Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
5. Menghadapi Hari Baru


__ADS_3

Tuhan,


Aku mengerti bahwa setiap rencana-Mu adalah yang terbaik


Tuhan,


Walaupun cara-Mu menunjukkan takdir sangatlah jenaka, maka aku ikhlas


Tuhan,


Maka ketika angin di sepertiga malam menghembuskan doaku, akankah permintaanku hanya bayang semu?


Tuhan,


Tak apa bagiku menerima garis takdir yang sudah Engkau lukiskan.


Tapi Tuhan,


Pantaskah untuk kali ini saja aku melangitkan protes?


Benarkah ini yang terbaik?


Bisikkan padaku Tuhan, lewat bayang matahari yang terbenam syahdu,


Lewat alunan merdu seruling yang menghiasi senja di pantai,


Lewat kicauan burung peramai puncak bukit di pagi hari.


Tuhan,


Ku menanti jawab-Mu.


Danisa Ainun Mahya


Aku


memandang cermin yang menampilkan pantulan wajahku yang sudah terpoles make up tipis. Berkali-kali sudah aku mencoba menggerakkan bibir agar mau tersenyum.


Sulit.


Ini sulit sekali.


Pada akhirnya, hari ini datang. Hari di mana aku akan menjadi istri seorang pria yang bahkan belum pernah kutemui sekalipun. Jangankan wajahnya, bahkan namanya saja aku tak tahu.

__ADS_1


Sulit dipercaya. Namun nyatanya semua ini terjadi menimpa diriku.


Pikiranku sekarang kosong. Aku tak tahu setelah ini apa yang harus aku lakukan. Walaupun Umi selama sebulan penuh sudah sering mengajariku berbagai hal tentang seluk beluk rumah tangga, beserta wejangan khas orang tua, namun nyatanya semua tak membantu.


Aku menikah dengan orang asing. Tentu saja, semua tak akan mudah, bukan?


Rasanya sangat aneh. Kukira, semua hal tentang perjodohan dengan orang asing hanya ada di novel fiksi dan serial televisi. Tak kusangka, bahwa aku akan mengalaminya sendiri. Semoga saja aku juga memiliki akhir kisah yang bahagia seperti tokoh utama yang ada di dalam novel.


Tok Tok!


Ketukan di pintu kamar seketika membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum tipis kala melihat Ghina masuk dengan wajah sendunya.


Aku bahkan bisa membaca raut bersalah di wajah manisnya itu.


“Kak, maafin aku.” Ghina menyerbu ke pelukanku, begitu erat hingga membuatku ingin menitikkan air mata.


Ah, dasar aku ini cengeng sekali.


“Kenapa kamu minta maaf?” tanyaku lembut, mengelus puncak kepala adik perempuanku ini.


“Kakak berkorban buat aku dan adik-adik, maafin kami kak kalau belum bisa jadi adik yang baik dan sering nyusahin Kak Nisa.”


Ghina semakin terisak, membuat perasaanku kembali tak karuan. Sungguh aku tidak menyalahkan adik-adikku, aku sendiri yang memutuskan untuk menceburkan diri ke dalam perjodohan ini, terlepas dari hutang budi Abi. Aku hanya berpikir, semua akan lebih mudah jika aku menurut.


Aku tersenyum. Bagaimanapun aku tak boleh menangis karena akan semakin membuat Ghina khawatir dan menyalahkan diri sendiri. Tentu saja, aku harus kuat demi diriku dan adik-adikku.


Ghina pada akhirnya mengangguk dan berhenti merengek. Tepat setelahnya, aku diminta bersiap-siap karena akad nikah akan segera dimulai.


Ya Allah, semoga benar ini yang terbaik untuk semuanya.


***


“Saya terima nikah dan kawinnya Danisa Ainun Mahya binti Zulkifli, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dan uang tunai sepuluh juta rupiah dibayar tunai.”


“Bagaimana saksi? Sah?”


“Sah.”


“Alhamdulillah.”


Gemuruh suara orang-orang yang menghadiri acara itu terasa berdengung di telingaku. Suara mereka saling bersahutan, tumpang tindih membuat kepalaku berputar hebat.


Hari ini akhirnya datang.

__ADS_1


Fakta bahwa aku sekarang resmi menjadi istri dari pria asing yang tidak kukenal, membuatku linglung. Tidak. Aku ingin berlari. Separuh diriku seakan masih belum menerima keadaan ini.


Lalu bagaimana?


Nasi sudah menjadi bubur. Semua terjadi begitu cepat, membuatku menyadari bahwa aku sama sekali tak punya kuasa untuk sekedar menolak.


Aku dikagetkan oleh penata riasku yang tiba-tiba membuka sekat penghubung antara ruanganku dengan mempelai pria. Ya, aku bahkan baru akan melihat wajah suamiku setelah sudah resmi diikat oleh akad nikah. Prosesi akad sendiri menyesuaikan hukum agama Islam yang memisahkan mempelai pria dan wanita, dan baru akan


dipertemukan ketika kata sah itu terucap dari mulut para saksi.


Aku masih tertunduk kala penata riasku menuntunku untuk mendekat dan duduk bersandingan dengan suamiku. Entah mengapa aku sama sekali tak punya keberanian untuk mendongak dan menatap langsung wajah suamiku.


Tentu saja aku tetap menurut kala orang tuaku menyuruh untuk mencium punggung tangan pria itu, maksudku pria yang kini berstatus suamiku. Namun aku masih dibayangi rasa takut untuk melihat seperti apa sosoknya.


“Terima kasih sudah mau menerima pinangan saya, Danisa Ainun Mahya.”


Pria itu berbicara dengan lembut, suaranya yang dalam terdengar berwibawa. Aku mengangguk kecil, tidak tahu harus merespon apa.


Melihat aku yang diam saja dan sama sekali tak tersenyum, Umi segera mendekatiku. Umi tak berbicara, hanya menatapku lembut, tersenyum sembari mengelus-elus punggung tanganku pelan. Seperti biasa, sentuhannya memang selalu bisa menenangkanku.


Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mendongak, memaksakan bibirku untuk tersenyum. Dengan ekor mataku, aku melirik suamiku yang sedang menyambut tamu dengan wajah ramahnya.


Aku tergugu. Melihat wajah pria itu yang tampak bercahaya ketika tersenyum. Ia seolah memaksa siapapun untuk tunduk pada senyumnya, yang kuakui sangat rupawan.


Tanpa sadar, aku ikut tersenyum melihat senyumannya.


Benar, pria itu masih muda. Mungkin belum menginjak usia kepala tiga. Postur tubuhnya tinggi gagah dengan kulit sawo matang yang entah mengapa terlihat eksotis.


Hingga ketika ia menoleh ke arahku, kedua mata kami bertemu. Pancaran matanya terlihat berkilau, seperti menyimpan sejuta pesona di dalamnya. Aku terperangkap. Tak bisa berkutik hingga beberapa saat lamanya.


“Mungkin kita akan canggung untuk beberapa waktu ke depan, tapi kalau kamu butuh sesuatu, jangan ragu buat minta sama saya ya, Danisa.”


Suamiku itu kembali tersenyum, membuatku ikut menarik bibir membalasnya dengan senyum yang sama. Perasaanku berangsur membaik melihat sosoknya, terlebih tatapannya yang meneduhkan.


Baiklah Danisa, ayo semangat. Sepertinya kamu mendapat suami yang baik, kok. Aku sibuk menyugesti diri sendiri.


Tak jauh dari pandanganku, Umi berdiri memandangku dengan mata berkaca-kaca. Tampak Umi memeluk Ghina yang menangis tersedu-sedu, dan kedua adikku yang masih kecil-kecil sepertinya dibawa pergi oleh Abi.


Umi, aku akan baik-baik saja. Aku akan berusaha untuk jadi istri yang baik.


Doakan aku selalu ya Umi, agar aku bisa mengarungi bahtera rumah tangga ini dengan penuh kebahagiaan. Aku akan berusaha menerima pernikahan ini dengan hati yang lapang.


Aku melukiskan senyumku yang paling cantik untuk Umi dan Ghina. Berharap mereka mengerti bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku hanya akan membuat memori indah dalam kehidupan setelah pernikahan. Menghadapi hari baru menjadi seorang istri.

__ADS_1


Ya, semoga saja.


__ADS_2