Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
3. Selamat Tinggal


__ADS_3

Kak,


Teruntuk dirimu yang selalu aku damba dalam untaian doa,


Untuk dirimu yang hanya bisa kutitipkan pada Yang Maha Esa,


Untuk dirimu kudoakan selalu bahagiamu.


Kak,


Sayyidina Ali Bin Abi Thalib pernah berkata,


Bahwa apa yang sudah menjadi takdirmu, kelak ia akan menemukan jalannya sendiri untuk menemukanmu.


Kak,


Setiap malam aku selalu melangitkan doa, berharap bisa menggelitik Yang Maha Kuasa agar mempersatukan kita.


Tapi Kak,


Apakah Yang Kuasa tidak bisa menyatukan kita? Apakah bukan engkau takdir yang kupinta?


Kak,


Jika kelak aku kecewa karena takdir tak mempertemukanku denganmu, apakah aku boleh mengeluh kepada Tuhan-Nya?


Kak,


Jika memang cinta yang bersemu ini tiada harapan untuk menghampirimu, apakah aku harus mengucapkan selamat tinggal?


Ya, selamat tinggal Kak. Bersama angin kutitipkan rindu ini padamu.


Salam, Danisa Ainun Mahya.


Tubuhku melemas kala aku menulis catatan terakhir sebelum akhirnya melipat surat yang kelima puluh empat ini. Hanya lima puluh empat yang bisa aku kumpulkan dalam satu tahun terakhir. Pada akhirnya, aku sama sekali tak punya kesempatan untuk menyampaikan semua surat ini kepada empunya.


Ruang kelas sudah kosong dan hanya ada aku sendirian menatap keluar jendela, dengan segala pikiran yang seperti benang kusut. Pertengkaran pagi tadi dengan Abi dan Umi benar-benar menguras semua tenaga dan emosiku hari ini. Aku bahkan sama sekali tak bisa fokus pada materi Filsafat Pendidikan Islam kali ini karena

__ADS_1


pertengkaran tadi selalu membayangi.


Betapa kali ini aku merasa menjadi anak yang durhaka. Hatiku berdenyut ngilu kala melihat air mata Umi meleleh karenaku. Sungguh aku merasa berdosa sekali karena membiarkan wanita yang melahirkanku sampai menangis sedih. Pun dengan Abi yang sangat berang dan tak segan-segan membentakku untuk pertama kalinya.


Apa memang mempertahankan hakku sebegitu berdosanya? Hingga aku merasa sangat menyakiti orang tua yang paling aku sayangi.


“Danisa, belum pulang?”


Aku tersentak kaget kala sebuah suara menyapa runguku dengan ramah. Manik mataku segera menangkap sosok lelaki tinggi berkacamata yang menyapaku dengan senyuman manis.


Ya Allah, manis sekali. Sungguh aku ingin memekik sekuat tenaga saat melihatnya.


Iya, si asisten dosen yang kukagumi menyapaku. Tersenyum kepadaku. Juga, ia menyebut namaku dengan manisnya. Kak Rendra, melihatmu aku jadi ingin melemparkan semua surat yang sudah kutulis untuknya, agar setidaknya ia tahu perasaanku.


Tidak. Aku tak bisa.


Keadaanku sekarang jelas tak memungkinkanku untuk berlaku sefrontal itu. Baru saja kutulis surat selamat tinggal untuknya, karena aku pesimis bisa mempertahankan perasaan ini untuk waktu yang lama.


Aku tersenyum dan menggeleng. “Belum kak, ada tugas jadi sekalian aku kerjain di sini berhubung lagi rajin.”


“Ya sudah, nanti hati-hati ya pulangnya.” Kak Rendra tersenyum sekali lagi sebelum akhirnya pamit pulang. Ia kembali ke kelas karena buku catatannya tertinggal.


Sepeninggal Kak Rendra, aku kembali merenung. Rasanya malas sekali jika harus kembali ke rumah, tapi aku tak tahu harus pergi ke mana. Jujur saja, aku tergolong anak pendiam dan jarang sekali keluar rumah. Sehingga pergaulanku kurang luas dan sudah tentu aku susah mencari teman.


Aku menikmati kesendirianku. Jauh dari hiruk-pikuk cemoohan orang dan hidup menikmati duniaku sendiri. Aku lebih senang berkutat dengan novel dan buku kumpulan puisi.


Pada akhirnya aku beranjak, mau tak mau aku harus pulang karena tak punya tempat tujuan lain yang bisa didatangi. Walau sepanjang jalan melamun, memikirkan apa yang harus aku lakukan di rumah dalam keadaan dingin seperti sekarang.


Aku mendesah panjang. Sepertinya mengurung diri di kamar bukan ide yang buruk.


***


“Kak Nisa berantem ya sama Abi dan Umi?”


Ghina, adikku yang paling besar memasuki kamarku selepas isya sembari membawa sepiring nasi beserta lauknya. Melihat makanan itu, cacing-cacing di perutku langsung berlomba mengeluarkan dendangnya yang paling nyaring. Lapar sekali karena sejak pulang tadi sore aku belum makan.


“Umi nyuruh aku bawain kakak makanan soalnya dari pulang kuliah kakak belum makan.” Ghina meletakkan piring berisi nasi itu di atas meja belajarku. “Jangan lama-lama kak kalo berantem sama orang tua, kasihan Umi dari tadi kepikiran kak Nisa terus.”

__ADS_1


Aku diam, beringsut turun dari tempat tidur dan mendudukkan diri di depan meja belajar. Masa bodoh dengan pertengkaran itu, yang terpenting menenangkan cacing perutku lebih dulu.


“Ada masalah apa sih kak? Kak Nisa boleh cerita sama aku kalau emang gak sanggup dipendam sendiri,” kata Ghina lagi. Ia mendudukkan diri di atas tempat tidurku, memperhatikan aku makan.


“Kamu gak perlu tahu, ini masalah orang dewasa,” jawabku acuh.


Bagaimanapun, aku tidak ingin menyeret adik-adikku ke dalam masalah ini. Walaupun Ghina sudah tergolong dewasa dan menginjak kelas dua SMA, namun bagiku dia masih saja adik kecilku.


“Kak, aku udah gede loh!” Ghina merajuk kesal, membuatku tertawa kecil dibuatnya.


“Aku gak suka kalau Abi sama Umi membebani kakak dengan semua masalah, hanya karena kakak anak pertama. Kita keluarga, harusnya kita tanggung semuanya bareng-bareng, kan?”


Aku memelankan kunyahanku ketika mendengar protes Ghina. Tanpa sadar membuatku tersenyum kecil namun di satu sisi merasa sedih. Adikku sudah mulai dewasa dan memahamiku.


“Udah, aku gak apa-apa kok, nantinya kalau aku udah nikah dan ikut suami, kamu siap-siap aja gantiin aku jadi kakak tertua di rumah,” kataku sedikit tertawa, agar Ghina tidak terlalu khawatir.


“Kakak tadi malem dilamar ya? Kakak udah mau nikah?”


Pertanyaan Ghina hampir saja membuatku tersedak. Tahu dari mana anak ini?


“Kakak bilang mau kuliah tinggi dan jadi dosen. Kalau kakak nikah secepat ini, lalu mimpi kakak gimana?”


Ghina benar-benar membuatku ingin meneteskan air mata. Aku meletakkan sendok yang kupegang dengan tangan yang melemas. Nasi di piring masih tersisa separuh, dan aku sekarang aku jadi tak bernafsu untuk makan lagi.


“Maaf kak, kemarin malam aku nguping pembicaraan di ruang tengah. Aku kasihan sama kakak, kenapa kakak harus jadi korban keegoisan orang tua kita.”


Aku mendengar suara Ghina mulai bergetar, membuatku memutar tubuh agar bisa menatapnya. Wajahnya sudah sembab dengan air mata yang mengaliri pipinya. Aku tak mengerti mengapa dia menangisiku.


Lalu, berbagai kata mulai meluncur dari mulut Ghina. Panjang sekali cerita yang ia sampaikan padaku. Tentang lamaran mendadak itu, tentang pertengkaranku dengan Abi dan Umi. Tentang bagaimana perjodohan itu bisa disetujui oleh Abi. Juga, tentang alasan sebenarnya di balik semua paksaan terhadapku.


Aku tergugu.


Tubuhku melemas mengetahui semuanya yang dikatakan Ghina. Bagaimana adikku itu menangisiku karena kasihan terhadapku. Bagaimana bisa Ghina mengetahui semua itu? Dari mana saja ia mendapatkan semua informasi itu?


Aku mulai menangis.


Menangisi hidupku yang menjadi korban dari semua ini. Menangisi diriku yang kali ini sepertinya memang benar-benar harus mengucapkan selamat tinggal pada semua mimpiku.

__ADS_1


__ADS_2