
Aku menghabiskan suapan terakhirku dengan cepat. Makanan yang dibawakan oleh Mas Daffa ternyata masakan Mbak Hana, dan rasanya sangat enak. Mengingatkanku pada masakan Umi.
Mbak Hana masih betah berada di sini, sedang Mas Daffa sudah berangkat ke kantornya. Katanya Mbak Hana ingin seharian di sini menemaniku sekaligus ingin mengakrabkan diri.
Aku segera membereskan peralatan makanku dan mencucinya sekalian, ya seperti kebiasaanku yang tak bisa hilang. Inilah mengapa aku berkata pada Mas Daffa tak perlu mencarikan asisten rumah tangga, karena aku terbiasa dan suka melakukan pekerjaan rumah sendiri.
Selesai dengan piring dan alat makan, aku menghampiri Mbak Hana yang duduk di ruang tengah sembari membaca buku dengan tenangnya. Ya, walaupun aku merasa canggung, namun aku tak bisa menolak ketika Mbak Hana bilang ingin dekat denganku.
“Mbak Hana suka Chairil Anwar ya?” tanyaku ketika melihat buku yang dibaca Mbak Hana, buku kumpulan puisi.
Mbak Hana mengangguk dan tersenyum, menunjukkan bait puisi yang ditandai spidol merah. “Tuhan-Ku, aku hilang bentuk. Tuhan-Ku, aku mengembara di negeri asing. Tuhan-Ku, di pintu-Mu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling.”
Aku mendengarkan dengan seksama kala ia membacakan bait puisi yang ditandai tersebut. Ikut tersenyum kala Mbak Hana tersenyum menatapku dalam-dalam.
“Itu bait favorit aku dan juga puisi favoritku. Dengan kalimat yang ringan dan mudah dipahami, namun sarat akan arti. Puisi yang selalu jadi kekuatanku ketika aku berada di titik paling rendah. Bahwa apapun keadaanku, apapun masalahku, sudah seharusnya aku berpasrah dan mempercayakan segala urusanku pada Allah. Karena Allah, satu-satunya tempat terbaik untuk kita kembali,” ucap Mbak Hana.
Aku mengangguk-angguk, menyetujui ucapan Mbak Hana. Bisa kulihat dari cahaya wajahnya, bahwa Mbak Hana adalah hamba yang taat pada Tuhan-Nya. Dari tutur kata yang santun dan caranya memperlakukan semua orang dengan sopan, tentu ia tak akan bisa melakukannya dengan mudah jika tidak tunduk pada sang Kuasa.
Mbak Hana menutup bukunya, kini meraih tanganku untuk digenggamnya erat. Dengan sorot mata yang menyendu, ia menatapku.
“Danisa, aku udah dengar semua dari Mas Daffa. Aku mewakili keluarga Mas Daffa, minta maaf banget sama kamu. Kalau bukan karena aku yang gak bisa kasih suamiku keturunan, kamu gak akan terjebak di pernikahan ini.”
Mendengarnya, aku jadi ikut menyendu. Kembali merasakan hatiku yang berdenyut ngilu dan mataku yang memanas.
__ADS_1
“Sejujurnya, sebagai seorang wanita biasa dengan hati yang sempit sepertiku, aku juga gak rela dimadu. Aku yakin bahkan kamupun sama. Tapi, aku sadar betul akan kekuranganku. Aku gak bisa egois dan memaksa Mas Daffa untuk menerimaku yang seperti ini. Aku tahu, walaupun Mas Daffa selalu berucap tidak apa-apa walau harus hidup berdua saja denganku, tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia ingin memiliki anak. Satu hal yang gak akan pernah bisa aku kasih buat dia.”
Mbak Hana tampak menahan napas untuk beberapa saat, hingga hening yang mengambil alih
atmosfer ruang tengah ini. Kedua maniknya berkaca-kaca, air yang terbendung di dalamnya sudah bersiap tumpah kapan saja.
Ia begitu hancur, aku bisa merasakannya.
Bukan keinginannya sebagai wanita untuk tak bisa mengandung anak. Namun terkadang, takdir Allah tidak ada yang bisa menebak. Pernikahan sempurna yang diselimuti kebahagiaan itu kini kacau balau karena penyakit yang tiba-tiba merenggut rahimnya dengan kejam. Membuatnya merelakan hati dan perasaannya untuk membiarkan suaminya mempersunting wanita lain.
Sungguh tidak adil memang.
“Danisa, aku cuma minta satu hal. Bahwa kamu bisa memberikan harapan terakhir Mas Daffa dan keluarganya untuk memiliki anak. Mungkin memang permintaanku terdengar kejam buat seseorang yang dipaksa menikah jadi istri kedua, tapi aku benar-benar minta tolong. Aku ingin mewujudkan harapan besar Mas Daffa dan seluruh keluarga besarnya. Aku mohon sama kamu, Danisa.”
Aku tak sanggup mengatakan iya ataupun tidak. Bohong jika sekarang aku tidak sakit hati, karena tentu saja aku berpikir jika mereka memanfaatkanku habis-habisan. Tapi aku juga tak sanggup mengatakan tidak, melihat betapa putus asanya Mbak Hana sampai memohon kepadaku.
“Aku tahu ini juga berat buat kamu, Danisa. Kamu pasti sekarang merasa dimanfaatkan, kan? Aku paham, kok. Aku gak akan maksa kamu buat cepat-cepat kasih Mas Daffa keturunan, pelan-pelan aja kapanpun kamu siap,” kata Mbak Hana lagi melihatku hanya tertunduk diam. Sepertinya ia tahu betul apa yang aku pikirkan.
“Tenang aja Mbak, aku udah mutusin buat nerima pernikahan ini. Berarti aku juga udah seharusnya siap dengan segala risiko ke depannya, termasuk soal mengandung anaknya Mas Daffa. Tapi, aku gak bisa melakukannya dalam waktu dekat. Jujur saja, aku belum siap,” ucapku pada akhirnya.
Mbak Hana tersenyum tipis, mengelus-elus punggung tanganku dengan penuh kelembutan. “Terima kasih ya, Danisa.”
Hidup memang lucu. Siapa yang akan menyangka jika aku akan dengan mudahnya mengiyakan permintaan Mbak Hana, juga menerima pernikahan ini. Hidup memang suka bercanda. Mengaburkan semua prinsip dan ekspetasiku, menggantikannya dengan kisah unik yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
__ADS_1
Setelah perbincangan yang menguras emosi itu, aku dan Mbak Hana sepakat untuk tidak akan membicarakannya lagi. Kami mengobrol ringan layaknya teman setelahnya. Hingga waktu tiba-tiba sudah mendekati sore dan matahari hampir terbenam.
Mungkin kami akan semakin lupa waktu jika saja Mas Daffa tak muncul dan menginterupsi obrolan. Ternyata memang sudah pukul lima lebih, pantas saja Mas Daffa sudah kembali dari kantor.
“Udah sore, ayo pulang!” ajak Mas Daffa pada Mbak Hana, mencium keningnya dengan penuh sayang. Sedangkan aku yang melihatnya hanya memalingkan wajah tak mau melihat kemesraan mereka karena jujur saja sedikit menyakitkan.
“Kamu malam ini tidur di sini aja, Mas. Kalian baru nikah tiga hari dan kamu sama sekali belum tidur di sini loh,” kata Mbak Hana membuatku agak terbelalak.
Apa maksudnya ini? Mbak Hana meminta Mas Daffa untuk tidur di rumah ini, bersamaku?
“Tapi kamu masih sakit sayang, kata dokter masih butuh perawatan.”
Kali ini aku benar-benar merasa seperti obat nyamuk. Hanya aku yang tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Mas, ingat! Kamu sekarang punya dua istri, dan kamu wajib berlaku adil. Kemarin udah nemenin aku, jadi seminggu ke depan kamu harus di sini nemenin Danisa. Aku gak apa-apa kok, lagian ada Bunda di rumah.”
Aku tercengang ketika Mbak Hana mengatakannya dengan lugas. Bersikeras menyuruh Mas Daffa untuk tetap di sini, dan lucunya Mas Daffa tidak bisa menolak.
“Aku udah hubungin Pak Danu buat ke sini jemput aku, jadi kamu gak perlu nganterin. Nanti aku suruh Pak Danu buat ke sini lagi anterin pakaian kamu buat ke kantor biar gak usah bolak-balik ke rumah.”
Mbak Hana ngotot sekali meminta Mas Daffa untuk tinggal, hingga membuatku jadi tak enak hati. Mas Daffa tak sempat melayangkan protes ketika seorang pria patuh baya masuk dan menyapa Mbak Hana. Sepertinya bapak itu adalah sopir keluarga mereka yang bernama Pak Danu.
Mbak Hana benar-benar berpamitan setelahnya. Membuatku kini dirundung cemas karena ditinggal berdua saja dengan Mas Daffa hingga suasana di antara kami menjadi canggung.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan?