
Kepalaku terasa berdenyut ngilu akibat menangis semalaman. Akibatnya, pagi ini kedua mataku membengkak begitu besar dan membuatnya terlihat mengerikan. Aku meringis ketika menatap pantulan diriku di balik cermin. Sangat mengerikan. Tak mungkin aku pergi ke kampus dengan kondisi seperti ini.
Aku menyugar rambut panjangku yang tergerai berantakan dan menghalangi pandangan. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari ketika aku terbangun. Aku turun dari tempat tidur, di saat seperti ini sebaiknya aku lebih banyak bersujud kepada-Nya, meminta petunjuk.
Aku melihat Umi yang sedang ada di ruang sholat ketika keluar dari kamarku. Samar, aku mendengar tangisan dari wanita yang melahirkanku itu. Terdengar sangat pilu. Membuatku tanpa sadar melangkahkan tungkai mendekatinya.
“Umi,” panggilku pelan.
Bisa kulihat Umi agak tersentak. Segera menyelesaikan doanya dan memutar tubuh untuk melihatku. Hatiku kembali berdenyut melihat wajah Umi yang sembab dengan kedua mata bengkak, tak jauh beda denganku.
“Nisa, maafin Umi, Nak.”
Tangis Umi kembali pecah saat melihatku. Entahlah, melihat keadaanku yang kacau, mungkin membuat beliau merasa bersalah. Umi memelukku erat dan air matanya semakin menderas kala aku membalas pelukannya.
Maaf Umi, aku tahu Umi juga tidak mau keadaan jadi seperti sekarang. Maaf Umi, aku terlalu egois. Tidak memikirkan Umi dan adik-adikku.
“Nisa, kalau kamu gak mau menerima lamaran itu gak apa-apa, biar Umi yang ngomong baik-baik sama Abi.” Umi melepas pelukannya, beralih menangkup pipiku dan menghapus air mata yang mengalir di sana.
Aku juga tidak mau menikah secepat ini, Umi.
Aku menangis, berpikir semalaman setelah mendengar cerita Ghina.
Memang benar jika Abi dan Umi akan mengorbankanku tanpa berpikir apa aku akan setuju dengan keputusan mereka. Tapi ketika aku berpikir sekali lagi, jika aku tidak mau menerima lamaran itu, maka aku adalah kakak egois yang tidak memikirkan adik-adiknya.
“Nisa mau Umi. Insya Allah, Nisa akan mencoba ikhlas menerima semuanya. Nisa gak mau adik-adik kesusahan kalau Nisa menolak.”
Kedua netra Umi membelalak ketika mendengar jawabanku. Beliau menggeleng tak percaya, meyakinkan diriku apa benar sudah siap dengan segala risikonya.
Tidak, Umi. Aku tidak siap. Namun aku tidak punya pilihan selain menurut.
“Maafin Umi, Nisa.” Umi kembali membawaku ke dalam pelukannya. Erat dan penuh air mata, membuatku kembali menangis pilu.
__ADS_1
Ya Allah, kuatkan aku.
“Umi, Nisa mau ketemu Abi. Nisa mau bicara langsung sama Abi.”
Umi mengangguk-angguk, membelai rambut dan wajahku dengan lembut. “Nanti kalau adik-adik sudah berangkat sekolah kita bicara lagi.”
***
“Seharusnya Abi jujur dari awal bukan hanya maksa Nisa tanpa alasan yang kuat.”
Aku langsung menyerang Abi begitu menghampiri Abi dan Umi pagi ini. Bukannya aku tidak sopan, hanya saja aku tidak suka berbasa-basi.
Tampak Abi menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Aku tahu jika semua ini juga berat bagi Abi dan Umi. Hanya saja, seharusnya mereka membicarakannya denganku secara jujur.
“Nisa mau dengar sendiri dari Abi, alasan sebenarnya. Kenapa Abi memaksa Nisa buat nerima lamaran itu bahkan tanpa mau tahu perasaan Nisa?”
Abi menunduk. Kedua tangannya yang bertumpu di atas meja dengan jemari saling bertautan, tampak bergerak gelisah. Begitu pula dengan pergerakan matanya yang tampak sekali tak mau memandangku.
“Pak Darum itu teman baik Abi, yang sangat berjasa dalam hidup Abi, Nisa. Beliau tidak pernah meninggalkan Abi di saat terpuruk sekalipun, bahkan di saat keluarga kita hampir bangkrut, Pak Darum yang menolong Abi. Biaya sekolah kamu, Ghina dan Nurul, sejak kalian SD itu juga ditanggung oleh beliau. Bahkan biaya kuliah
Aku menahan napas mendengar semua yang meluncur dari mulut Abi. Hutang budi, ya? Walaupun sudah mendengar semuanya dari Ghina, mendengarnya lagi tetap tak bisa membuat luka hatiku sembuh.
“Abi takut Nisa, kalau Abi menolak permintaan beliau, bagaimana dengan sekolah adik-adik kamu. Sedangkan kamu tahu sendiri, toko Abi baru mulai merintis kembali sejak terkena dampak pandemi tahun kemarin. Abi merasa ini saatnya Abi membalas budi kepada beliau atas semua kebaikannya selama ini.”
Aku berdesis pelan. “Dengan mengorbankan aku?” Aku bertanya dengan nada bergetar, rasanya ingin menangis lagi.
“Maaf, Abi salah. Abi belum bisa jadi ayah yang baik untuk kamu dan adik-adikmu. Abi hanya tidak punya pilihan lain yang lebih baik, Nisa. Abi harap kamu mau memaafkan Abi dan menerimanya, demi adik-adik kamu.”
Lucu sekali. Dunia ini sangat lucu.
Anak perempuan pertama sepertiku, seakan-akan dibebankan kewajiban untuk berkorban demi adik-adiknya. Seakan-akan membahagiakan adik-adik adalah tanggung jawabku sebagai seorang kakak. Padahal, aku juga seorang anak yang juga butuh bahagianya sendiri.
__ADS_1
Apakah aku punya hak untuk menolak?
Seharusnya iya, namun hati kakak mana yang rela membiarkan adik-adiknya dilanda kesusahan. Maka seorang kakak sepertiku akan dianggap egois jika tak mau berkorban.
“Abi yakin jika pernikahan ini baik buat kamu. Abi percaya jika anak Pak Darum baik dan bisa menjaga kamu. Anaknya juga seorang pengusaha muda, dan pastinya akan membuat hidupmu berkecukupan.”
Tidak. Bukan itu yang aku cari dalam sebuah pernikahan. Memangnya, apakah harta yang berlimpah mampu memberikan kebahagiaan yang hakiki?
Aku berusaha meneguhkan hati, meyakinkan diri bahwa pilihanku kali ini tak salah. Bahwa tidak apa-apa aku menyisihkan kebahagiaanku demi adik-adikku. Bahwa keikhlasanku kelak akan diberi ganjaran yang berjuta kali lipat lebih banyak.
Ya, bukankah Allah yang menjanjikan? Bahwa keikhlasan kita, akan digantikan ganjaran berupa surga. Itulah mengapa untuk menumbuhkan rasa ikhlas sangatlah susah, dan hanya orang-orang berhati lapang yang bisa melakukannya.
Ya Allah, semoga Engkau melapangkan hatiku agar aku ikhlas menerima semua ini.
“Insya Allah, Nisa mau menerima lamaran itu. Nisa akan coba menjalani semua dengan ikhlas,” kataku kemudian, dengan sedikit bergetar.
Bisa kulihat Abi bernafas lega dan tersenyum tipis, begitu juga dengan Umi. Tak apa, yang penting keluargaku bahagia.
“Terima kasih, Nisa. Maafkan Abi kalau kemarin menyakiti hati kamu. Jujur, Abi terlalu kalut dan gak bisa berpikir jernih hingga berlaku keterlaluan sama kamu. Abi benar-benar minta maaf.”
Aku diam saja. Aku mendengarkan Abi bicara, hanya saja pikiranku terlalu ruwet untuk memikirkan jawaban atas permohonan maaf dari Abi. Aku sibuk berpikir bagaimana akan menjalani kehidupan setelah ini.
Menikah muda bukanlah bagian dari rencana hidupku. Semuanya terlalu tiba-tiba, tak
membiarkanku mempersiapkan diri.
“Gak apa-apa Nisa, menikah itu juga ibadah. Setiap langkahmu nanti akan menjadi ladang pahala untuk tabungan menuju surga. Lambat laun, kamu juga akan terbiasa walaupun sekarang kamu mungkin merasa belum siap.” Umi berujar lembut, menggenggam tanganku menyalurkan rasa tenang. “Umi bakal bimbing kamu agar
nantinya kamu bisa belajar sedikit demi sedikit, ya?”
Aku mengangguk saja. Baiklah, aku sudah memutuskan bahwa aku memang harus menerima takdir ini.
__ADS_1
Ya, bahkan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, bahwa jika itu memang takdirmu, maka ia akan menghampirimu dengan sendirinya.
Jadi, apakah pernikahan ini memanglah takdirku?