
Sudah dua jam semenjak kepergian Pak Usman, aku mengurung diri di kamar. Bahkan panggilan Umi dan Abi saja tidak aku hiraukan. Maaf ya Umi, Abi, aku tidak bermaksud durhaka pada kalian. Tapi jujur aku tak siap dengan segala situasi ini.
Aku sendiri kini tak tahu bagaimana perasaanku. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa kala Abi dengan lugasnya menerima lamaran Pak Usman. Abi, aku tidak siap dengan ini semua.
Kenapa? Kenapa Abi memutuskan semua sendiri tanpa bertanya bagaimana pendapatku? Bagaimana perasaanku?
Aku meringis, merasakan hatiku yang terasa berdenyut. Ngilu sekali.
Aku menutup wajahku dengan bantal, kutekan bantal itu kuat-kuat. Aku meraung sekuat tenaga di baliknya. Kenapa rasanya sakit sekali? Bahkan setelah aku berteriak sekuat tenaga, rasa sakit itu tak mau enyah dari sana.
Ya Allah, apa memang ini semua sudah Engkau gariskan kepadaku?
Aku menangis sekuat yang aku bisa. Aku ingin mengeringkan semua air mataku, hingga rasa sakit yang menderaku hilang. Aku ingin tidur setelah ini dan berharap ketika bangun nanti, semua yang terjadi malam ini hanyalah mimpi.
***
Aku merasakan pening yang teramat sangat menghantam kepalaku pagi ini. Adzan subuh yang mengalun dari mushola di sebelah rumahku mengaum nyaring, membangunkanku hingga kedua mataku terbuka sempurna. Seperti biasa, membuatku mau tak mau harus segera melaksanakan ibadah pagi.
Langkahku terasa berat ketika keluar kamar dan berpapasan dengan Umi yang ternyata sudah menunggu di depan kamarku, membangunkanku jika saja aku kesiangan untuk sholat subuh. Umi menatapku dengan wajah melasnya, membuat hatiku agak goyah. Karena aku paling tidak tahan dengan wajah memelas Umi. Aku tidak tega.
Namun untuk kali ini, aku bertekad untuk mengeraskan hatiku. Aku menunduk, berjalan melewati Umi begitu saja menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Maaf Umi, aku belum siap untuk bicara denganmu.
Selesai wudhu, ketika akan kembali ke kamarku, kali ini aku berpapasan dengan Abi yang menggandeng si bungsu Adnan, sepertinya baru kembali dari mushola. Aku mempercepat langkah, namun tungkaiku terhenti begitu saja saat suara Abi memanggilku.
“Nisa, setelah sarapan nanti Abi mau bicara sama kamu. Tolong jangan menghindar dan dengerin Abi baik-baik.” Abi berbicara dengan lembut. Namun aku bisa mendengar helaan napas berat di antara jeda suaranya.
__ADS_1
Aku tak menjawab, berlalu begitu saja. Seperti kataku, aku akan mengeraskan hati. Aku menghormati kedua orang tuaku, aku menyayangi mereka. Selama inipun aku tak pernah membangkang satu katapun yang diperintahkan Abi maupun Umi. Namun untuk kasus kali ini, aku tak bisa menurut begitu saja.
Bukankah ini hidupku? Bukankah aku punya hak untuk mengatur hidupku sendiri?
Aku memasuki kamar dengan langkah gundah. Ternyata semalam itu nyata adanya, ya? Sampai aku bangun ternyata semua tidak berubah.
Aku menggelar sajadahku, bersiap untuk bersujud. Menumpahkan semua keluh kesahku pada Tuhanku. Karena siapa lagi yang akan mendengar rintihanku jika bukan Allah?
Ya Allah, tolong beri aku petunjuk. Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi semua ini? Aku berserah diri pada-Mu, Ya Allah.
***
Hatiku kembali memberontak. Di luar, Abi dan Umi bergantian mengetuk pintu, menyuruhku keluar untuk sarapan. Sedangkan aku masih tenggelam dalam pikiranku yang sangat ruwet ini. Aku sengaja tak keluar kamar dulu sebelum adik-adikku berangkat sekolah. Aku tak ingin mereka melihat pertengkaranku dengan Abi dan Umi.
“Nisa, ayo sarapan dulu. Kita harus bicara dan meluruskan semuanya, Nak. Umi mohon Nisa.” Suara Umi di luar terdengar lemah dan putus asa, membuatku lagi-lagi ingin menumpahkan air mata.
Aku melirik jam dinding yang ada di atas meja belajarku. Sudah pukul setengah delapan, pasti ketiga adikku sudah berangkat. Aku meneguhkan hati. Ya, aku harus bicara pada mereka. Aku harus mengungkapkan pendapatku, karena bagaimanapun ini adalah hidupku.
Pelan, aku membuka pintu kamarku, dan ternyata sudah disambut senyuman hangat Umi. Aku mengulas senyum tipis. Ya, tidak seharusnya aku bersikap kekanakan dengan ngambek seperti bocah lima tahun. Ayo kita selesaikan semuanya.
“Umi udah masak ayam bakar madu kesukaan kamu. Kamu pasti lapar dari semalam belum makan, kan?” Umi tak henti tersenyum, berjalan mengiringiku dengan lengannya yang tertaut dengan milikku. Umi mengusap-usap lengan atasku dengan penuh kehangatan.
Begitulah Umi, selalu pandai mengambil hatiku dengan segala kehangatan dan kelembutannya. Membuatku justru merasa bersalah jika marah kepada beliau.
Di meja makan, Abi tampak sudah selesai dengan sarapannya. Beliau masih duduk di sana dengan koran di tangannya sembari menyeruput kopi pahit, kebiasaannya setiap pagi. Selain tentu saja karena ingin berbicara kembali denganku.
__ADS_1
“Makan dulu baru kita bicara,” titah Abi, menatapku sebentar sebelum mengembalikan atensinya pada koran di tangannya.
Aku mengunyah ayam bakar madu buatan Umi yang terasa hambar, padahal biasanya aku selalu lahap jika Umi memasaknya walau setiap hari. Entah karena memang Umi kurang membumbuinya, atau karena memang suasana hatiku yang sedang tidak baik.
Setelah menyelesaikan makananku, aku meletakkan piring kotor di westafel, mencucinya seperti kebiasaanku sejak kecil. Aku kembali mendudukkan diri di samping Umi setelah menyelesaikan pekerjaanku. Melihatku yang sudah duduk kembali, Abi melipat korannya dan menatapku. Tampak beliau menghela napas panjang sebelum membuka suaranya.
“Nisa, maafin Abi dan Umi kalau semalam mungkin saja kami menyakiti hatimu. Abi hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, karena selama ini Abi dan Umi mungkin belum maksimal untuk membahagiakan kamu. Sebelum memberi keputusan itu, Abi sudah berpikir matang-matang. Juga sudah berbicara dengan Umi, jadi kami tidak serta merta dalam mengambil keputusan.”
Aku mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Abi. Memang aku sedikit percaya, bahwa tak mungkin kedua orang tuaku akan menjerumuskan anaknya untuk menikah dengan sembarang lelaki. Hanya saja satu hal yang tak bisa aku terima. Mengapa mereka tak meminta pendapatku sebagai anak dan seorang yang akan menjalaninya?
“Abi percaya bahwa calon kamu ini orang baik. Selain karena Abi juga kenal baik dengan ayahnya, pria ini sudah mapan dan layak membimbingmu tentang ilmu agama. Abi yakin kamu akan punya kehidupan yang nyaman bersama dia.”
“Abi, Nisa belum siap menikah. Nisa masih kuliah. Nisa masih punya tujuan dan mimpi yang harus Nisa capai.” Aku berseru dengan putus asa. Berharap siapa saja bisa mengerti perasaanku.
“Nisa, sejujurnya Abi dan Umi menentang kamu untuk kuliah. Karena sebagai perempuan, umur kamu sudah sangat cukup untuk menikah. Abi dan Umi tidak mau nantinya kamu terjebak dengan lelaki yang tidak baik dan pergaulan yang salah. Menikah adalah salah satu cara Abi melindungi kamu.”
Mendengarnya, entah kenapa membuat kedua mataku terasa panas. Ada beberapa bulir bening yang menumpuk di sana. Berdesakan ingin menyeruak keluar, membuat pandanganku memburam.
Mengapa? Mengapa begitu tabu bagi kaum hawa sepertiku menempuh pendidikan tinggi? Mengapa di jaman modern seperti ini, keluarganya masih saja menjunjung tinggi patriarki.
“Abi, Umi, mengapa kalian seperti ini? Nisa ingin menikah, tapi enggak sekarang. Enggak dengan laki-laki yang bahkan tidak Nisa tahu seperti apa wajah dan wataknya. Abi, apa Nisa tidak punya hak untuk memilih?”
“Tidak!” Abi berseru dengan tegas. Raut wajahnya mulai mengeras, membuat nyaliku menciut karena baru kali ini melihat Abi yang tampak sangat marah. “Kamu perempuan Nisa. Kamu itu dipilih bukannya memilih! Dan sekarang ada lelaki yang memilihmu, seharusnya kamu bersyukur bukannya menentang!”
Lucu sekali. Mungkin bagi Abi, aku adalah barang yang akan dilepaskan ketika ada yang menyukai dan memilihku. Aku tak pernah menyangka, bahwa di usiaku yang kesembilan belas tahun, aku sudah dipaksa menikahi lelaki atas hasil perjodohan.
__ADS_1
Air mataku seketika itu luruh bersamaan dengan kepingan hatiku yang luluh lantak. Menatap Abi dan Umi bergantian dengan tangis yang menderas. “Lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan keinginanku? Bagaimana dengan mimpiku? Haruskah aku melepas mereka semua demi pernikahan ini?”