
Mas Daffa mengusap bibirku yang basah akibat ulahnya yang membuatku melayang-layang beberapa saat lalu. Tindakannya kini, justru membuatku semakin merasa terhanyut.
Bisa-bisanya aku tak bisa menolak ciumannya.
“Mulai sekarang, aku benar-benar akan memperlakukan kamu sebagai seorang istri. Aku akan dengan senang hati memenuhi kewajibanku baik secara lahir maupun batin. Tentu saja, kamu juga harus memperlakukanmu sebagai seorang suami seutuhnya.”
Aku tersenyum mendengar penuturannya. Merasa bahwa jiwaku seakan sudah dibawa melayang-layang oleh tingkahnya hari ini. Walaupun sejujurnya aku merasa semua ini salah.
Mengapa aku bisa jatuh secepat ini padanya?
Aku tahu bahwa ini adalah hal yang baik. Karena bagiku, pernikahan tanpa cinta tentu hanya bualan belaka. Namun aku merasa ini terlalu cepat dan menakutkan.
Bagaimana jika hanya aku yang mencintai Mas Daffa? Bagaimana jika ini hanya cinta sepihak? Bagaimana bisa Mas Daffa akan mencintaiku sedangkan ia masih punya Mbak Hana?
Pemikiran-pemikiran itu terus berputar di otakku. Mencari jawaban yang memang ingin kudengar dan kutahu.
“Mas?” panggilku lembut, mendongak menatap lurus kedua matanya.
“Hm?”
Mas Daffa bergumam, seakan melontarkan tanya mengapa aku memanggilnya. Namun aku hanya tersenyum dan menggeleng kecil. Tidak jadi melemparkan semua pertanyaan yang hadir di benakku. Aku tak ingin merusak momen romantis ini hanya karena rasa penasaranku.
Namun Mas Daffa kembali berulah, secara mengejutkan kembali mendaratkan bibirnya di atas milikku. Mengulang kembali ciuman beberapa saat yang lalu, menyantap rakus bibir ranumku.
Sesapan Mas Daffa membuat para kupu-kupu yang ada di perutku kembali beterbangan dan menggelitik, menyalurkan sensasi aneh seperti beberapa saat lalu. Aku kembali terhanyut untuk yang kedua kalinya, tak bisa menolak ataupun lepas dari rasa ini.
Namun segera kudorong pelan dada bidang Mas Daffa ketika aku merasa sudah hampir kehabisan napas. Aku melenguh, mengusap bibir dan wajahku yang memerah lagi dibuatnya, membuat Mas Daffa tersenyum kecil menatapku.
“Maaf aku kelepasan lagi, soalnya kamu kalau senyum cantik sekali,” kelakar Mas Daffa membuatku terperangah.
__ADS_1
“Bisa aja gombalnya,” tandasku sembari tersenyum mengejek.
“Aku serius kamu cantik sekali, Danisa.” Ia tertawa lagi, dengan tawa renyah khasnya yang selalu membuatku tenang. “Makanya, kamu harus lebih sering tertawa dan jangan sedih-sedih lagi.”
Pria ini lucu sekali.
Ia pikir siapa sih yang membuatku sering menangis? Tentu saja ia dan segala tingkahnya yang sering membuatku bingung dan takjub secara bersamaan. Sebentar bisa jadi menjengkelkan dan tidak peka, namun sebentar lagi berubah menjadi pribadi yang tenang dan mengagumkan.
“Jujur Mas, seminggu kemarin aku sedih banget. Kamu tahu aku lagi down karena cemoohan teman kamu pas di Ambarawa. Tapi sepulang kamu ke rumah Mbak Hana, kamu sama sekali gak hubungin aku atau sekedar tanya kabar,” cetusku dengan jujur. Aku tak tahan ingin mengeluarkan semua kekesalanku padanya.
Tampak Mas Daffa mendesah panjang. Ia menipiskan bibir, mengusak suraiku dengan lembut. “Maaf ya Danisa, saya benar-benar lupa. Seminggu kemarin, Hana masuk rumah sakit lagi karena harus kemoterapi. Saya sibuk bolak balik kantor dan rumah sakit, jadi saya selalu lupa ketika mau hubungin kamu.”
Aku membatu, menatapnya dengan kedua manik yang memancarkan sorot tajam. Lagi-lagi begini. Mengapa ia tak menjelaskan keadaannya padaku sejak awal hingga membuatku harus membencinya dan mempertanyakan eksistensiku sendiri?
“Kenapa kamu gak jujur soal keadaan kamu, Mas? Kamu bisa aja hubungin aku buat gantian jaga Mbak Hana di rumah sakit. Kenapa kamu selalu mau nanggung semua sendirian?” Aku merasa kemarahanku kembali lagi.
“Karena aku tahu kamu juga lagi sakit dan juga masih kepikiran omongan buruk temanku. Aku sudah merasa bersalah karena gak bisa nemenin kamu dan gak bisa berbuat banyak. Aku gak mungkin nyuruh kamu buat jagain Hana sementara keadaan kamu juga lagi gak baik-baik aja, Danisa.”
Kini, aku kembali merasa buruk.
Aku selalu berpikiran negatif pada Mas Daffa, sementara ia sendiri selalu berusaha menjagaku dengan caranya sendiri. Padahal aku tahu jika ia juga sedang berjuang untuk kesembuhan Mbak Hana sementara di sini aku semakin rewel dan selalu ingin diperhatikan.
“Maaf Mas, aku emang egois,” lirihku sambil tertunduk.
Namun Mas Daffa menggeleng, merengkuhku dalam pelukannya. “Bukan salah kamu, ini kesalahanku karena sudah seharusnya aku terbuka dan jujur tentang keadaanku. Maaf kemarin gak bisa nemenin kamu. Maaf juga karena gak bisa bela kamu dari omongan gak enak temanku.”
Aku membalas pelukannya tak kalah erat. Mulai sekarang aku bertekad akan berubah dan belajar jadi istri yang baik. Pelan-pelan hatiku sudah mau menerima lagi posisiku menjadi istri kedua.
Tak apa, selama itu membuat keluargaku hidup nyaman.
__ADS_1
Tak apa, toh aku mendapatkan suami yang baik dan menjagaku setulus hati.
Tak apa, karena aku sudah mulai jatuh hati padanya.
Ya, tak apa. Aku akan menahannya dan berjuang sekuat mungkin.
“Mas, aku mencintaimu,” lirihku membenamkan wajah di dadanya. Suaraku hanya seperti bisikan angin lewat, sangat halus dan lemah.
Namun aku bisa merasakan untuk sesaat tubuh Mas Daffa menegang. Entah ia mendengar ucapanku atau tidak, hanya saja ia diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Ah, aku mulai mengerti sekarang.
Hatiku meringis, merasakan sebuah goresan tajam yang membuatku perih. Ah, ternyata memang benar. Cinta ini hanya sepihak. Bahwa hanya aku yang mulai menjatuhkan hati padanya, sementara ia tidak. Hatinya masih utuh untuk satu wanita yang sama dan sepertinya tak akan bisa terganti.
Tidak apa-apa, aku akan tetap bertahan.
Aku melepaskan pelukannya, tersenyum dengan binar yang lebih kilau. Tentu aku harus tersenyum, agar ia tahu bahwa aku baik-baik saja. Kendati hatiku berkata sebaliknya.
“Katanya mau ajak makan di luar. Jadi gak nih? Perut aku udah dangdutan dari tadi,” candaku sembari tertawa kecil.
Mas Daffa mengangguk. “Jadi dong, kamu lagi pengin makan apa?”
Aku berpikir sebentar, menimang-nimang apa menu yang enak untuk makan malam. “Seafood aja ya, aku lagi pengin.”
“Ya udah sana siap-siap dulu.”
Aku mengangguk dan melempar senyum kecil, segera melangkahkan tungkai menuju kamar untuk ganti pakaian dan mengenakan jilbab. Senyumku seketika luntur saat aku membalikkan badan memunggungi suamiku.
Kini, aku sudah tahu isi hatinya.
Walaupun dari awal aku tak berharap akan dicintai karena jelas hatinya untuk Mbak Hana, namun mengetahui kenyataan itu sendiri ternyata menyakitkan. Tapi tak apa Mas, aku akan tetap mencintaimu.
__ADS_1
Dan tetap berharap jika suatu saat nanti, hatimu bisa menerimaku seutuhnya.