
Aku merasakan hawa panas mulai mengaliri kedua pipiku saat Mas Daffa melepaskan pelukannya. Sudah pasti kini pipiku seperti bulatan tomat matang.
Ah, aku malu sekali.
Aku memalingkan wajah, menghindari tatapan Mas Daffa yang tiba-tiba menyalangkan pandangan padaku. Pandangan mata yang entah mengapa seakan menyiratkan sesuatu yang masih tak bisa kupahami.
Cinta? Kekaguman? Atau nafsu?
Aku terkesiap memikirkan berbagai kemungkinan arti tatapan itu, terutama yang terakhir. Walaupun hatiku meragukannya, namun entah mengapa pikiran burukku lebih condong mempercayainya.
“Mas mau makan malam pake apa? Biar nanti aku masakin,” ucapku gugup. Walaupun sudah berusaha biasa saja, namun suaraku masih bergetar.
Aku memundurkan tungkaiku, mencoba menjaga jarak dari Mas Daffa. Takut jika ia bisa mendengar debaran jantungku yang benar-benar gila ini. Juga untuk menghindari tatapannya yang terasa mengintimidasi, tidak lembut seperti biasanya.
Aku jadi bertanya-tanya, apa Mas Daffa punya dua kepribadian? Mengapa sorot matanya saja selalu berubah-ubah, membuatku bingung untuk menerka-nerka seperti apa pribadinya yang sebenarnya.
“Kita makan di luar aja nanti. Kamu pasti jenuh di rumah terus, kan?”
Aku mengangguk. Tentu saja, selama seminggu aku mengurung diri di kamar seperti orang depresi yang tak punya semangat hidup.
Kini aku bahkan merasa aneh dengan diriku sendiri. Padahal aku sudah berpikir matang-matang untuk meminta Mas Daffa menceraikanku. Namun kini hatiku kembali goyah hanya karena aku merasa Mas Daffa kali ini meminta maaf dengan tulus dan berusaha mempertahankan pernikahan ini.
Jika dipikir-pikir, aku memang masih labil dan sama sekali tak dewasa. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku mengucapkan kata cerai? Bukankah Allah sangat membenci perceraian walaupun bukan hal yang haram untuk dilakukan? Mengapa aku tak berpikir sampai ke sana?
Hanya kata-kata lembut yang terlontar dari bibir Mas Daffa yang bisa menenangkan egoku. Bahwa aku juga akan ikut andil di hari akhir nanti sebagai bagian dari tanggung jawab pria itu kepada Tuhan-Nya.
“Danisa?”
Suara rendah nan berat itu membuyarkan lamunanku. Aku terkekeh dengan kaku, menyadari bahwa aku melamun lagi. Sepertinya kini, melamun akan menjadi suatu kebiasaan baru bagiku yang entah mengapa selalu mengalami pergolakan batin yang tiada habisnya.
“Ya, kenapa Mas?”
Mas Daffa melontarkan senyum manisnya, mengusak puncak kepalaku yang tak terbalut hijab. Ya, kini aku sudah berani tampil tanpa hijab dan pakaian serba panjang ketika bersamanya.
__ADS_1
“Jangan kebanyakan melamun, gak baik,” ucapnya lembut.
Aku terkekeh kecil. “Enggak kok, aku baru aja ingat kalau minggu depan udah mulai masuk kuliah lagi,” jawabku sekenanya.
“Kamu nanti gimana sama teman-teman kamu? Apa mereka tahu kalau kamu udah menikah?”
Aku menggeleng. Karena seingatku, aku memang tak mengundang satupun teman saat acara pernikahan. Semua tamu yang hadir hanyalah kerabat dekat dan beberapa teman dekat Umi dan Abi.
“Enggak ada yang tahu, Mas. Mungkin untuk saat ini aku belum bisa ngasih tahu mereka, jujur aku belum siap. Aku bahkan sampai sakit pas kena omongan gak enak dari teman kamu, apalagi nanti kalau satu kampus tahu.”
“Iya, gak apa-apa. Buat sementara, kita sembunyikan dulu status pernikahan kamu, setidaknya sampai kamu lulus,” ucap Mas Daffa dengan tenang.
“Oh iya, nanti jadinya mau makan di mana?” tanyaku mengalihkan fokusnya pada hal lain. Memikirkan pergi ke kampus dengan status baru saja sudah membuatku terkena tekanan batin.
Mas Daffa tampak berpikir, berdecak beberapa kali hingga aku yang kebingungan melihat tingkahnya. Namun dengan sabar aku menunggu jawabannya.
“Danisa,” panggilnya lagi untuk yang kesekian kali.
Aku tak tahu sudah berapa kali dalam hari ini Mas Daffa menyebut namaku. Terlalu sering. Bukannya aku tak senang, hanya saja rasanya aneh dan menggelitik setiap kali ia menyerukan namaku dengan nada dan emosi yang berbeda-beda.
Pandangan Mas Daffa turun perlahan, menatap lurus menghunus kedua netraku. Aku mengerjap sesaat, merasa bahwa pandangan itu terlalu berbahaya dan bisa saja menghanyutkanku.
“Boleh aku menciummu?”
Eh?
Tubuhku menegang mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Mas Daffa. Juga ketika tangan pria itu terulur mengelus surai panjangku, menyelipkan anak rambut nakal yang yang terjatuh asal ke belakang telingaku. Tingkahnya yang spontan itu, tak ayal membuat darahku berdesir.
Aku mendadak gagap saat ingin menjawab pertanyaan itu. Aku ingin menolak karena belum siap, namun logikaku kembali berkata, bahwa sudah seharusnya sebagai seorang istri, aku berkewajiban memberikan nafkah batin pada suamiku.
“M-mas..,”
Tubuhku terpaku, tak kuasa menolak saat Mas Daffa mempersempit jarak di antara kami. Terlebih tatapan matanya yang mendadak berubah buas, seakan siap menerkamku kapan saja.
__ADS_1
Bagaimana ini?
Saraf-saraf otakku serasa mati dan tubuhku melemas kala sebuah sentuhan lembut mendarat di bibirku. Aku terbelalak, merasakan sensasi panas dan debaran gila yang mengaliri setiap aliran darahku.
Tubuhku benar-benar kaku dan tak bisa digerakkan, aku hanya diam ketika bibir Mas Daffa menekan milikku, seakan berusaha masuk dan menjelajah lebih dalam. Sedangkan aku ini amatir, tak tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini.
Siapapun, tolong aku!
Sentuhan lembut itu lama-lama berubah semakin agresif. Tangan Mas Daffa menarik pinggangku hingga tubuh kecilku tenggelam dalam dekapan hangatnya, menambah rasa panas di tubuh ini semakin menjalar hebat.
Pikiranku perlahan berubah kosong. Akal sehatku seakan kabur dan menghilang entah ke mana, hingga tubuh dan hati ini yang mengambil alih keadaan. Aku memejamkan mata, menikmati sensasi aneh dan debaran hebat yang semakin menggila kala bibir Mas Daffa menjelajahi milikku.
Jujur, ini mendebarkan sekaligus candu.
Aku merasakan gelegak rasa manis yang nyata kala Mas Daffa menyesap bibir bawahku hingga terasa panas. Tanganku tanpa sadar bergerilya, menyentuh lembut dada bidang suamiku yang terbalut kemeja kerja. Menelusuri otot-otot dadanya yang mengeras dengan ujung jari lentikku.
Entah. Akupun tak tahu sejak kapan aku mahir melakukan ini. Padahal ini pertama kalinya aku melakukan ciuman dengan lawan jenis. Aku hanya menuruti apa keinginan tubuhku saja.
Ini ciuman pertamaku. Ciuman yang direnggut oleh suamiku, namun juga suami wanita lain.
Entah sudah berapa lama waktu yang kami habiskan untuk saling menyalurkan hasrat. Namun ketika Mas Daffa melepas tautan bibirnya, aku terengah-engah.
Napasku terasa panas dan memburu. Begitu juga Mas Daffa. Wajah tampannya merona, dengan bibirnya yang memerah akibat ciuman kami yang begitu menghanyutkan.
Aku tertunduk malu, menyembunyikan semburat merah yang mungkin kini sudah memenuhi kedua pipiku. Aku tak tahu jika rasanya membahayakan seperti ini. Rasa ingin melakukan lebih, lebih dan lebih lagi.
Aku mendongak, menatap wajah suamiku yang anehnya terlihat bersinar dan seksi. Terlebih ketika buliran keringat membasahi dahinya yang kecokelatan namun memancarkan sinar meneduhkan.
Gawat!
Bagaimana ini?
Aku benar-benar tenggelam dalam pesona seorang Daffa Hamizan Ghani. Aku menginginkan pria ini. Aku ingin melakukan hal yang lebih dengannya.
__ADS_1
Gawat!
Sepertinya, aku mulai jatuh cinta padanya.