
Tuhan,
Aku ingin menerbangkan tanya
Aku ingin Engkau memberi jawabnya.
Tuhan,
Mengapa Engkau ciptakan hati ini dengan begitu rapuh?
Mengapa Engkau menumbuhkan perasaan ini hingga melukai ego?
Tuhan,
Aku ingin bersimpuh di hadapan-Mu,
Ingin memeluk segala doa yang sudah kuhantarkan lewat sepertiga malamku.
Juga meleburkan ego naif dalam diri ini bersama para bayang semu.
Tapi Tuhan,
Bolehkah aku terhanyut pada perasaan ini?
Segumul dosa yang tak kuinginkan, tapi tak bisa kuhempaskan.
Melabuhkan diri pada dua hati yang entah siapa pemilik sesungguhnya.
Maka Tuhan,
Tolong bantu aku.
Agar tak salah dalam menafsirkan setiap rasa yang Engkau tumbuhkan.
Tolong teguhkan hati ini,
Bahwasanya aku salah dan tak seharusnya takluk pada hati yang tak bisa dikendalikan.
__ADS_1
Danisa Ainun Mahya
“Danisa.”
Suara itu menggema tepat setelah aku menyelesaikan bait terakhir pada buku catatan randomku. Aku menoleh, sudah mendapati Mas Daffa yang masuk kamar dan tersenyum padaku.
Kubalas dengan senyum manis yang kupunya. Senang sekali melihat sosoknya setelah seminggu penuh ia menemani Mbak Hana. Namun ketika aku menelisik garis wajahnya, senyumku dibuat luntur ketika melihat perubahan ekspresinya.
Ada apa lagi kali ini, Mas?
Firasatku mengatakan bahwa ada hal tidak baik yang akan disampaikan suamiku. Aku menunggu, menatap diamnya Mas Daffa yang sangat berbeda kali ini. Pria itu mendudukkan dirinya di atas kasur dan melamun menatapi udara kosong di hadapannya.
Aku enggan melontarkan tanya, tak ingin memaksa Mas Daffa untuk membuka mulut jika memang tak ingin bercerita.
“Danisa, aku minta maaf,” tutur Mas Daffa dengan nada lemah.
Aku mendongakkan kepala, meluruskan pandangan menuju kedua manik tajam miliknya. Aku menatapnya dengan raut wajah datar yang mungkin membuat Mas Daffa kembali bungkam setelah sebelumnya sudah membuka mulut untuk melanjutkan ucapannya.
Lima menit berlalu, dan kami masih berada di posisi yang sama.
Aku mulai jengah dengan situasi hening yang mencekam ini. Hati dan otakku sibuk saling melempar spekulasi tentang hal yang membuat Mas Daffa melontarkan kata maaf.
“Danisa-“
Kami kembali terdiam dengan kegelisahan yang melanda semakin akut. Namun aku segera memberi isyarat mata agar Mas Daffa lebih dulu berbicara.
Tampak ia menghembuskan napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya berkata dengan nada lemah, “aku belum bisa nemenin kamu buat seminggu ke depan, Danisa. Hana masih belum pulih dan dia minta aku buat nemenin di sana lebih lama.”
Anehnya, aku sama sekali tak terkejut.
Kembali kuputar tubuhku menghadap cermin, memunggungi Mas Daffa tanpa memberi jawaban langsung. Ini sudah kedua kalinya. Berarti terhitung dua minggu berturut-turut aku kesepian di rumah ini.
Aku menyibukkan diri dengan pena dan buku yang ada di tanganku, mencoret-coret isinya secara acak. Percuma jika aku mengeluarkan kata larangan, sudah pasti Mas Daffa akan sedikit memaksaku untuk mengerti.
Aku beranjak setelah puas dengan coretan randomku. Beranjak dari dudukku dengan mulut yang masih terkunci. Bisa kulihat dengan ekor mataku jika kedua bola mata Mas Daffa sibuk mengikuti kemanapun kakiku melangkah.
Kubuka lemari bajuku, mengeluarkan beberapa helai pakaian dari dalam sana. Aku mendengkus dengan hati yang jengkel.
__ADS_1
“Pulanglah Mas, Mbak Hana lebih butuh kamu. Kamu bisa cari aku di rumah orang tuaku nanti jika memang butuh aku,” ucapku dengan nada datar. Metaku mencari-cari di sudut lemari tempatku biasa menyimpan tas dan koper.
“Danisa!”
Mas Daffa berseru dengan nada yang sedikit meninggi. Namun itu tidak menghalangi pergerakanku yang dengan cepat memasukkan baju-baju dan jilbab ke dalam tas jinjing yang lumayan besar. Aku pikir, akan lebih baik jika menenangkan diri lebih lama di rumah orang tuaku.
“Tolong jangan seperti ini. Aku minta pengertian kamu sedikit saja.” Nada suara Mas Daffa melemah, menggapai tanganku yang sibuk melipat baju.
Gerakan tanganku terhenti ketika merasakan genggaman erat Mas Daffa. Namun tentu saja, itu tidak cukup untuk meredakan kekesalanku. Aku diam, tidak menepis maupun meresponnya.
“Aku juga minta pengertian kamu sedikit saja, Mas.” Aku berujar dengan datar, enggan menatap matanya langsung. “Aku kesepian di rumah ini sendirian sementara kamu bersama Mbak Hana di sana. Ini udah kedua kalinya dan kamu masih terus minta aku buat pengertian? Tolong sekali ini kamu juga ngertiin aku. Aku juga manusia yang butuh interaksi sosial, bukan terus-terusan berdiam diri di rumah ini sendirian.”
Ya, aku memang egois.
Aku menyadari hanya dijadikan yang kedua, terlebih dipaksa oleh keadaan. Tentu saja Mas Daffa akan lebih memprioritaskan istri pertamanya yang ia nikahi atas dasar cinta.
Namun aku juga seorang istri. Aku bukan pelakor yang hadir dengan sengaja di antara mereka. Aku dinikahi juga atas restu istri pertama dan kedua orang tuanya. Bukankah sudah sepantasnya aku mendapat perlakuan yang adil?
“Mas, izinkan aku bersikap egois kali ini aja. Izinkan aku untuk melarangmu pergi menemui Mbak Hana. Izinkan aku untuk memintamu di sini dan menemani aku. Kalau kamu emang gak bisa, aku gak akan maksa. Tapi tolong, izinkan aku pulang ke rumah orang tuaku. Aku kangen mereka,” lirihku dengan nada lemah.
Bahuku merosot jatuh, bersamaan dengan gumaman kata maaf yang keluar dari mulut Mas Daffa lagi. Memang benar, bahwa aku akan selalu menjadi yang kedua.
Aku mendengkus, tak ingin berharap banyak pada Mas Daffa yang nyatanya masih belum bisa berlaku adil walaupun sudah ada perjanjian tertulis di antara kita. Memang benar, bahwa menjatuhkan harapan pada manusia adalah kesalahan besar. Manusia adalah tempat salah dan dosa, sama halnya dengan manusia yang selalu menggoreskan rasa kecewa.
Aku selesai dengan tas jinjingku, kini beralih memakai jilbab yang tergantung di lemari. Aku tak ingin terjebak di rumah ini sendirian. Sepi dan senyap. Walau terkadang aku menyukainya, namun seringkali aku merasa tercekik oleh perasaan itu.
“Danisa, biar aku antar kamu pulang,” sela Mas Daffa meraih tas yang sudah siap kuangkut.
Aku menarik tas itu hingga genggaman tangan Mas Daffa padanya terlepas. Menggeleng pelan aku berujar lirih, “gak perlu, Mas. Cepat kamu pulang sebelum Mbak Hana merengek minta ditemenin.”
Mas Daffa mengendurkan bahu mendengar ucapanku yang mungkin terkesan sarkatik, tapi aku tak peduli. Aku mengambil tangan kanannya, mencium punggung tangan suamiku itu dengan santun. Setidaknya aku tak melupakan sopan santunku sebagai seorang istri yang masih menaruh hormat pada suami.
“Aku pulang dulu Mas,” pamitku. “Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela. Oh iya, aku gak bawa kunci karena aku gak akan pulang sebelum kamu yang jemput.”
Aku melangkah pelan meninggalkan meninggalkan kamar itu yang sudah hampir satu bulan kutempati sendirian. Tak berharap jika Mas Daffa akan mencegahku pergi karena aku tahu jika Mbak Hana adalah yang terpenting.
Aku mendesah panjang, merasakan pergumulan hatiku yang terasa pedih tak terkira. Tidak ada yang bisa aku harapkan dari seseorang yang hati dan perasaannya tak bisa dibagi.
__ADS_1
Mas, aku ini juga istrimu bukan hanya penjaga rumah kosongmu.