
Seminggu sudah aku menjalani hari-hari dalam belenggu sepi. Setiap hari yang kulakukan hanya tidur, makan, ke kamar mandi. Begitu terus berulang-ulang. Membuatku merasa bahwa kehidupanku seperti tak bermakna.
Aku merasa hampa.
Kenyataan bahwa Mas Daffa sama sekali tak menghubungiku semenjak pulang ke rumah Mbak Hanna, entah mengapa membuatku sangat marah dan kecewa. Bahkan aku sendiri selalu merasa aneh dengan perubahan perasaan dan hatiku yang selalu tak bisa ditebak.
Aku merasa ditinggalkan.
Kini, aku merasa bahwa diriku tak berarti apa-apa.
Pernikahan yang belum berlangsung selama sebulan ini, jujur saja sudah membuatku lelah. Aku lebih banyak menangis daripada tertawa bahagia. Apa memang ini hakikat pernikahan yang sebenarnya?
Entahlah, akupun tak mengerti.
Aku frustasi. Aku bahkan tak berminat untuk meninggalkan tempat tidur dan selimut yang menggulung tubuhku sejak subuh tadi. Nafsu makanku hilang, dan kusadari bahwa rasa depresi ini perlahan menguasaiku dan hampir mengambil alih separuh hidupku.
Aku tak bisa terus begini, namun aku juga tak tahu apa yang seharusnya kulakukan. Aku hanya merasa selalu mengambil keputusan yang salah setiap kali berhadapan dengan pilihan yang sulit. Keputusan yang akhirnya harus aku sesali.
Tubuhku terasa kaku dan tak ingin beranjak, walaupun kedua runguku mendengar ketukan sepatu yang menyeruak memasuki rumah ini. Entah itu pencuri atau perampok aku tak mau tahu. Aku tak punya tenaga untuk bangkit.
Aku bahkan melupakan bahwa sudah dua hari perutku tidak diisi makanan yang layak. Cucian piring di dapur juga lama kubiarkan sampai mungkin sekarang baunya tak tertahankan.
Aku tidak peduli. Aku hanya ingin tidur.
TOK TOK!
Ketukan di pintu kamarpun masih tak bisa menggerakkan tubuhku. Aku bergeming, tak ingin bangun hingga tak lama mendengar suara kenop pintu diputar.
“Danisa? Kamu tidur?”
Ah, itu suara Mas Daffa. Suara berat yang sangat khas yang aku sendiri langsung bisa mengenalinya. Juga parfum khasnya yang beraroma mint yang menyeruak menusuk indra penciumanku dan memenuhi seluruh ruangan.
__ADS_1
Aku bisa merasakan suara langkah kaki Mas Daffa yang berjalan pelan mendekatiku. Kedua ujung matanya yang seteduh senja itu melirikku, keningnya mengerut ketika melihatku tak merespon walau kedua manikku terbuka lebar.
“Danisa? Kamu sakit?” Ia bertanya lagi.
Bukankah seharusnya ia sudah tahu jawabannya? Mengapa repot-repot bertanya? Bukankah seharusnya ia menyadari bahwa ia saja meninggalkanku ketika aku sakit dan tak menghubungiku selama seminggu lebih.
Mas Daffa merendahkan tubuh, berjongkok hingga kedua manik kami berada dalam satu garis lurus. Bisa kurasakan ia menatapku dengan pandangan yang iba dan lembut.
“Kamu kenapa?”
Mulutku tak mau terbuka walau hanya sekedar membalas sapaannya. Justru mataku bereaksi lebih cepat, menitikkan eluh tanpa diminta.
Tanpa kusangka, tangan Mas Daffa bergerak cepat. Tanpa melempar tanya apapun, ibu jarinya mengusap pipiku yang basah. Ia diam, hanya menatapku dengan lembut, membuat hatiku kembali goyah.
Sebelumnya aku sudah membuat keputusan yang berbeda. Keputusan yang aku yakini bisa merubah takdir hidupku untuk ke depannya. Namun melihat wajah tampan dengan kedua tatapan lembut itu, membuatku kembali meragukan keputusan yang sudah kupikirkan matang-matang.
Aku jadi bertanya-tanya, apa arti ini semua.
Atau ini hanya perasaan sementara karena aku merasakan suatu keterikatan akibat jalinan pernikahan ini?
Aku mencoba mencari jawaban pada kedua manik indah milik pria itu. Namun aku hanya menemukan kekosongan di dalamnya. Lalu, apa arti ini semua?
Aku menyibak selimut yang semula menutupi seluruh badan sampai ke tungkak leher, memaksakan tubuh lemahku untuk bangkit dan melawan tatapan Mas Daffa yang seolah mengintimidasiku.
Kuseka dengan kasar aliran bulir bening yang masih menderas di pipi. Mencoba meneguhkan hati untuk kembali mengumpulkan ceceran akal sehatku yang berserakan, untuk memaksanya tetap berada di keputusan awal.
“Mas, ayo kita bercerai saja,” tembakku langsung.
Bisa kulihat ekspresi kaget Mas Daffa yang begitu kentara. Tubuhnya seolah menegang dan kedua maniknya memancarkan tanya. Ia tak bereaksi banyak hingga kami terendam dalam keheningan selama beberapa saat.
“Apa saya melakukan kesalahan yang fatal?”
__ADS_1
Adalah hal pertama yang ia tanyakan padaku. Pertanyaan yang tentu saja sangat sulit untuk kujawab.
“Tidak. Ini bukan salah kamu, Mas. Ini kesalahanku sendiri karena salah mengambil keputusan. Dan ternyata, keadaan ada di luar kendali dan realitanya lebih menyakitkan dari apa yang aku bayangkan.”
Mas Daffa tampak membatu. Ia tak mengucap sepatah katapun, memundurkan tubuh dan meringsak untuk kembali menegakkan tubuhnya.
“Pernikahan ini menyakiti kita semua. Aku, kamu dan Mbak Hana. Bukan ini yang kalian harapkan juga. Aku tak ingin orang-orang memandangku sebelah mata hanya karena aku istri kedua. Aku tak ingin menyakiti hati sesama perempuan hanya untuk membalas hutang budi Abi. Aku, kamu ataupun Mbak Hana, tentu saja gak ada hubungannya dengan orang tua kita. Tidak seharusnya kita ikut menceburkan diri dalam urusan mereka.”
Aku mencoba berucap tegas seperti apa kata logikaku, karena aku tak bisa terus-terusan mengedepankan perasaan dan hatiku yang lemah.
Aku ingin menjadi egois untuk saat ini saja. Aku ingin lepas dan kembali bebas menjalani kehidupan yang kumau. Aku tak ingin menjadi belenggu dan senjata orang tua untuk membalas hutang budi, seakan aku adalah barang yang bisa ditukar tambah dengan harta dan uang.
Aku ingin kembali menjadi diriku. Danisa, si gadis cupu yang punya banyak mimpi.
Mas Daffa menghela napas berat nan panjang. Kepalanya terkulai dan menunduk lemah. Ia memijit pangkal hidungnya dengan gelisah.
“Danisa, saya tidak bisa melakukan itu,” jawab Mas Daffa setelah sekian lama terdiam. Sungguh bukan itu jawaban yang seharusnya, dan bukan yang aku harapkan.
“Kenapa? Karena pesan orang tua kamu? Atau karena permintaan Mbak Hana? Atau karena kamu mau keturunan dari aku?” tanyaku setengah berteriak, frustasi.
Mas Daffa menggeleng, melempar tatapan lemah yang menghunus langsung pada hatiku yang masih bergetar hebat. Melihatnya melemah, membuat pertahananku hampir luluh lantak.
“Bukan, Danisa. Tapi karena janji saya pada Allah yang sudah saya ucapkan saat akad nikah. Jika saya gagal untuk menjagamu, gagal menjaga hatimu sampai kamu meminta cerai, lalu bagaimana saya akan bertanggung jawab saat menghadap Allah nantinya? Tentu saya akan masuk de dalam golongan orang-orang yang melalaikan tanggung jawabnya. Naudzubillah min zalik.”
Aku tergugu mendengar jawabannya yang begitu lugas dan jelas. Jawaban yang benar-benar tak terpikirkan sebelumnya olehku. Jawaban yang seketika membungkamku.
“Maafkan saya, Danisa. Saya sadar kalau saya belum bisa jadi suami yang adil dan mungkin tanpa sadar menyakiti hatimu. Tolong pertimbangkan kembali keputusan kamu. Beri saya kesempatan kedua untuk memperbaikinya, beri saya waktu untuk bisa mengenali dirimu dan membuat kamu bahagia.”
Aku menatap lurus pada kedua manik Mas Daffa, mencari kesungguhan pada ucapannya. Aku tak ingin goyah, namun kembali diruntuhkan oleh ucapan yang keluar dari mulut manisnya.
“Danisa, biarkan saya untuk mencintaimu mulai sekarang.”
__ADS_1