
Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang sangat berat, bagaikan memikul beban berton-ton. Bahkan kurasakan pipiku begitu kering karena air mata yang membekas akibat tangis semalaman suntuk.
Pasti sekarang wajahku sedang jelek sekali. Hidungku terasa sengau dan kedua mataku memanas. Aku melirik cermin di meja rias, ingin melihat bagaimana rupaku setelah menangis semalaman. Namun tubuhku terasa sangat berat, terlebih kepalaku. Akhirnya aku mengurungkan niat, dan kembali menutup mata, mengistirahatkan kepala dan otak yang serasa akan meledak.
Aku lemah sekali.
Hanya karena cemoohan beberapa orang, mentalku langsung terpental. Jatuh terinjak-injak hingga tak sanggup menegakkan kepala.
Memang apa salahku?
Memang apa yang salah dengan menjadi istri kedua?
Lagipula, ini semua juga bukan keinginanku. Mereka yang memandang sinis dan mencelaku, hanya tak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Mereka hanya penonton, namun berani mengomentari hidup sang pemeran utama.
Ah, lagi-lagi aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Aku tak punya cukup nyali untuk berteriak dan memaki mereka yang berbicara seenaknya tentang hidupku.
Ya, seharusnya aku lebih berani. Seharusnya aku mampu menegakkan kepala untuk membela diriku sendiri. Ya, seharusnya.
Kepalaku terasa semakin berat ketika dipaksa untuk mengingatnya. Namun aku harus memaksakan diri karena hari ini Umi akan berkunjung kemari. Setidaknya aku tidak boleh menunjukkan bahwa aku sedang kacau seperti ini.
Aku memaksakan tubuhku untuk bangun, karena harus bersiap membersihkan diri dan menyambut kedatangan Umi. Namun karena terlalu pusing, tubuhku kembali terkulai.
“Jangan bangun dulu, semalam badan kamu panas demam.”
Suara berat Mas Daffa menyeruak masuk, menggema memenuhi keheningan kamar. Tampak ia membawa nampan berisi segelas air dan sebuah mangkuk yang tidak kutahu apa isinya.
Mas Daffa memposisikan diri di sampingku, duduk di tepi ranjang. Punggung tangannya terulur, memeriksa suhu dahiku. Aku diam memperhatikannya, menikmati rasa hangat yang mengaliri wajah dan badanku dengan cepat kala kulit kami bersentuhan.
“Kamu gak berangkat kerja? Kemarin kan cuti terakhir kamu, Mas.”
Aku merasakan tenggorokanku sangat serak dan bahkan bisa mendengar sendiri suaraku yang begitu sengau. Juga hawa panas yang keluar dari napasku, menandakan bahwa aku benar-benar demam.
Ah, bagaimana ini? Padahal hari ini Umi akan datang. Umi tak boleh melihatku sakit begini, bisa-bisa ia khawatir.
__ADS_1
“Gak apa-apa, nanti aku tambah cuti satu hari lagi. Lagian juga, aku bosnya jadi bebas datang kapan aja,” kata Mas Daffa sembari tertawa kecil.
“Terus Mbak Hana gimana?” tanyaku lagi, mencoba menatap kedua netranya yang seolah menghindariku sejak semalam setelah kejadian itu.
Mas Daffa tak langsung menjawab. Ia sibuk mengompres air dingin untuk ditempelkan di dahiku agar demamnya berkurang. Entah apa yang dipikirkannya, raut wajahnya berubah sedikit murung.
Kamu pasti kangen sama Mbak Hana kan, Mas?
“Gak apa-apa, besok aku bisa ke sana. Kamu kan lagi sakit nanti siapa yang jagain? Hana di rumah udah sama Bunda, kok.”
Butuh lima menit lebih baginya untuk menjawab pertanyaanku. Menandakan bahwa ia berpikir sangat keras untuk mengeluarkan sepatah jawaban yang dirasa tepat. Aku tahu ia tak ingin menyakitiku ataupun Mbak Hana.
Aku tersenyum tipis sekali. Hatiku jadi gundah melihat wajah lesu Mas Daffa. Aku merasa berdosa karena hanya karena sakitku, Mas Daffa harus menahan rindunya untuk bertemu istri tercintanya.
“Mas, kalau kamu mau pulang ketemu Mbak Hana, aku gak apa-apa. Mbak Hana kan juga lagi sakit, dia lebih butuh kamu. Aku gak apa-apa kok cuma demam, aku cuma butuh istirahat. Oh iya, nanti siang juga Umi mau ke sini, jadi kalau kamu mau pulang gak apa-apa, nanti ada Umi yang jagain aku.”
Kuperhatikan raut wajah Mas Daffa yang tadinya mendung, berangsur cerah kembali. Memang benar, bahwa hanya kehadiran Mbak Hana yang bisa menerbitkan senyuh cerah milik pria itu.
Aku tak berhak kecewa, aku hanya orang baru yang datang tak diundang ke dalam pernikahan ini. Namun anehnya, salah satu sudut hatiku merasa kecewa.
Aku mengangguk cepat, tersenyum meyakinkannya. “Iya aku baik-baik aja, Mas.”
Tidak. Sebenarnya aku sedang tak baik-baik saja. Aku butuh kamu, Mas.
***
“Umi, Nisa kangen!”
Aku berlari menyambut Umi yang turun dari taksi dengan senyum khasnya yang selalu kusuka. Bergegas merangsek ke dalam pelukan hangatnya, mencium aromanya yang sangat kurindukan.
Bau harum Umi memang selalu bisa menenangkanku. Bahkan kepalaku yang pagi tadi sangat berat, kini terasa lebih ringan kala berada dalam dekapan Umi tercinta.
Aku bersyukur bahwa demamku segera mereda karena Mas Daffa merawatku dengan baik. Sehingga ketika Umi tiba siang ini, keadaanku sudah lumayan sehat. Hanya saja sedikit pusing, namun masih bisa aku tolerir.
__ADS_1
“Suami kamu ke mana?” tanya Umi sembari melihat-lihat sekeliling rumah. Aku segera
menggandengnya untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
“Kerja, Umi. Seminggu kemarin udah ambil cuti dan nemenin Nisa,” ucapku berbohong. Jelas Mas Daffa hari ini tak berangkat, karena untuk seminggu ke depan, ia akan berada di sisi Mbak Hana.
Begitu kami sampai di ruang tamu, Umi tak langsung duduk. Ia tersenyum memandangku. Namun senyum yang sarat akan makna berbeda, yang aku tak tahu apa maksudnya. Lamat, membuatku jadi was-was.
Hal yang tak kusangka selanjutnya, Umi justru menitikkan air mata. Tentu saja membuat senyum bahagiaku luntur dan seketika panik. Umi membawaku ke dalam pelukannya erat.
“Umi kenapa? Ada masalah di rumah?” tanyaku khawatir ketika mendengar isakan Umi semakin pilu.
“Maaf, Nisa. Karena keegoisan Umi dan Abi, kamu harus berakhir seperti ini.”
Aku tak mengerti apa yang Umi tangisi. Mengapa Umi minta maaf? Ada apa sebenarnya?
Aku mengelus punggung kecil Umi yang terlihat rapuh saat ini. Padahal biasanya, punggung itu adalah punggung terkuat yang pernah ada. Tempatku bersandar ketika dirasa keadaan sudah mencekikku dengan kejam.
Kali ini, punggung itu melemah. Tampak rapuh dan tak berdaya.
“Nisa, belum terlambat kalau kamu mau mundur dari pernikahan ini. Umi akan bantu. Umi gak mau kamu dapat stigma buruk di masyarakat karena jadi istri kedua,” tangis Umi semakin pilu.
Umi, ternyata beliau sudah tahu keadaanku. Memang percuma walau bagaimanapun aku berusaha menutupinya, lambat laun semua pasti akan tahu.
Aku merasa seperti ditampar berkali-kali mendengar tangis pilu wanita yang melahirkanku ini. Tangisan Umi yang mengembalikan ingatan buruk semalam, kala teman Mas Daffa yang memandangku dengan sinis dan berbicara buruk di hadapanku.
Benar, rasanya menyakitkan. Hanya mendengar orang lain menilai buruk saja sudah membuatku menangis semalaman. Aku tidak baik-baik saja. Aku sakit. Aku terluka. Bahkan di saat seperti ini, Mas Daffa benar-benar lebih memilih pergi menemui Mbak Hana daripada menemaniku.
Iya, aku yang menyuruhnya pergi. Namun, hati kecilku sebenarnya berharap ia akan tinggal walaupun hanya sehari, setidaknya untuk menenangkanku.
Aku menangis keras dalam pelukan Umi. Mengeluarkan semua emosi yang kupendam sendiri.
Ini terlalu berat dan aku tak sanggup memikulnya sendiri.
__ADS_1
Aku, benar-benar sedang tidak baik-baik saja.