Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
11. Ajarkan Aku Mencintaimu


__ADS_3

Aku masih mengingat dengan jelas ucapanku semalam pada Mas Daffa. Setelah itu hubungan kami jadi canggung, bahkan tak berbicara satu sama lain. Entah apa yang dipikirkan pria itu terhadapku sekarang, aku tak terlalu peduli.


Kulkas yang kemarin begitu kosong melompong kini sudah terisi penuh. Aku tak tahu kapan Mas Daffa mengisinya, namun pagi-pagi ketika aku hendak memasak, ternyata sudah penuh akan bahan makanan dan buah-buahan segar.


Karena tak tahu apa yang disukai Mas Daffa dan aku malu untuk bertanya, aku akhirnya hanya masak seadanya, yang bisa aku olah dengan bahan-bahan di kulkas. Tumis jamur dan telur balado. Tak lupa kuhidangkan buah jeruk dan pisang sebagai makanan penutup.


Aku melirik jam yang tertempel di dinding, ternyata sudah pukul tujuh dan Mas Daffa belum keluar dari kamar, padahal seharusnya setengah jam lagi ia harus berangkat bekerja. Kugembungkan pipi menahan rasa frustasi. Terpaksa aku kali ini harus memanggilnya dan berbicara dengannya.


Pintu kamar terbuka sedikit, membuatku tak tahan untuk tidak mengintip Mas Daffa. Loh, pria itu masih memakai piyama dan sedang menelepon seseorang. Dari nada suaranya, mereka tampak sedang berdebat, membuatku mengurungkan niat untuk masuk.


Ya sudah, aku akhirnya kembali ke dapur untuk mencuci piring. Nantinya kalau lapar juga pasti ia akan makan.


Pernikahan ini membuat pikiranku menjadi lebih ruwet. Untung saja kuliahku memang sedang libur, jadi aku tidak tambah terbebani oleh tugas-tugas yang ada. Aku bisa lebih leluasa dalam berpikir apa yang bisa aku lakukan ke depannya.


Aku terlalu larut dalam pikiranku hingga tak sadar Mas Daffa sudah keluar kamar dan duduk di meja makan. Hingga ketika ia menyerukan namaku, aku baru bisa lepas dari lamunanku.


“Mas Daffa gak kerja?” tanyaku begitu mendudukkan diri di depannya.


Pria itu diam sejenak, wajahnya tampak pilu dan tidak enak. “Hana mengajukan cuti untukku seminggu. Dia ingin selama seminggu ini saya gak ke mana-mana buat nemenin kamu.”


Aku terperangah, tak sanggup berkata-kata. Mbak Hana ini istri macam apa sih? Bagaimana bisa ia tak berlagak cemburu pada istri kedua dan malah mendorong suaminya agar bisa akur denganku? Aku benar-benar tak habis pikir dibuatnya.


“Padahal gak perlu segitunya,” gumamku lirih sekali. Namun bisa kulihat ekor mata Mas Daffa melirikku dalam diam.


“Jangan salah paham, Hana mungkin ingin agar kita bisa saling mengenal. Bukannya dia membebani kamu agar segera hamil, Hana tak seperti itu.”


Loh, padahal gerutuanku juga tak mengarah ke sana kok. Aku tahu Mbak Hana baik dan gak akan memaksaku untuk cepat-cepat hamil, aku bahkan tak ada niat untuk menuduhnya. Tapi melihat Mas Daffa yang dengan sangat sigap melancarkan pembelaan untuknya, aku jadi dongkol sendiri.

__ADS_1


“Iya, aku tahu,” jawabku singkat. Mengunyah jamur enak di mulutku dengan agak kasar karena rasa kesal.


Sabar Danisa, sabar.


Sekarang, untuk seminggu ke depan, aku harus terjebak bersamanya di rumah ini. Lalu, apa yang bisa aku lakukan jika hanya berdua dengannya?


“Maafin ucapan saya semalam, Danisa.”


Mas Daffa tiba-tiba membuka mulutnya, menghilangkan keheningan yang tadinya hanya diisi oleh dentingan antara sendok dan piring. Membuat kepalaku yang menunduk, seketika terdongak untuk menatapnya.


Harus jawab apa ya?


“Iya gak apa-apa kok Mas, lagipula itu kenyataannya. Aku juga lebih suka kalau Mas Daffa jujur kok.” Aku menimpali dengan ringan, seolah itu bukan masalah. Walaupun sebenarnya ucapannya semalam membuat hatiku nyeri entah karena apa.


“Saya terbawa emosi semalam. Saya gak bermaksud buat menyakiti hati kamu, Danisa. Saya juga mau berusaha membuka hati, karena gak mungkin pernikahan ini bisa terus berjalan tanpa adanya cinta.”


Duh, aku harus jawab apa? Kecanggungan ini lama-lama bisa membunuhku.


“Danisa, izinkan saya untuk bisa belajar mencintaimu.”


Eh?


Aku tak salah dengar kan?


Aku hampir saja menjatuhkan rahang saat Mas Daffa mengucapkan kalimat itu. Rasa-rasanya sangat tak masuk akal, karena baru semalam ia bilang bahwa hatinya hanya milik Mbak Hana.


Jamur yang kumakan rasanya tidak bisa tertelan, menyangkut di tenggorokanku, membuatnya tercekat. Jujur aku shock, aku bahkan tak tahu harus merespon apa. Tatapanku terpaku pada kedua manik kelam Mas Daffa, bertanya-tanya apa maksud ucapannya. Seriuskah ia?

__ADS_1


“Saya sudah berpikir semalaman, menyadari kamu terluka atas ucapan saya. Buat saya, makna pernikahan itu sakral dan tidak boleh ternodai. Saya sudah menerima pernikahan ini, maka sudah seharusnya pula saya wajib bertanggung jawab atas dirimu, dunia dan akhirat. Bagi saya, begitulah tugas yang dibebankan pada seorang suami.”


Aku *******-***** buku jariku dengan perasaan gelisah. Kukira, setelah percekcokan semalam, Mas Daffa akan berlaku dingin dan tak menganggap keberadaanku. Ternyata aku salah besar.


Mas Daffa adalah pria paling bijak yang pernah aku temui. Awalnya aku heran mengapa ia sangat menuruti ucapan dan perintah Mbak Hana, namun sekarang aku paham. Tidak. Ia tidak melakukannya karena Mbak Hana yang meminta. Ia melakukannya karena itu memang yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang suami. Mbak Hana hanyalah alarm pengingat ketika mungkin saja ia lupa.


Mas Daffa adalah sosok suami seutuhnya, yang selalu berusaha menaati kewajiban yang sudah seharusnya ia lakukan. Ia pria dewasa yang sadar akan tanggung jawab. Ia melakukan kesalahan, namun segera menyadari dan minta maaf.


Aku tersenyum tipis, menyadari telah dibuat takjub olehnya hanya dalam waktu satu malam. Bahwa Mas Daffa tidak sejahat itu, ia juga tak ingin memanfaatkanku.


“Maaf Mas, semalam aku juga bertingkah di luar batas. Maafin aku,” ucapku tulus, tertunduk menyadari bahwa awal dari percekcokan semalam adalah ulahku yang tak bisa mengontrol lidah.


Aku merasa malu, aku yang memancing keributan dan membuat keruh masalah, namun Mas Daffa tak segan untuk meminta maaf lebih dulu.


Mas Daffa tersenyum tipis, menatapku dengan kedua iris kelamnya yang kini memancarkan sorot teduh. “Saya sadar, kamu masih terlalu muda untuk menghadapi pernikahan apalagi tidak atas kemauan kamu sendiri. Sudah seharusnya saya yang lebih dewasa bisa membimbing kamu, namun saya gagal karena terlalu terbawa perasaan bersalah pada Hana.”


Aku tak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya diam mendengarkan Mas Daffa, agar ia bisa dengan leluasa mengeluarkan isi hatinya.


“Saya juga manusia biasa, Danisa. Saya banyak melakukan kesalahan, mungkin juga ke depannya saya tidak akan bisa selalu berlaku adil padamu dan Hana. Tapi, jika saya menyakiti hatimu, tolong tegur saya. Ingatkan saya bahwa kamu sekarang adalah tanggung jawab saya, hidup kamu, kebahagiaan kamu, masalah kamu, saya harus ikut andil di dalamnya.”


Aku tak tahu harus bahagia atau sedih, karena tanpa sadar berarti Mas Daffa sebenarnya sudah mulai bisa menerima pernikahan ini. Aku memang tidak mencintainya, atau mungkin belum, namun mendengar ucapannya kali ini membuat hatiku merasa tenang tanpa sebab.


“Danisa.”


“Ya?”


Aku mendongak, menatap tepat pada irisnya yang penuh pesona. Tak menyangka jika ucapan selanjutnya yang ia lontarkan, sanggup membuat gempa bumi besar yang meluluhlantakkan hatiku.

__ADS_1


“Ajarkan saya untuk bisa mencintaimu karena Allah.”


__ADS_2