Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
19. Janji Di Atas Kertas


__ADS_3

“Danisa, biarkan saya mencintaimu mulai sekarang.”


Kata-kata itu terngiang terus menerus, membuatku tak bisa melepas pandangan dari sesosok pria yang kini sibuk memunggungiku. Ia tak mengeluh kala melihat rumah yang begitu berantakan. Tak segan meringankan tangannya untuk membereskan kekacauan yang kubuat selama seminggu lebih terpuruk.


Cucian piring kotor yang menumpuk begitu banyak. Lantai yang kotor dan lengket. Barang-barang yang berserakan juga kondisi rumah yang kacau tak ubahnya seperti kapal pecah.


Aku mengerjap melihat kekacauan yang sudah kubuat. Namun tubuhku tak bergeming. Hanya sibuk memperhatikan Mas Daffa yang turun tangan membersihkan semuanya sendirian.


“Maaf Mas.”


Ungkapan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Mengapa aku terbawa emosi dan meluapkan kekesalanku atas omongan orang pada Mas Daffa. Aku mungkin saja menyakitinya dengan kata-kataku sebelumnya.


Mas Daffa menoleh, ia tak menunjukkan ekspresi lain padaku selain senyum kecil yang ia ulas di bibir. “Seharusnya aku yang minta maaf karena menyakiti kamu tanpa sadar, sampai kamu harus mengeluarkan ultimatum begitu keras seperti itu.” Ia terkekeh manis, kembali mencuci piring dan gelas kotor yang masih menumpuk.


Aku tak tahan untuk melengkungkan sebuah senyum tipis. Mendengar ia memanggil dirinya sendiri dengan ‘aku’ membuatku sadar bahwa saat ini ia sedang dalam mode santai.


Aku bahkan tak mengerti dengan semua perubahan diriku sendiri. Bahwa dengan mudahnya aku meledak-ledak hingga sempat depresi. Namun dengan sedikit kata-kata penenang oleh Mas Daffa, aku luluh kembali.


Aku memang tak dapat dipahami, bahkan oleh diriku sendiri sang pemilik raga.


“Danisa, tolong jangan katakan hal seperti itu lagi. Sejujurnya, hatiku langsung tercabik-cabik mendengar kamu meminta cerai. Padahal kita sebelumnya sudah sepakat untuk bersabar dan belajar saling mencintai.”


Aku menipiskan bibir, mendesah panjang. ”Mas, aku ingin bersabar. Tapi entah kenapa aku benar-benar sedang bingung dengan diriku sendiri. Aku seperti sedang sulit untuk percaya siapapun termasuk kamu.”


Mas Daffa yang sudah merampungkan pekerjaannya, kini mendudukkan diri di hadapanku. Dengan sedikit langkah kaku, ia mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku secara mendadak. Tentu saja membuat tubuhku menegang dan bingung karena tak menyangka jika ia sudah berani bertindak maju menyentuhku lebih dulu.


“Begini saja, bagaimana kalau kita buat perjanjian di atas kertas? Mungkin jika buatmu perjanjian secara lisan tak dapat dipercaya, mari kita buat perjanjian yang berlandaskan hukum. Jadi, jika suatu saat aku melanggarnya dan membuatmu merasa dirugikan, kamu bisa menuntut pertanggung jawabanku.”


Aku mengernyit, bingung. “Maksudnya seperti kontrak tertulis?”


Mas Daffa menimpali dengan anggukan. Tak menunggu persetujuanku, ia bangkit, membuat genggaman tangan kami terlepas. Tak butuh waktu lama baginya, ia kembali dengan selembar kertas hvs kosong dan sebuah bolpoin hitam.


Mas Daffa menyodorkan kedua benda itu di hadapanku. Tersenyum kecil mengisyaratkanku untuk memulai lebih dahulu.

__ADS_1


“Kamu tulis saja apa yang mau kamu minta dariku. Tentu saja sebisa mungkin aku akan menepati janji itu,” ujarnya membuatku terperangah.


Aku menatap lembaran kertas kosong itu dengan hampa. Bagaimana ya? Sekarang hatiku kembali terombang-ambing. Aku jadi merasa jahat karena seolah tak memercayai suamiku sendiri. Seharusnya aku tak boleh begini, kan?


“Kamu aja yang nulis, Mas,” putusku setelah berpikir beberapa saat. “Kamu yang harus membuat janjimu sendiri. Kamu harus membuat janji yang harus bisa kamu tepati nanti.”


Mas Daffa terdiam sesaat, menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun pada akhirnya, ia mencoret-coret kertas polos tersebut. Menuliskan beberapa kalimat yang nantinya akan ia ikrarkan untukku.


Tak butuh waktu lama untuk Mas Daffa membubuhkan tanda tangannya. Seakan ia sudah sangat siap dan akan menerima konsekuensi jika melanggarnya. Ia menyodorkannya kepadaku begitu selesai menandatanganinya.


Aku tersenyum tipis membaca kalimat singkat perjanjian itu.


Saya, yang bertanda tangan di bawah ini :


Daffa Hamizan Ghani sebagai suami dari Danisa Ainun Mahya, berjanji :


1.     Akan selalu berusaha membahagiakan Danisa.


2.     Akan selalu berlaku adil baik pada Danisa ataupun Hana.


4.     Akan berusaha menjadi suami yang baik dan profesional.


Jika suatu saat saya mengingkari perjanjian ini, saya akan menerima setiap konsekuensi yang sudah ditetapkan Danisa sebagai pihak kedua. Adapun konsekuensinya adalah apapun yang Danisa inginkan akan saya kabulkan.


Tertanda,


Daffa Hamizan Ghani


“Kenapa kesannya kalimatnya jadi seperti bermakna sama?” tanyaku setelah membaca isi perjanjian yang ditulis tangan oleh Mas Daffa.


Mas Daffa tersenyum simpul. “Karena semuanya bertujuan sama, seperti yang tertulis di poin yang pertama. Akan berusaha membuat Danisa bahagia.”


Aku tak tahu apa memang berbicara manis adalah keahlian Mas Daffa, tapi sepertinya memang iya. Karena setiap ucapan yang keluar dari mulutnya sangat manis dan memabukkan. Namun anehnya, aku masih saja percaya dan terhanyut.

__ADS_1


“Danisa,” panggilnya lagi. Suaranya yang berat dan rendah itu seakan memaksa kepalaku untuk terdongak menatap matanya.


Aku diam sesaat, tak menjawab panggilannya. Namun bisa kulihat bibirnya mengulas sebuah senyum tipis.


“Boleh aku peluk kamu?”


Eh?


Aku tergugu. Bergeming, dan mengerjap-kerjapkan kedua manikku kaget mendengar pertanyaan itu.


Sangat sopan dan mengalun merdu melalui runguku. Membuat tubuhku terpaku karena pertanyaan mendadak itu. Bahkan kini jantungku rasanya ingin ikut meloncat keluar dari tempatnya.


Sedangkan Mas Daffa menatapku tak berkedip, seakan menunggu jawaban pasti dariku. Aku jadi bimbang. Memang benar bahwa kami sudah menikah, namun aku masih tak menyangka jika Mas Daffa sampai meminta izin hanya untuk memeluk istrinya sendiri.


“Boleh?” tanyanya lagi untuk memastikan, melihat wajahku yang mungkin menyiratkan keraguan dan kekagetan.


Pada akhirnya aku mengangguk. Selain karena aku tak mungkin menolak, entah mengapa tubuh dan hatiku berteriak menginginkannya.


Aku menyadari bahwa sebagai seorang istri, aku bahkan belum menjalankan kewajibanku samasekali untuk  memenuhi nafkah batin suamiku. Namun Mas Daffa tak pernah memaksa dan dengan sabar menungguku hingga siap. Dan kali ini, hanya untuk memelukku saja ia meminta izin.


Mas Daffa tersenyum. Menyeret langkah untuk mendekatiku hingga dalam sekejap, tubuhku sudah berada dalam dekapan hangatnya.


Ah, jadi begini rasanya.


Hangat dan nyaman sekali.


Aku memejamkan kedua manikku, meresapi rasa hangat yang mengaliri aliran darahku, membuatnya berdesir hebat. Juga menghirup dalam-dalam aroma mint kesukaan Mas Daffa yang menguar dari tubuhnya.


Anehnya, aku merasa aman ketika Mas Daffa memelukku.


Aku tersenyum kecil mendengar gemuruh jantung Mas Daffa saat wajahku tenggelam dalam dada bidangnya. Pun dengan milikku, seakan saling bersahutan memenuhi satu-satunya suara di ruang makan ini.


Aku tak bisa mengartikan apa arti debaran itu. Namun aku harap, itu semua adalah pertanda yang baik untuk hubungan kami ke depannya.

__ADS_1


Ya, semoga saja.


__ADS_2