayangan Kak Rendra mulai melintasi pikiranku. Beberapa saat aku terhanyut, namun sekuat tenaga berusaha kutepis agar ia menghilang.

__ADS_1


“Bisa gila aku kalau kayak gini terus.” Aku mengutuk diriku sendiri yang dengan lancang memikirkan pria lain padahal sudah bersuami. Mengetuk dahiku beberapa kali agar otakku bisa kembali berpikir jernih.


“Danisa, kamu kenapa?”


Eh, astaga!


Hatiku mencelos saat sebuah suara menyapa runguku dengan tiba-tiba. Kedua manikku membulat saat aku berbalik badan dan menemukan Mas Daffa ternyata sudah berada di sini. Padahal aku sedari tadi tak mendengar suara pintu diketuk atau dibuka, pun dengan langkah kakinya.


“Mas Daffa kapan ke sini? Gak ada suaranya,” kataku pelan sembari mengurut dada, masih terkejut.


“Nganterin makanan buat kamu sarapan. Kemarin saya belum sempat isi kulkas buat persediaan kamu di sini, dan belum sempat juga carikan kamu asisten rumah tangga,” kata Mas Daffa.


Pria itu sudah tampak rapi dengan setelan kemeja kantor. Lengannya ia gulung sampai siku, memperlihatkan otot tangannya yang tampak kekar dan penuh urat yang menonjol. Rambutnya sudah ditata rapi, wajahnya tampak segar terawat dengan kumis tipis yang menawan. Aku sampai menahan napas sesaat melihatnya, tangan itu tangan suamiku, namun aku belum berkesempatan untuk menyentuhnya walau sekali.


Aku mencoba tersenyum, menerima uluran tas bekal yang diacungkan Mas Daffa. “Gak perlu pakai asisten rumah tangga kok Mas, aku biasa ngerjain pekerjaan rumah sendiri.”


“Gak apa-apa, biar kamu nanti gak kerepotan kalau sepulang kuliah, atau pas tugasmu lagi banyak jadi ada yang bantu,” kata Mas Daffa lembut. Sungguh sebenarnya ia pria yang baik, hanya saja aku tak enak hati jika ia memperlakukanku seperti ini. “Oh iya, Hana ingin ketemu kamu, dia lagi di mobil sebentar siap-siap,” lanjutnya membuatku melotot kaget.


“Mbak Hana, istri kamu Mas?” pekikku tanpa sadar.


Mas Daffa tertawa melihat wajah panikku, entah apa yang lucu. Padahal aku benar-benar kaget karena memang belum siap bertemu dengan istri pertamanya. Aku hanya bingung, apa yang harus aku katakan padanya nanti.


“Iya, kenapa kok kaget? Tenang saja, Hana baik dan gak akan gigit kamu kok,” ujar Mas Daffa tertawa kecil.


Huh, tidak ada yang lucu! Aku benar-benar dibuat panik oleh kejutan mendadak ini dan otakku tak bisa digunakan untuk berpikir.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum.”


Akhirnya suara lembut itu menggema memasuki ruangan. Tampak seorang wanita dengan jilbab panjangnya yang menjuntai, melangkah menghampiriku dengan senyuman lebar.


“Wa’alaikumsalam.” Aku dan Mas Daffa menjawab kompak, hanya saja intonasi suaraku begitu pelan karena tak menyangka bisa bertemu Mbak Hana secepat ini.


Aku terkesima saat Mbak Hana benar-benar sudah berada di depanku. Subhanallah, ia benar-benar cantik. Wajahnya lembut dengan aura yang bersinar ditambah tutur katanya yang halus dan sopan. Senyumnya juga sangat meneduhkan, cerah dan hangat seperti matahari pagi. Aku benar-benar dibuat terpesona akan kecantikannya yang terpancar begitu anggun.


“Halo Danisa, salam kenal ya. Namaku Hana Fairuz Marwah, panggil saja Mbak Hana.”


Masya Allah, bahkan namanya juga begitu cantik. Sangat mencerminkan orang dan kepribadiannya. Sekali lagi, aku jatuh pada pesonanya.


“Halo Mbak Hana, namaku Danisa Ainun Mahya,” balasku tersenyum.


“Mata kamu cantik, pasti karena itu kamu diberi nama Ainun Mahya.” Mbak Hana kembali tersenyum, benar-benar tak tampak kebencian setitikpun yang terpancar dari kedua matanya. Ia bahkan beringsut maju, memelukku dengan hangat sembari mengelus punggungku pelan. “Terima kasih ya sudah mau menerima pinangan Mas Daffa, aku bersyukur karena kamu bersedia menjadi maduku. Insya Allah, semoga kita bisa selalu akur ya, Danisa.”


Aku diam, tak tahu harus bagaimana membalas ucapan Mbak Hana. Rasanya justru lebih ingin menangis. Bukan. Bukan menangisi diriku, tapi menangisi Mbak Hana.


Bagaimana bisa ia begitu sabar dan berbesar hati ketika dirinya dimadu?


Aku tergugu. Kedua tanganku terulur, membalas pelukan Mbak Hana tak kalah hangat. Aku bisa merasakan degup jantung Mbak Hana yang semakin berirama tak menentu. Mbak, apa yang sedang kamu rasakan?


Entah itu rasa sakit yang berkecamuk, atau batinmu yang terluka hebat, aku kagum. Kamu mampu mengatasi semua itu dan menerima diriku yang datang ke kehidupanmu secara tiba-tiba. Aku meringis pedih, membuatku tanpa sadar menitikkan air mata.


Mbak Hana, kamu benar-benar wanita luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2