Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
15. Madu Tak Selamanya Manis


__ADS_3

“Wah...”


Aku memandang takjub pada hamparan bintang yang bertaburan di atas langit. Seakan saling berlomba memancarkan sinar yang paling terang. Hatiku mendadak tenang melihat langit malam yang begitu indah dari atas sini.


Mengapa selama ini aku tak pernah tahu jika ada tempat seindah ini di kota kelahiranku?


“Gimana? Gak nyesel kan dibawa ke sini?” tanya Mas Daffa yang baru kembali dari mushola setelah menyelesaikan sholat isya.


Aku mengangguk dan tersenyum senang. Tak menyangka jika Mas Daffa tahu banyak tempat indah di kota ini. Kukira ia hanya pria rumahan yang gila kerja.


“Mas Daffa sering ke sini, ya?” tanyaku balik.


Ia mengangguk, menyeruput kopi hitamnya perlahan karena uap panasnya yang masih mengepul. “Ini tempat favoritnya Hana.”


Senyumku seketika luntur, terlebih ketika ia justru tersenyum lebar sembari memandang hamparan langit di atas. Ah, semua yang kulakukan hari ini sepertinya kesukaan Mbak Hana.


Memang sih tidak ada yang salah, toh aku juga tetap menyukainya. Namun melihat senyum Mas Daffa yang terlampau lebar jika membicarakan Mbak Hana, membuatku menyadari jika sepertinya sangat tak mungkin aku menempati sedikit saja ruang di hatinya.


Mas Daffa terlalu mencintai Mbak Hana. Ya, aku tahu itu. Sangat sangat paham.


Aku menghela napas panjang, enggan berbicara lagi. Entah mengapa hatiku masih belum nyaman apalagi ketika kembali teringat jika aku hanyalah madu Mbak Hana.


Ya Allah, mengapa hatiku masih saja begitu lemah? Aku merasa belum siap untuk menghadapi perasaan yang rumit ini. Aku selalu saja kesal dan bimbang, membuatku terkadang membenci diri sendiri.


“Danisa, kamu sering melamun ya?”


Pertanyaan Mas Daffa membangunkanku dari lamunan. Aku mengukir senyum kaku dan menggeleng pelan.


“Enggak sebenarnya Mas, cuma emang kadang isi otak sama hati sering bertengkar dan berdebat dan itu hampir setiap saat.” Aku terkekeh ringan, karena memang itu yang sering kurasakan. “Aku jadi sering diam karena harus jeli memilih harus menuruti otak atau hatiku.”

__ADS_1


Mas Daffa ikut terkekeh menanggapinya. “Wajar aja, Allah memang memberi kita keduanya untuk digunakan sebaik-baiknya. Ada kalanya situasi yang kita pikir harus diambil alih oleh hati, namun lebih baik diseimbangkan oleh otak. Karena itu, jalan keduanya harus seimbang. Kalau timpang salah satunya, bisa jadi kita justru bakal jadi manusia kurang beradab dan berilmu.”


Aku mengangguk-angguk, membenarkan apa yang dikatakan Mas Daffa. Sekali lagi aku terkesan karena sikap dewasanya, padahal sore tadi ia masih seperti anak kecil yang riang dan bersemangat. Benar-benar duality yang membuatku terheran-heran.


Aku sudah akan membuka mulut untuk kembali berbicara, ketika sepasang sejoli mendekati meja kami dan seorang pria yang sepertinya seumuran dengan Mas Daffa, menepuk pundak suamiku itu. Aku langsung mengurungkan niatku melihat Mas Daffa menyapa mereka dengan akrab. Pasti kenalannya atau rekan di kantornya.


“Gak nyangka bisa ketemu kamu di sini.” Pria itu tertawa sembari menepuk-tepuk pundak Mas Daffa, serta wanita  di sebelahnya ikut tertawa melihat kedekatan mereka.


“Gimana kabar kalian?”


“Baik pastinya. Kamu sendiri gimana?”


“Alhamdulillah semua baik juga.”


“Eh katanya Hana abis operasi. Gimana kabarnya? Kok aku gak lihat dia sih?” Istri pria itu gantian yang bertanya, membuat senyum lebar Mas Daffa luntur tergantikan senyum kaku.


“Hana baik kok. Dia aku larang keluar dulu soalnya fisiknya masih sering drop. Jadi ya di rumah, dijagain ibuku.” Mas Daffa mencoba tersenyum, walaupun aku bisa melihat senyumnya yang begitu dipaksakan. Mungkin juga tak menyangka akan bertemu temannya di sini.


Keduanya mengangguk-angguk, namun aku bisa melihat dari sudut mataku ketika si pria melirikku lagi, lalu melirik Mas Daffa bergantian. Seolah bertanya melalui tatapan matanya tentang diriku.


Aku mulai merasa tak nyaman. Ingin sekali rasanya berlari menjauh. Sejauh mungkin asal tak berada di situasi seperti ini. Bagaimana ya? Sulit menjelaskan perasaan ini. Hanya saja aku benar-benar tertekan dengan tatapan penuh tanya mereka.


“Oh kenalin, ini Danisa, istriku.” Mas Daffa berucap dengan lugas dan jujur, aku sendiri tak menyangka dengan jawabannya.


Bisa kulihat ekspresi kedua temannya yang menganga kaget. Bahkan si pria tak segan memukul lengan Mas Daffa dengan keras. Serta tatapan si wanita yang melempar tatapan sinis padaku.


Ah, inilah yang kutakutkan sejak awal. Bagaimana stigma masyarakat yang memandang jelek status istri kedua. Bahkan mereka orang awam yang tak tahu bagaimana kisah yang sebenarnya, akan dengan mudah menilai istri kedua sebagai pengganggu rumah tangga orang.


Hatiku terasa semakin tersayat ketika si pria dengan terang-terangan bertanya mengapa Mas Daffa tega menikahiku meski tahu bahwa Mbak Hana sedang memperjuangkan diri dari penyakitnya. Sungguh aku ingin lari sekarang juga.

__ADS_1


“Hana gimana, Daf? Dia setuju?”


Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut si wanita, tanpa memikirkan perasaanku yang masih ada di hadapan mereka dan tentu saja mendengarnya dengan jelas. Sekali lagi aku hanyalah wanita lemah, tak berani mengangkat kepala dan membalas ucapan mereka.


“Aduh, tolong jangan liat Danisa dengan tatapan menuduh. Aku menikahinya tentu dengan keikhlasan Hana, juga kedua orang tua kami masing-masing. Tolong jangan pandang istriku dengan sebelah mata.” Mas Daffa berucap tegas, berusaha membelaku dari tatapan sinis mereka.


“Maaf ya Daffa, aku gak nyangka aja. Hana teman baikku dan aku tahu betul kalau dia gak suka diduakan, jadi aku agak sangsi kalau kamu bilang bahkan ini adalah keinginan Hana. Kamu gak maksain dia agar menerima  pernikahan keduamu ini, kan?”


Mas Daffa mengusap wajahnya gusar. Aku tahu ia tertekan, tapi lidahku ikut kelu dan tak bisa mengatakan apapun untuk membelanya. Aku hanya bisa menunduk dan menahan air mataku agar tidak tumpah ruah.


Ya Allah, aku ingin belajar kuat dan menahannya, tapi aku belum bisa. Aku tak terbiasa dengan situasi ini.


“Permisi, Mas Daffa, aku tunggu di mobil aja.” Suaraku bergetar walau aku sudah berusaha sekuat mungkin menahannya.


Aku tak terpikir lagi untuk berpamitan dengan layak pada kedua teman Mas Daffa, yang kupikir hanyalah aku ingin lari sejauh mungkin. Aku tak bisa menahan telingaku untuk terus mendengar cemoohan mereka. Aku ingin menangis sekeras mungkin.


Aku berlari secepat mungkin, tak mau lagi memedulikan tatapan sinis yang menyakitkan dari mereka.


Ya, aku bodoh. Aku menerima pernikahan ini begitu saja hanya karena pertimbangan tentang keluargaku. Aku tak pernah memikirkan dampak lain yang ternyata berpengaruh besar akan kewarasan jiwaku.


Pandangan dan tatapan menghujat oleh orang lain.


Baru saja aku merasakan bahagia karena bisa diperlakukan dengan baik oleh Mas Daffa dan Mbak Hana, namun kini aku seakan ditampar oleh kenyataan masyarakat sosial.


Bahwa madu, tak selamanya manis.


Bahwa menjadi istri kedua, akan lebih banyak menerima hujatan dan pandangan miring daripada kebahagiaan.


Entah, semoga aku akan kuat menjalaninya.

__ADS_1


__ADS_2