
“Perlu bantuan?”
“Eh?”
Aku menoleh dengan wajah kaget dan hampir saja tergelincir lantai yang licin jika saja tak bisa menyeimbangkan tubuh. Mengurut dada dan melempar tatapan tajam pada Mas Daffa yang justru terkikik melihat tingkahku.
“Ngagetin aja sih, Mas.” Aku menggerutu, namun kembali memegang alat pel untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
“Maaf deh. Perlu bantuan gak? Kamu mau ngepel seluruh rumah segede ini?” tanya Mas Daffa.
Aku mengangguk cepat. Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan di rumah sebesar ini sendirian jika tak mengerjakan pekerjaan rumah. Lagipula, aku melakukannya karena bosan dan kugunakan untuk membunuh waktu agar cepat berlalu.
“Iya, emang siapa lagi yang mau ngerjain?”
“Aku carikan asisten rumah tangga, mau?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Bukan karena apa-apa, namun karena Mas Daffa menepati janjinya untuk menghilangkan panggilan saya untuk dirinya sendiri.
Dipikir-pikir, lucu juga ketika ia berbicara dengan ‘aku’. Mungkin karena aku selama ini terbiasa dengan ia yang bicara formal.
“Gak usah Mas, nanti kalau aku bosen dan gak ada kegiatan, aku harus ngapain?” Aku menggeleng cepat. Beringsut mundur agar lantai yang sudah ku-pel tidak kotor kembali, namun Mas Daffa malah mengikutiku seperti anak kecil.
Aku memberengut, melayangkan tatapan tajam ke arahnya, yang hanya dibalas tatapan tanya. “Jangan ngintilin aku dong, Mas! Nanti lantainya kotor lagi,” gerutuku kesal.
“Eh sorry.”
Ia menggaruk tengkuknya kikuk, segera berlari kecil menjauhiku. Namun arahnya berlari justru membuatku melotot karena ia menginjak lantai yang sudah aku pel sampai kinclong.
“Mas Daffa jangan diinjek, ih!” teriakku membuatnya kalang kabut dan berlari memasuki kamar.
Aku menarik napas dan menghembuskannya panjang-panjang berulang kali, menahan gejolak amarah yang menguasai diri. Mas Daffa itu ternyata usil juga, padahal kulit luarnya terlihat tenang dan pendiam.
Terpaksa aku harus mengulangi lagi kegiatan mengepelku karena jejak kaki Mas Daffa membekas dengan jelas. Aku menekan-tekan lantai sambil menggerutu kesal, melampiaskannya pada lantai yang tak bersalah.
Huh, menyebalkan sekali.
Namun tak sampai sepuluh menit berada di kamar, Mas Daffa menyembulkan kepalanya di balik pintu. Ia menatapku sambil tersenyum kuda, membuatku memicingkan mata curiga.
__ADS_1
“Abis ini kamu siap-siap ya, aku tunggu di mobil. Kita jalan-jalan, ke manapun kamu mau pergi biar aku anterin.”
Aku melongo karena tingkahnya yang sangat tiba-tiba itu. Belum sempat aku menjawabnya, Mas Daffa sudah berlari ke luar. Benar saja, begitu kuperhatikan pakaiannya, pria itu sudah rapi dengan setelan kaos panjang dan celana jeans biru dongkernya.
Buru-buru aku menyelesaikan pekerjaanku, tak enak jika ia harus menungguku lama. Aku bahkan tak sempat membersihkan alat pelnya terlebih dahulu. Segera mencuci wajah dan setelah itu berganti pakaian.
Tapi memang mau secepat apapun kita para wanita bersiap saat akan pergi, tetap saja memakan waktu lebih lama dari para lelaki. Aku sudah bersiap seminimal mungkin, namun tetap saja membutuhkan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk berpakaian dan memoles wajah sedikit.
Mas Daffa menyambutku dengan senyum begitu aku memasuki mobil fortuner miliknya. Padahal aku sudah was was karena takut Mas Daffa akan mengomel karena kelamaan menungguku, namun kenyataannya ia hanya menatapku sambil tersenyum.
“Maaf Mas, aku lama ya siap-siapnya?”
Mas Daffa menggeleng dan tertawa kecil. “Enggak kok, cuma setengah jam. Biasanya aku nunggu Hana bisa sejam lebih, namanya juga wanita jadi wajar aja.”
Kubalas senyumnya dengan kekehan kecil. Hatiku agak terusik kala ia menyebut nama Mbak Hana. Bukan apa-apa, selama tiga hari sebelumnya, Mas Daffa sama sekali tak menyebut nama Mbak Hana saat bersamaku, membuatku sesaat melupakan fakta bahwa aku istri keduanya.
Ah, betapa bodohnya aku.
“Kamu mau ajak aku ke mana Mas?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Aku berpikir keras, mencari-cari di pikiranku ke mana aku ingin pergi. Lama berpikir, bahkan hingga mobil yang dikendarai Mas Daffa keluar dari area perumahan, aku tak kunjung menemukan tempat yang ingin kukunjungi.
Ya, selama ini kehidupanku hanya bolak-balik rumah dan kampus. Aku jarang keluar rumah karena tak suka keramaian. Aku lebih senang berkutat dengan dapur dan buku karena bagiku, mereka memberikan ketenangan tersendiri.
“Jadi mau ke mana?” tanya Mas Daffa lagi.
Aku memamerkan cengiranku dan menggeleng. “Gak tau, aku selama ini jarang keluar rumah apalagi jalan-jalan.”
“Gimana kalau kita ke Ambarawa aja?” tanya Mas Daffa setelah sebelumnya sempat berpikir cukup lama.
“Boleh. Terserah Mas aja, aku ikut,” ucapku santai.
Aku membuka kaca mobil begitu melintasi Simpang Lima, salah satu ikon kota Semarang. Melamun mendapati jalanan padat di sore hari seperti ini, dengan lalu lintas yang rusuh, diramaikan klakson pengendara yang saling bersahutan. Dipikir-pikir, sudah lama sekali aku tak menghadapi padatnya lalu lintas kota.
“Mau makan dulu atau jajan dulu gak? Mungkin kamu lapar.”
Mas Daffa kembali membuka suara, yang kutanggapi dengan gelengan cepat. Pria itu kembali tersenyum, menginjak rem mobil untuk membiarkan para penyebrang jalan lewat terlebih dahulu.
__ADS_1
Kuperhatikan setiap detail wajah suamiku itu. Selain senyumnya, aku mulai menyukai garis rahangnya yang terukir sempurna, tajam dan menggoda. Jika dilihat dari samping seperti ini, ia terlihat sangat tampan. Apalagi ditambah hidungnya yang bangir dan runcing.
Ya Allah, betapa Engkau bisa menciptakan manusia yang begitu mendekati sempurna sepertinya. Aku memuji dalam hati, tak berani mengungkapkan secara langsung.
“Kenapa Danisa? Ada sesuatu ya di wajahku?” tanya Mas Daffa tiba-tiba, membuatku terbelalak dan sontak memalingkan wajah.
Pipiku terasa memanas karena kepergok memandanginya dengan intens seperti itu. Aduh, aku malu sekali.
“Emm, aku agak haus Mas,” ucapku berdalih. Tak mungkin aku mengatakan jika sedang memandang kagum pada dirinya.
“Yaudah kamu mau minum apa, biar aku belikan.” Ia tersenyum, mengembalikan fokus pada jalanan di depannya.
“Apa aja boleh Mas.”
“Starbuck? Chatime? Atau mau ice cream Baskin?”
Aku mengerut mendengarnya menyebut merek minuman mahal yang aku saja tak sanggup membelinya. Selain karena tak ada uang, sebenarnya tak terlalu minat juga.
Aku segera menggeleng. “Air mineral aja deh.”
Mas Daffa tertawa kecil, begitu melihat salah satu minimarket tak jauh dari jangkauan, ia segera menepikan mobilnya. Ia bergegas turun, memutar tubuh dengan sedikit berlari, bergegas membukakan pintu mobil untukku.
Aku terhenyak akan perlakuan manisnya. Benar-benar tak disangka. Belum sempat aku mengucapkan terima kasih, Mas Daffa tiba-tiba berlutut di hadapanku, membuatku terbelalak untuk kesekian kalinya dalam sehari ini.
“Mas, ngapain?” tanyaku kaget.
“Bentar, ini diiket dulu biar kamu gak jatuh pas jalan.”
Eh?
Aku mendadak beku, ketika Mas Daffa mengikat tali sepatu sneakers-ku sebelah kiri yang terlepas tanpa kusadari. Astaga!
Anggap saja aku berlebihan, tapi aku baru pertama kali mendapat perlakuan semanis itu dari pria lain selain Abi. Sehingga membuat jantungku seakan ingin melompat dari tempatnya karena degupannya terlalu keras.
Ah, aku takut Mas Daffa bisa mendengarnya.
Mas Daffa, kamu terlalu manis. Namun sayang, cintamu harus terbagi dengan yang lain.
__ADS_1