
“Huft ...”
Aku menghembuskan napas berkali-kali untuk sekedar mengurangi rasa gugup yang mulai menyerangku bertubi-tubi. Kedua tungkaiku bahkan tak ingin berhenti mondar-mandir di depan meja rias sembari sesekali menatapi figur diriku yang terpantul di cermin.
Aku tak tahu mengapa aku bisa segugup ini. Memikirkan bahwa malam ini aku harus tidur bersama Mas Daffa, membuatku jadi gelisah. Aku tak siap. Bagaimana jika Mas Daffa meminta haknya sebagai suami untuk dilayani kebutuhan batinnya? Bukankah sebagai seorang istri, aku berkewajiban untuk memenuhinya?
Astaga, tapi aku benar-benar tak siap! Memikirkannya saja sudah membuatku merinding tak karuan.
Sibuk dengan pikiran dan batinku yang sedang berperang, suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar membuatku menahan napas takut, menyadari Mas Daffa di balik pintu, menyuarakan namaku.
“Y-ya?”
Duh, kenapa suaraku bergetar sih? Jantungku juga rasanya tidak bisa diajak bekerja sama, mendadak berdegup dengan gila.
“Saya boleh masuk?” tanya Mas Daffa dengan sopan, membuat perutku tergelitik sesaat.
“Iya, silahkan Mas.”
Aku segera memutar badan membelakangi pintu ketika mendengar kenop pintu diputar dan langkah Mas Daffa yang mendekat. Aku menggigit bibir bawah kuat-kuat dan jari-jemari yang saling meremas, untuk mengurangi kegugupanku.
“Kamu kenapa belum tidur, Danisa?”
“Belum bisa tidur aja Mas,” jawabku sekenanya. Tak mungkin aku menjawab bahwa aku kaku dan canggung jika harus disuruh untuk melayaninya, kan?
__ADS_1
“Tidur aja, biar besok gak kesiangan sholat subuh.”
Samar aku mendengar suara springbed yang berderit, namun aku terlalu takut untuk berbalik badan menatap Mas Daffa. Aku tahu Mas Daffa sudah menunggu di atas tempat tidur. Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku masih diam terpaku di tempatku, keringat dinginku mulai menetes. Aku mulai melangkah pelan, masih dengan tubuh yang memunggungi Mas Daffa. Beringsut sedikit demi sedikit sampai kakiku terasa menyentuh ujung ranjang springbed.
“Saya tahu kamu belum siap buat pernikahan ini, Danisa. Jadi saya juga gak akan memaksa kamu buat melayani saya sebagai seorang istri. Gak perlu takut karena saya gak akan ngapa-ngapain kamu,” kata Mas Daffa lembut.
Ucapannya itu perlahan membuatku berani untuk membalikkan badan, menatap wajah pria itu yang tersenyum lembut sejenak. Hatiku jadi sedikit lega karena untuk malam ini aku masih aman dan tak harus melayaninya, walaupun entah besok-besok apa ia masih akan menjaga perkataannya.
Aku paham, walaupun aku menikah atas dasar paksaan, makna dari pernikahan itu tak akan pernah berubah. Sakral karena terikat ikrar kepada Sang Maha Pencipta secara langsung. Aku menyadarinya, makanya ketika aku memutuskan untuk menerima pernikahan ini, aku sudah bertekad untuk melayani Mas Daffa sebaik mungkin sebagai seorang istri.
Walaupun aku belum siap, aku selalu berusaha untuk siap kapanpun Mas Daffa membutuhkanku.
Bisa aku dengar Mas Daffa membuang napasnya yang terdengar panjang dan berat. Walau tak mengatakannya, aku tahu sebenarnya saat ini ia pasti sedang memikirkan Mbak Hana.
“Gak usah terlalu dipikirkan, Hana masih terluka hatinya karena beberapa musibah yang menimpanya dua tahun terakhir. Dia ingin sekali memiliki anak, dan ketika tahu bahwa rahimnya harus diangkat, dia jadi depresi dan gak bisa menerima dirinya sendiri.”
Aku tergugu, membayangkan betapa pelik luka batin yang diderita Mbak Hana. Bahkan aku sendiri tak akan sanggup untuk menghadapinya jika itu semua menimpaku.
“Lalu, Mas Daffa sendiri gimana? Mbak Hana bilang kamu ingin sekali punya anak.” Aku memalingkan wajah, menatap pria itu yang sibuk dengan buku filsafat tebal yang sedang dibacanya. Entah sejak kapan aku mulai punya keberanian untuk bicara terang-terangan padanya. “Aku gak apa-apa Mas, lagian juga tujuan orang tuamu menikahkan kita kan agar aku bisa mengandung anakmu.”
Kedua bola mata kelam milik Mas Daffa berhenti berotasi kala aku mengucapkan kalimat itu. Kuperhatikan mimik wajahnya, rahangnya mulai mengeras dan jari yang bersiap membuka halaman buku selanjutnya langsung terhenti. Terpaku pada udara yang kosong.
__ADS_1
Aku hanya ingin bersikap jujur, tak ingin ada lagi kebohongan walau mungkin Mas Daffa hanya menganggapku istri yang tak dicintainya. Ia memang baik padaku dan benar-benar menjaga sikap, tapi apa gunanya semua itu jika ia hanya melakukannya karena rasa bersalah. Tak ada cinta ataupun sekedar rasa sayang. Semua sudah ia berikan pada Mbak Hana seorang.
Aku memang tak berharap banyak, juga menyadari posisiku bahwa keberadaanku di sini hanyalah sebagai bentuk kewajiban membayar hutang budi Abi. Tapi, jika benar nantinya aku diharuskan mengandung anak Mas Daffa, bagaimana mungkin aku melakukannya dengan orang yang tidak mencintaiku.
“Danisa.”
Suara berat Mas Daffa yang menyerukan namaku terdengar berat dan dalam. Aku mencoba menatap kedua bola mata kelamnya yang kini memandangku dengan tatapan tajam dan menusuk, membuat rasa merinding mulai menjalari tubuhku.
Pria itu tampak berbeda dengan tatapan mata yang setajam elang itu. Sejenak membuatku terpaku karena tatapan dalamnya seakan berusaha menenggelamkanku.
Aku mengakuinya. Bahwa Mas Daffa itu tampan dan punya karisma yang kuat. Keberadaannya seperti sebuah magnet yang menarik siapa saja yang bertukar pandang dengannya, tak terkecuali aku. Aku menelan saliva ketika Mas Daffa memajukan tubuh, hampir menghimpitku yang bersandar pada ranjang springbed.
“Iya, saya memang ingin punya anak. Tapi saya sudah bilang kan kalau saya akan sabar menunggumu. Tapi kenapa kamu terus memancing saya? Dengar baik-baik ya Danisa, saya menikahimu hanya karena tuntutan kedua orang tua saya. Jadi, jangan berharap kalau nantinya saya akan menyentuhmu dengan penuh cinta, karena hati saya selamanya hanya untuk Hana.”
Aku menahan napas mendengar nada suara Mas Daffa yang begitu dingin dan membelenggu. Pada akhirnya, isi hatinya yang sebenarnya keluar juga.
Aku sudah menduganya. Aku sudah tahu pasti. Namun mendengarnya sendiri dari mulut Mas Daffa, entah mengapa membuat hatiku ngilu. Sakit tak terkira.
Namun aku mencoba tersenyum, tak ingin terintimidasi olehnya. “Aku tahu tanpa harus kamu jelasin kok. Aku hanya menjalankan kewajibanku, pesan Umi untuk jadi istri yang baik buat kamu, Mas. Juga aku mengemban harapan besar kedua orang tua kamu yang ingin sekali punya penerus untuk keluarga mereka.”
Tubuh Mas Daffa yang menegang sebelumnya, kini mulai melembut. Ia kembali menjaga jaraknya, menarik tubuh menjauhiku.
“Kamu gak perlu berusaha buat mencintaiku, Mas. Aku tahu kok, cintamu pada Mbak Hana tak terbatas dan aku gak akan ganggu kalian. Aku ingin lepas dari pernikahan ini ketika aku melahirkan anakmu.” Aku berhenti, merasa tenggorokanku tercekat. Rasa sakit kembali mencekikku tanpa ampun, membuat buliran air mataku ingin sekali tumpah ruah.
__ADS_1
Aku mendongak, menatap tepat iris kelam milik Mas Daffa. “Aku tidak mau terjebak di pernikahan tanpa cinta ini, selama sisa hidupku. Jadi, tolong lepaskan aku ketika keinginanmu sudah terwujud.”