Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
6. Istri Kedua


__ADS_3

“Ini rumah kita, semoga kamu betah ya. Kalau butuh apa-apa gak usah sungkan hubungi saya.”


Daffa Hamizan Ghani.  Ya, itu nama suamiku.


Tepat setelah selesai acara akad dan syukuran sederhana di rumahku, Mas Daffa langsung memboyongku untuk dibawa ke rumahnya. Tentu saja aku tak bisa menolak, karena memang begitulah kesepakatan sebelum kami menikah.


“Namamu Danisa ya? Kamu cantik sekali, mata kamu juga bersinar.”


Seorang ibu paruh baya menghampiriku, tersenyum dan langsung memelukku. Beliau setahuku adalah ibu dari Mas Daffa. Di belakang mertuaku itu, Pak Darum memandangku dengan senyum penuh wibawanya.


Aku bersyukur karena begitu mudahnya orang tua Mas Daffa menerimaku yang bahkan baru hari ini juga kami berkenalan. Semoga ini semua pertanda baik bagi pernikahanku ke depannya.


“Terima kasih Ibu.” Aku tersenyum sopan, tentu saja berterima kasih atas pujiannya.


“Panggil Bunda aja ya, biar kayak Daffa juga manggilnya Bunda. Dan gak usah sungkan-sungkan, anggap saja saya seperti ibu kandung kamu.”


Aku mengangguk-angguk, bingung apa yang harus dibicarakan karena semua terjadi terlalu mendadak dan sangat cepat. Tentu saja aku masih canggung dan bingung.


“Ya sudah, kamu istirahat dulu saja. Kamu pasti lelah kan?”


Lagi-lagi aku hanya mengangguk, akhirnya melangkah pergi menuju kamar yang sebelumnya ditunjukkan oleh Mas Daffa. Samar, aku mendengar Bunda menarik Mas Daffa menjauh dan berbicara setengah berbisik.


Aku tak mendengar begitu jelas perbincangan mereka. Hanya beberapa kata seperti rumah sakit, obat, dan istrimu, yang bisa aku dengar. Walaupun rasa penasaran mulai menggerogotiku, namun aku mencoba menahannya. Mungkin saja memang itu urusan pribadi mereka dan aku tak perlu tahu semuanya, bukan?


Aku mengedarkan pandangan melihat isi kamar yang sudah dipersiapkan untukku. Sangat besar dan luas. Lengkap dengan kamar mandi pribadi, lemari pakaian yang besar, meja rias dengan cermin tinggi, tak lupa tempat tidur berukuran king yang sangat empuk.


Aku mendudukkan diri di atas tempat tidur, mengelus bedcover-nya yang sehalus sutra. Membayangkan betapa nyaman dan nyenyak tidurku ketika dilapisi kain sehalus ini.


Lalu, setelah ini apa ya?


Rasa panas mulai menjalari tubuh dan pipiku ketika memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jujur saja, aku memang benar-benar awam dengan hubungan antar lawan jenis. Aku tak pernah pacaran, bahkan berpegangan tangan saja tidak pernah. Aku menjaga prinsipku untuk menjaga diriku hanya untuk suamiku seutuhnya.


Aku menggeleng kuat ketika pikiranku mulai mengawan ke mana-mana. Mencoba mengenyahkan berbagai pikiran aneh yang mulai menggerayangi.

__ADS_1


Lebih baik aku mandi daripada berpikir yang tidak-tidak.


Aku beranjak, mengobrak-abrik lemari mencari handuk yang bisa aku pakai, namun tak menemukannya. Kalau begini, mau tak mau aku harus bertanya pada Mas Daffa.


Tungkaiku terhenti tepat di ambang pintu yang sudah aku buka sedikit. Entah mengapa tiba-tiba tubuh ini membeku ketika runguku menangkap percakapan Mas Daffa dengan Bunda yang kini terdengar begitu jelas.


“Aku gak mungkin menyembunyikannya dari Danisa, Bun. Lambat laun dia pasti bakal tahu, jadi lebih baik kita jujur.”


“Lalu kamu pikir Danisa bakal terima kalau tahu dia dijadikan istri kedua? Enggak, Daffa!”


Eh? Apa?


Apa maksudnya ini semua?


Istri kedua? Aku ... istri kedua?


“Kamu cuma perlu nyembunyiin sampai dia melahirkan anak kamu, setelah itu terserah kamu. Entah kamu mau jujur atau mau bercerai juga terserah.”


Tubuhku melemas kala mendengar ucapan Bunda. Logikaku seperti tak ingin menerima, menolaknya mentah-mentah, berharap bahwa aku hanya salah dengar.


Tidak mungkin mereka memperlakukanku seperti ini. Bukankah Pak Darum itu teman baik Abi? Lalu apa Abi tahu kenyataan ini? Kalau Abi tahu, mengapa begitu teganya menjebakku ke dalam pernikahan ini?


Terlalu banyak pertanyaan yang bersarang di kepalaku. Semuanya saling mendesak, seperti sangat berusaha untuk meledakkan isi kepala.


Kedua mataku memanas, mengumpulkan ribuan cairan bening yang berdesakan di pelupuk mataku. Pikiranku mulai kalut, ingin segera berlari sejauh mungkin dari sini. Namun tungkaiku justru hanya terpaku di sana, tak mau bergerak sedikitpun.


Ya Allah, apa lagi kali ini?


Aku mati-matian meyakinkan diriku dan menekan ego untuk berani melangkah dalam pernikahan ini. Menerima orang asing yang tak kenal sebagai suamiku. Lalu ternyata aku hanya dijadikan istri kedua?


Buliran bening itu pada akhirnya terjatuh tanpa ragu, membasahi pipiku dengan cepat. Rasa sakit begitu menghantam hatiku dengan sangat keras, mengoyaknya hanya dalam hitungan detik.


Ya Allah, mengapa rasanya begitu menyakitkan?

__ADS_1


Aku memang tak pernah berharap banyak dalam pernikahan ini. Awalnya aku hanya menerima semua ini demi adik-adikku. Namun, aku juga tak pernah menyangka bahwa aku hanya dijadikan madu untuk melanjutkan keturunan keluarga Mas Daffa.


Aku segera menutup pintu dengan keras dan menguncinya, tak peduli jika mereka yang di luar tahu bahwa aku menguping pembicaraan mereka. Pantas saja pernikahan ini terlalu terburu-buru, hanya dalam sebulan sejak Pak Usman mengajukan lamaran kepada Abi. Ternyata semua memang sudah direncanakan secara matang.


Bodoh sekali.


Aku mengumpat diriku dalam hati. Mengapa aku hanya pasrah dan tidak mencoba mencari tahu sebelumnya? Jika saja aku tahu dari awal akan dijadikan istri kedua, tentu aku akan menolak mentah-mentah.


Aku sibuk menangis tanpa suara ketika Mas Daffa di luar sana mengetuk pintu kamar dan memanggil-manggil namaku. Ia mencoba berbicara dan menjelaskan semuanya.


“Danisa, tolong buka pintunya. Saya mau bicara sama kamu.”


Apa yang mau dibicarakan? Apa lagi?


Aku sudah mendengar semuanya dan sudah sangat jelas. Lalu, apa yang harus dibicarakan lagi?


“Danisa, tolong. Saya gak bermaksud menyakiti hati kamu, saya minta maaf.”


Tubuhku melorot di balik pintu. Melemas, tak punya tenaga walau hanya untuk meraung walaupun hatiku sangat ingin. Pikiran dan mentalku sudah terlalu lelah menghadapi cobaan bertubi-tubi yang menerjangku secara bersamaan.


“Danisa, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Tapi tolong buka dulu pintunya.”


Pembohong.


Hatiku mendidih mengingat bahwa pagi tadi aku sempat terkagum akan sosok Mas Daffa yang terlihat lembut dan baik. Nyatanya, ia hanya pria brengsek yang memanfaatkanku.


Berkali-kali aku mengutuk diriku yang dengan bodohnya jatuh pada pernikahan ini. Juga pada senyum hangat Mas Daffa. Rasa kecewa dan sakit hatiku semakin bertambah ketika memikirkan Abi.


Bagaimana bisa orang tuaku sendiri tega membiarkan anaknya menjadi madu?


Aku marah sekali. Pada diriku, pada Abi, pada Mas Daffa dan keluarganya, bahkan pada Allah. Hingga air mataku kering, rintihanku masih saja keluar. Sulit sekali bagiku menerima kenyataan ini.


Angan-anganku untuk memiliki pernikahan yang bahagia seketika luluh lantak dihancurkan

__ADS_1


kenyataan yang menyakitkan. Padahal aku sudah berjanji pada Umi dan Ghina bahwa aku akan bahagia.


Lalu, dengan menyandang status sebagai istri kedua, apakah aku akan tetap bahagia?


__ADS_2