Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
17. Bukan Salah Takdir


__ADS_3

Tuhan,


Aku tak tahu jika takdir selalu seperti ini


Kejam, tak terbayangkan, juga tak terbantahkan.


Tuhan,


Aku tahu bahwa garis kuasa-Mu tak pernah melenceng


Aku tahu bahwa takdir sendiri yang akan menemukan jalannya.


Tuhan,


Aku ingin bertanya


Aku meragukannya,


Apakah takdir-Mu pernah salah sasaran?


Tapi Tuhan,


Diriku akan sangat berdosa jika meragukan-Mu dan putusan agung-Mu.


Memang benar Tuhan,


Aku hanyalah wanita biasa yang masih lemah iman dan takwa,


Masih tak meyakini dengan penuh, bahwa takdir tak pernah menemui orang yang salah.


Bahwa benar Tuhan,


Tak sepatutnya aku menyalahkan takdir.


Hanya diriku yang terlampau tak bisa menahan hasratku untuk melampiaskan kemarahanku, akan garis yang sudah Kau tetapkan.


Maafkan aku, Tuhan.


Danisa Ainun Mahya


Dua hari sudah aku hanya termenung di kamar seperti seonggok makhluk yang hidup namun seperti mati. Hari-hariku masih dipenuhi awan mendung, seolah percuma jika hanya aku sendiri yang berusaha keras mengusirnya. Aku butuh seseorang untuk membangkitkan kembali semangatku yang terbang entah ke mana.


Dua hari lalu juga, aku menangis bersama Umi. Meratapi nasib yang menimpaku bertubi-tubi. Risiko menjadi istri kedua, ternyata memang lebih sulit dari yang kubayangkan.

__ADS_1


Awalnya, kupikir aku hanya perlu menutup kedua telingaku dari omongan pedas orang-orang. Kupikir, aku hanya perlu memikirkan keluargaku yang bergantung penuh pada pernikahanku. Kupikir, aku bisa menanggung semuanya sendiri.


Ternyata aku salah. Aku tak sekuat itu.


Kepalaku tertunduk, menutup buku catatan yang selama ini jadi tempat pelampiasanku. Aku sudah tak bisa menangis, karena sepertinya stok air mataku sudah aku habiskan dalam dua hari terakhir ini.


Aku merenung, kembali teringat percakapanku dengan Umi dua hari yang lalu.


“Nisa, tolong jangan segan ngomong sama Umi kapanpun kamu ada masalah. Umi sebisa mungkin bakalan bantu kamu.”


“Umi ...” Aku menangis sesenggukan. Tak kuasa menahan gejolak di dadaku yang kian hari semakin membuncah dan rasanya sekarang sudah saatnya meledak.


“Nisa gak mau ada di pernikahan ini, apalagi jadi istri kedua. Nisa mau hidup bebas dan menjalani kehidupan sesuai apa minat dan mimpi Nisa sendiri. Nisa gak mau menikah dengan orang yang tidak mencintai Nisa, huhuhu ...”


Dadaku rasanya begitu sakit seperti dihantam benda tumpul ribuan kali. Aku masih belum mengerti, mengapa takdirku bisa begitu kejamnya mempermainkanku seperti ini?


“Nisa mau kuliah sampai S3, Nisa punya mimpi ingin sekolah di Kairo. Nisa mau jadi dosen. Nisa mau ketemu pria yang Nisa cintai dan cinta Nisa juga. Nisa ingin kerja sampai sukses dan bisa kuliahin adik-adik dan wujudin cita-cita mereka.”


“Umi, Nisa masih punya banyak impian. Apa Nisa bahkan gak berhak untuk mewujudkannya?”


Umi memelukku erat, membiarkanku membasahi bajunya dengan lelehan air mataku yang dengan bodohnya tak ingin berhenti mengalir. Berkali-kali Umi menggumamkan kata maaf di telingaku.


Tidak, aku tak menyalahkan Umi.


Aku menyalahkan keadaan keluargaku yang harus bergantung pada keluarga Mas Daffa.


Aku menyalahkan diriku yang tak punya keberanian untuk menolak.


Jika saja aku saat itu berani menolak, apakah aku masih akan tetap bisa berpegang teguh pada mimpiku?


Aku tak tahu jawabannya, namun aku ingin tahu.


“Nisa, Umi tahu kamu begitu kecewa. Umi juga tahu semua keinginan dan mimpimu yang begitu ingin terbang tinggi. Umi juga ingin kamu berhasil mewujudkannya. Tapi, kali ini Umi yang salah karena tak bisa melindungi mimpi kamu. Maafin Umi, Nisa.”


Aku menggeleng. Sengguk tangisku membuat deru napasku memburu dan dada yang berdenyut ngilu. Baru kali ini aku menangis begitu keras, setelah sekian lama hanya bisa memendam semua perasaan sendiri.


Aku pikir, aku bisa menanggungnya.


Aku pikir bahuku sudah cukup kuat untuk menopang deritaku sendiri.


Aku pikir, sebagai anak pertama aku tak boleh cengeng dan gampang menyerah.


Namun ternyata aku salah. Aku sadar, bahwa aku ini masih manusia yang punya batas wajar untuk menahan lara batin.

__ADS_1


Aku tetap butuh pundak seseorang untuk bersandar kala pundakku sendiri sudah merosot menahan beratnya beban kehidupan.


“Kalau kamu gak bahagia, lepaskan Nisa. Jangan memaksakan perasaan dan hatimu. Jangan mengorbankan diri sendiri hanya untuk menyenangkan orang lain. Kamu juga butuh bahagia, Nak. Kamu perlu membahagiakan dirimu sendiri dulu sebelum membahagiakan orang lain.”


Andai saja semudah itu. Andai saja aku bisa sedikit lebih egois. Tentunya aku tak akan terjebak di sini, bersama orang asing yang tiba-tiba dalam semalam menjadi suamiku. Dimanfaatkan hanya untuk mengandung anak pria asing yang berkedok suami.


“Lalu, apa Nisa juga harus diam kalau melihat adik-adik sengsara dan gak bisa sekolah?” tanyaku sengau. Menanti jawaban atas pertanyaan mudah namun jelas sangat sulit untuk dijawab.


Aku mengusap wajahku kasar, menatap udara kosong di depan mataku dengan sendu. “Umi, apa takdir itu bisa salah?” tanyaku setengah mengigau.


Ekor mataku melirik ekspresi Umi yang membatu sesaat. Tampak mencari-cari jawaban yang tepat atas pertanyaanku. Tangan Umi terulur, mengelus pipiku yang basah oleh lelehan kristal bening si peramai mataku.


“Takdir tak pernah salah, Nak. Yang salah adalah pilihan kita, manusia. Bagaimana takdirmu besok, adalah buah dari pilihanmu sekarang. Jadi, apapun yang mau kamu putuskan mulai sekarang, akan menjadi hasil takdir bagimu esok hari.”


Ya, Umi bilang takdir tak pernah salah.


Pilihanku yang salah sejak awal, yang membawaku ke dalam takdir buruk ini. Pilihan yang seharusnya tidak aku ambil.


Menyesal? Tentu saja iya.


Kini aku dipaksa kembali berpikir keras, menentukan mana yang harus kupilih agar aku tak terjebak takdir yang salah lagi. Satu langkah yang melenceng tentu akan berdampak begitu besar pada langkahku selanjutnya.


Sejujurnya, aku sudah menemukan jawaban yang kurasa tepat. Namun hanya dalam beberapa detik setelahnya, sebuah batu sandungan yang begitu besar kembali menghalangi langkahku.


Bayangan ketiga adikku yang masih kecil dan butuh kenyamanan hidup, kembali mengoyak egoku. Menghancurkannya hingga lenyap tak tersisa, menerbangkannya ke atas langit selaras dengan air mataku yang kembali menderas.


Ghina, aku sudah berjanji padamu akan bahagia.


Ghina, kalau kebahagiaanku adalah melepas pernikahan ini, bagaimana menurutmu?


Ghina, aku tak ingin esok hari kamu mengikuti langkahku.


Ghina, semoga Allah menumbuhkan sedikit saja keegoisan di hatimu agar kamu tak terjebak sepertiku.


Ghina, kakak kangen kamu.


Di antara ketiga adikku, Ghina sudah seperti sahabat bagiku. Selain ia memang yang paling besar di antara yang lain, pemikirannya yang dewasa membuatku sangat menyayanginya.


Ghina, kakak ingin melepaskan penderitaan ini.


Ghina, kakak tak ingin menjadi seorang madu.


Ghina, kakak lelah dan ingin terlelap untuk waktu yang lama.

__ADS_1


__ADS_2