
Aku tak tahu jika waktu berjalan sangat cepat. Perasaan baru saja kemarin aku libur kuliah dan melangsungkan akad nikah, namun kini sudah dua bulan saja semenjak pernikahanku.
Selama sebulan pertama, pernikahanku dipenuhi tangis pilu. Aku yang dinikahkan melalui perjodohan, dan ternyata dijadikan istri kedua. Tentu saja memantik gelombang tsunami ledakan amarahku. Namun di bulan kedua, aku sudah mencoba berdamai dengan diriku dan berusaha menerima semuanya.
Hubunganku dengan Mas Daffa juga baik-baik saja. Akupun akur dengan istri pertamanya, bahkan aku pernah sekali berkunjung ke rumahnya kala Mbak Hana baru pulang dari rumah sakit setelah kemoterapi terakhirnya.
Namun ternyata pernikahan tidak semudah yang kelihatannya. Bahkan setelah dua bulan menikahpun, aku dan Mas Daffa belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Kami hanya saling berciuman namun tak pernah berani melakukan lebih.
Sejujurnya aku memang masih takut, tapi aku merasa Mas Daffa masih ragu melakukannya denganku karena memang belum bisa mencintaiku. Ya, mungkin memang aku harus sedikit lebih bersabar.
Tunggu! Ini bukan seperti aku amat berharap disentuh olehnya. Namun aku hanya merasa belum menjalankan kewajibanku sebagai istri untuk memenuhi kebutuhan batin suamiku. Ya, walaupun tanpa diriku, Mas Daffa tentu saja masih bisa mendapatkannya dari Mbak Hana.
Huft...
Aku menghela napas panjang, mematut diriku di depan cermin. Tubuhku sudah terbalut rapi gamis simpel berwarna maroon dan kupadukan dengan jilbab warna kunyit. Siap untuk kembali ke kampus dan menyibukkan diri dengan berbagai tugas untuk mengalihkan banyaknya pikiran yang memenuhi otakku hingga ruwet.
Aku berharap, bahwa kesibukan yang melanda akibat tugas dan aktivitas kampus akan mengalihkan pikiranku dari perasaan yang rumit ini.
****
“Danisa.”
Aku menghentikan laju tungkaiku kala sebuah suara menyerukan namaku. Aku ternganga ketika menyadari dari mana sumber suara itu berasal.
Kak Rendra.
Aku terkesiap sesaat. Tak bisa mengontrol ekspresi terkejut yang terpampang di wajahku. Astaga, aku melupakannya untuk sesaat.
Bahwa aku sudah tak memikirkan lelaki itu lagi semenjak memutuskan menerima pinangan Mas Daffa. Berusaha keras melupakannya hingga perlahan ia hilang sendiri dari pikiranku. Namun entah apa kabar hatiku yang sepertinya masih belum bisa merelakannya.
__ADS_1
Bahkan kini, aku merasa jantungku ikut berdebar dengan gila kala melihat Kak Rendra berjalan ke arahku sembari tersenyum manis.
Astaga Danisa, ingat kamu sudah menikah! Aku merutuk dalam hati.
Kubalas senyumnya dengan wajah dan ekspresi kaku. Sungguh sial sekali mengapa aku tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahku sehingga dengan mudahnya orang-orang tahu perasaanku. Aku bahkan yakin jika kini wajahku terlihat aneh.
“Iya kak, kenapa?”
Kak Rendra berhenti tepat di hadapanku, dengan jarak yang lumayan jauh. Tentu saja, ia seorang pria yang sangat menghormati wanita hingga sebisa mungkin akan menjaga jarak dengan wanita manapun.
Ia menyodorkan sebuah makalah. “Liburan kemarin kamu sepertinya susah dihubungi dan pasti gak tahu kalau Pak Jafran kasih tugas.”
“Tugas?” kagetku dengan kedua mata membelalak.
Aku benar-benar tak tahu jika ada tugas di masa liburan kemarin. Aku tak yakin jika di grup whatsapp tidak ada yang memberi tahu. Pasti aku sendiri yang lupa atau memang tak menyimak grup chat.
“Saya sudah coba hubungi kamu karena kamu sama sekali gak merespon di grup, tapi nomor kamu gak aktif padahal saya coba berkali-kali. Jadi saya pikir kamu pasti sibuk banget sampai gak sempat pegang handphone,” jelas Kak Rendra lagi.
Aku menarik kembali memoriku selama dua bulan terakhir. Aku yang disibukkan akan kegalauanku akibat pernikahan. Aku yang sibuk bertengkar dengan Mas Daffa. Aku yang sibuk berpikiran negatif pada pria itu disertai sederet kemarahan tak masuk akal akibat pikiran burukku sendiri.
Aku yang bodoh.
Aku sampai melalaikan tugasku hanya karena pikiran-pikiran ruwet yang memenuhi otakku dan tak kunjung selesai. Aku yang bahkan mengabaikan diriku sendiri.
“Maaf kak, handphone saya memang lagi rusak dan mati makanya gak tahu kalau ada pemberitahuan di grup,” kilahku beralasan.
Kak Rendra tersenyum manis, sekali lagi menyodorkan makalah di tangannya yang langsung kuambil dengan terburu-buru. “Ambil aja sebagian contoh dari sini, selebihnya bisa kamu kembangkan sendiri. Gak apa-apa itu makalah hasil tugas saya, jadi gak usah khawatir. Soalnya tenggat waktunya tinggal tiga hari lagi dan gak akan cukup buat kamu cari bahan sendiri.”
Aku terperangah menatap makalah itu. Tak menyangka jika Kak Rendra mengkhawatirkanku perihal tugas. Aku benar-benar terharu dibuatnya karena sampai merelakan aku menyalin tugasnya.
__ADS_1
“Kak, makasih banyak. Maaf banget kalau saya merepotkan.” Aku menatapnya dengan haru, yang disambut kekehan kecil olehnya.
“Iya sama-sama. Besok lagi pastikan handphone kamu aktif ya. Atau kalau memang masih rusak, kamu kasih saya nomor cadangan entah nomor ibu kamu atau adikmu juga boleh, biar kalau ada tugas atau apapun saya bisa hubungi kamu.”
Aku mengangguk dan tersenyum tipis menanggapinya. Aku baru sadar, bahwa baru pertama kali ini aku terlibat pembicaraan yang lumayan panjang dengan Kak Rendra. Jika biasanya hanya saling melempar senyum dan bertanya hal yang penting saja, kini aku bisa mencuri pandang wajahnya lebih lama dari biasanya.
Kak, andai saja dulu aku berani mengungkapkan perasaanku.
Astaga!
Aku kembali merutuki diriku sendiri karena memikirkan pria lain ketika statusku sudah menjadi istri orang. Aku berusaha menghempaskan jauh-jauh angan-anganku tentang masa lalu. Juga tentang perasaanku pada Kak Rendra yang mungkin masih tersisa.
“Danisa,” panggil Kak Rendra lagi. Wajahnya kini berubah layu, senyum dan sorot matanya pun ikut meneduh secara tiba-tiba.
Aku bertanya-tanya, apa maksud ekspresi sendu yang ditunjukkan Kak Rendra kali ini. Aku mencoba menebak kira-kira apa yang ia rasakan. Namun nihil, aku tak menemukan jawabannya. Mungkin karena aku kurang peka dalam membaca isi hati seseorang.
“Sebenarnya ada suatu hal serius yang mau saya bicarakan. Tapi mungkin nanti, karena sekarang bukan waktu yang tepat,” ujar Kak Rendra setelah terdiam beberapa saat.
Ia kembali tersenyum walaupun kini senyumnya terasa lebih cerah. “Kalau begitu saya pamit dulu, sebentar lagi ada kelas.”
“Iya kak, sekali lagi terima kasih makalahnya. Nanti saya kembalikan kalau sudah selesai.” Aku mengangguk dan berterima kasih sekali lagi.
Kak Rendra menanggapinya dengan anggukan, setelah itu melangkahkan kakinya menjauhiku. Sedangkan aku menatap punggungnya yang semakin menjauh dengan berbagai perasaan yang campur aduk.
Rasa kagum itu pasti masih tersisa, namun entah dengan rasa sukaku. Namun melihat wajahnya hari ini, berhasil membuat hatiku goyah. Membuatku ingin sekali mengabaikan fakta bahwa aku sudah menikah dan harus melupakannya.
Tentu saja, perasaanku yang tumbuh besar selama setahun untuk menyukainya, pasti tak mudah dihilangkan begitu saja.
Namun kini hatiku gundah. Ingin sekali memberontak ketika melihat sosoknya, namun tentu saja aku tak ingin berkhianat dalam pernikahan yang sudah diikat janji atas nama Allah. Aku tak boleh begini.
__ADS_1
Iya, aku tak boleh goyah!