Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
7. Ikhlas Yang Berat


__ADS_3

Tuhan,


Aku tahu jika hidup adalah panggung sandiwara,


Aku tahu bahwa hidup adalah lelucon belaka.


Tuhan,


Jika  menerima semuanya adalah caramu membuatku lebih dewasa, bisakah Engkau jaga hatiku agar tetap ikhlas?


Tuhan,


Jika menerima semua keadaan tak adil ini adalah caramu menguji imanku, bisakah Engkau jaga hatiku agar tak


membenci-Mu?


Tuhan,


Hati ini terkoyak,


Jiwa ini melebur bersama luka yang Engkau torehkan.


Tuhan,


Aku ingin menjadi wanita luar biasa seperti Maryam binti Imran,


Meneladani kesabaran dan keikhlasannya dalam menghadapi setiap ujianmu.


Tuhan,


Aku ingin menjadi wanita sholihah penghuni surga-Mu layaknya Aisyah istri Rasulullah,


Meneladani perjuangan dan pengorbanannya mendampingi setiap dakwah Baginda Nabi.


Tapi Tuhan,


Aku hanyalah wanita biasa.


Hamba-Mu yang tak luput dari dosa dan kekhilafan.

__ADS_1


Maka Tuhan,


Jika aku tak seluar-biasa wanita-wanita penghuni surga-Mu, tolong jangan benci aku.


Jika aku tak sesabar dan seikhlas hamba-hamba kesayangan-Mu, tolong izinkan aku mengobati luka ini dengan


menyalahkan-Mu sebentar saja.


Danisa Ainun Mahya


Aku lelah.


Mengeluarkan air mataku untuk hal yang sama setiap harinya. Ya, ini sudah dua hari aku mengurung diri di kamar. Tanpa mau keluar, tanpa makanan, minuman. Hanya menangisi keadaanku yang mengenaskan.


Bukan. Bukan karena aku ingin menyiksa diri, hanya saja aku terlalu lemah untuk menghadapi ini semua sendirian.


Selama ini, aku hanyalah anak rumahan yang selalu mengandalkan kedua orang tuaku. Aku jarang bergaul, bersosialisasi dengan tetangga saja hanya kadang-kadang.


Pernikahan ini adalah pintu keluarku dari kehidupan nyaman yang selama sembilan belas tahun ini aku jalani. Aku hanya masih tak menyangka, bahkan keputusan yang aku ambil kali ini ternyata justru membawaku ke dalam jurang penderitaan yang membuatku terperosok begitu jauh.


Kini, jalan hidupku terasa hitam kelam. Aku kehilangan cahaya untuk sekedar melangkahkan kaki ke depan.


Dalam diam dan tangisku, aku selalu berdoa, agar Allah memberiku petunjuk, bagaimana caraku untuk menyelesaikan masalah ini. Aku tak mungkin langsung menggugat cerai. Selain karena pernikahan ini baru berlangsung dua hari, lalu bagaimana nasib adik-adikku? Bagaimana nasib sekolah mereka?


Otakku yang kalut memerintahku untuk menerima, namun hatiku yang kacau balau memberontak, ingin segera melarikan diri sejauh mungkin yang aku bisa.


Aku ingin ikhlas, namun terasa sangat berat untuk dilakukan.


TOK TOK!


Ketukan di pintu itu masih setia menggangguku dalam dua hari ini. Si empunya yang ada di balik pintu masih dengan sabar membujukku agar mau keluar dan berbicara.


Aku juga ingin berbicara. Menumpahkan segala hal yang menjadi beban pikiranku tentang pernikahan ini. Namun lidah ini rasanya kelu, hanya hatiku saja yang menjerit setiap hati menuntut keadilan.


Ya, aku merasa ditipu. Ini benar-benar terasa seperti sebuah penipuan untukku. Mengapa mereka tidak berkata dengan jujur bahwa aku akan dijadikan istri kedua? Mengapa mereka bahkan repot-repot ingin menyembunyikannya?


“Danisa, saya minta maaf. Saya mohon kamu jangan seperti ini, tolong jangan menyakiti diri kamu sendiri seperti ini. Kamu harus makan.”


Mas Daffa masih bersikeras membujukku, walaupun aku sama sekali tak memberikan jawaban. Aku hanya bingung, apa yang harus aku katakan ketika berhadapan dengannya.

__ADS_1


“Danisa, kalau kamu terus menerus kayak gini, saya gak punya pilihan lain selain menghubungi Umi kamu. Kamu pasti gak mau lihat Umi sedih kalau tahu kamu kayak gini kan?”


Aku tergugu, air mataku kembali mengalir. Aku paling lemah jika harus disangkut-pautkan dengan Umi. Segala hal tentang beliau memang selalu menjadi kelemahanku.


Pada akhirnya, aku memaksakan tubuh lemahku untuk berdiri. Menyeret tungkaiku untuk membuka pintu. Baiklah, aku menyerah. Aku tak ingin Umi tahu tentang keadaanku sekarang yang begitu memprihatinkan.


“Alhamdulillah.”


Senyum kecil terbit di wajah Mas Daffa begitu aku menampakkan diri di depannya. Tampak sekali wajah leganya, bahkan hampir saja kedua lengannya merengkuhku, namun aku dengan spontan segera menghindar.


“Maaf, saya gak bermaksud. Saya hanya terlalu senang karena akhirnya kamu mau keluar,” ucapnya dengan wajah bersalah.


Aku melangkah dengan sedikit terseok, mendudukkan diri di ruang tengah rumah itu yang sangat luas namun terasa hampa. Baiklah, mari kita selesaikan ini semua, tekadku.


“Kenapa gak ada yang jujur padaku sejak awal kalau aku dijadikan madu, Mas?” Aku mencoba sekuat tenaga memberanikan diri menatap kedua mata Mas Daffa dalam-dalam, mencoba memaksanya untuk berkata jujur.


“Maaf Danisa, awalnya saya sudah mencoba menemui kamu untuk menjelaskan semuanya. Tapi ayah dan bunda saya selalu melarang, bahkan melakukan apa saja agar saya tidak bisa menemui kamu sampai setelah selesai akad. Saya juga tertekan karena tidak mau melakukan ini, rasanya saya seperti menipu kamu dan keluargamu demi pernikahan ini.”


Benar. Memang benar bahwa aku sudah merasa ditipu. Namun melihat kesungguhan yang tersirat di wajahnya, juga nada suaranya yang terdengar sangat frustasi, aku sedikit memercayainya.


“Saya sudah punya istri yang saya nikahi tiga tahun lalu. Saya mencintainya, namun dia tidak bisa memberikan keturunan karena ia menderita kanker serviks dan harus operasi pengangkatan rahim. Tak apa, saya masih tetap akan mencintainya. Tapi orang tua saya tidak, saya anak tunggal dan tentu saja mengemban harapan besar kedua orang tua saya yang ingin memiliki cucu.”


Mas Daffa bercerita dengan nada sendu, membuat hatiku yang mengeras perlahan mulai melembut. Ia sama frustasinya denganku. Ia tak menginginkan pernikahan ini terjadi, namun kehidupannya seakan masih berada dalam genggaman orang tuanya.


“Lalu, bagaimana dengan istrimu? Apa dia setuju dimadu?” tanyaku dingin.


Wanita mana yang rela jika harus berbagi suami dengan wanita lain. Walaupun kondisi yang memaksa, pasti jauh di lubuk hatinya akan ada perasaan tak rela.


“Hana itu wanita yang luar biasa. Sebelum ayah dan bunda memaksa saya untuk menikah lagi, jauh-jauh hari ketika pertama kali mendengar kabar bahwa dia terkena kanker, dia sudah menyuruh saya untuk menikah lagi, karena dia sadar bahwa tidak akan bisa memberikan keturunan untuk saya.”


Bibir Mas Daffa melengkung lebar saat membicarakan istrinya. Saat itu pula aku menyadari bahwa perasaan pria itu pada istrinya sangatlah besar dan tak main-main. Mas Daffa sungguh mencintainya.


Aku menghembuskan napas panjang, sejenak terpana pada penuturan Mas Daffa soal keikhlasan istrinya. Bagaimana bisa di jaman sekarang, ada wanita yang begitu luar biasa sepertinya?


Mendadak, aku merasa malu pada diriku. Pernikahan ini, bukan aku atau Mas Daffa yang paling tersakiti. Namun justru istri pertamalah yang mendapatkan luka paling besar.


Hanya karena satu kekurangan, ia harus membagi cintanya dengan wanita lain. Hanya karena tidak bisa memberikan keturunan, ia harus mengikhlaskan perasaannya, menyaksikan suaminya menikahi wanita lain.


Aku tahu bahwa ikhlas itu berat, namun mengapa seolah ia melakukannya dengan sangat mudah?

__ADS_1


__ADS_2