Sajak Sang Istri Muda

Sajak Sang Istri Muda
14. Kencan Pertama


__ADS_3

Ambarawa.


Sebuah kecamatan di Kabupaten Semarang yang terkenal akan peristiwa Palagan Ambarawa. Sebuah tempat yang memuat banyak sejarah masa lampau, masa di mana saat negeri Indonesia ini sempat dijajah.


Banyak benteng bersejarah dan museum yang menyimpan bukti kelamnya masa penjajahan di sini. Namun kini, tempat ini sudah menjelma menjadi kota yang indah. Dengan pemandangan hijaunya gunung dan bukit yang akan memanjakan mata di sepanjang jalan, udara yang sejuk, juga dengan banyaknya tempat wisata alam dan sejarah.


Aku menelisik setiap sudut museum kereta api yang menyimpan memorial dan koleksi kereta api dari zaman ke zaman. Walaupun aku sudah sembilan belas tahun lahir dan besar di Semarang, namun ini pertama kalinya aku berkelana sampai kemari.


Tentu saja tak lupa untuk mengambil setiap potret yang berharga ini. Karena aku sangat jarang bepergian, aku harus memotret sebanyak-banyaknya untuk dijadikan kenangan di masa yang akan datang.


“Mau aku fotoin?” tawar Mas Daffa yang mungkin tak tahan karena aku sedari tadi sibuk dengan kamera digitalku.


Ya, aku selalu membawa kameraku ke manapun. Karena selain hobi curhat pada buku, aku juga sangat suka memotret apa saja yang menurutku menarik.


“Aku gak suka difoto, aku lebih seneng motoin,” jawabku sembari melihat-lihat hasil jepretanku.


“Mas, lihat sini!” pintaku menarik lengan Mas Daffa tanpa sadar. Begitu kulihat ia tertawa kecil, aku segera menekan tombol klik dan potret dirinya kini sudah tersimpan manis di memoriku.


Aku tersenyum, tak menggubris gerutuannya yang dipotret secara tiba-tiba. Ia bahkan merengek ingin melihat hasil fotonya, namun segera kutolak. Aku mengerut kecil ketika menyadari bahwa fotonya sedikit blur karena Mas Daffa terlalu banyak bergerak.


Tapi tak apa, yang terpenting aku sudah punya fotonya.


“Abis ini mau ke mana lagi?” tanya Mas Daffa.


“Pulang,” jawabku membuat ia langsung mengernyit heran.


“Kamu emang udah puas cuma aku ajak masuk museum?”


Aku mengangguk sambil terkekeh, lucu sekali melihat ekspresi kagetnya yang sangat natural. “Iya, aku udah seneng kok diajak jalan-jalan. Lagian udah malem emang mau ke mana lagi?”


Mas Daffa berdecak kecil, seperti berpikir keras. Aku hanya memperhatikannya sembari memeriksa hasil fotoku sesekali. Hingga tak lama, Mas Daffa menjentikkan jari dan memasang wajah girang.

__ADS_1


“Ayo ke Eling Bening! Mungkin kalau malam pemandangan gunung dan langit birunya gak kelihatan, tapi kita bisa lihat bintang sambil makan malam romantis di sana,” ucapnya penuh semangat.


Aku terkekeh geli. Kini aku bisa melihat sisi lain dari Mas Daffa yang baru muncul. Ternyata di balik sikap dewasa dan tenangnya, ia juga bisa bertingkah seperti anak-anak. Penuh semangat dan keceriaan.


Aku tak punya pilihan lain selain pasrah ketika tanganku ditarik menuju mobil. Jangan salah paham, ini bukan seperti aku ditarik paksa, hanya sekedar kiasan ketika Mas Daffa menggandeng tanganku dengan lembut. Sudah kubilang, ia pria baik yang sangat menghormati wanita.


Tangan besar Mas Daffa terasa hangat, besar dan kuat. Aku merasa sangat terlindungi saat berada dalam genggamannya. Rasanya sangat nyaman dan tak ingin kulepaskan.


Tersenyum, tatapanku berpindah perlahan menuju sosoknya yang berjalan cepat dan penuh semangat. Juga wajah tampannya yang tak lelah memamerkan senyum indah. Adegan ini mengingatkanku pada novel romantis yang sering kubaca saat SMP dulu.


Dulu aku sangat penasaran bagaimana rasanya berjalan berdampingan dengan tangan digenggam oleh pria yang kusuka. Namun baru kali ini aku berkesempatan merasakannya, ketika sudah dalam ikatan halal pernikahan.


Walaupun di awal aku menolak pernikahan ini, namun kini aku bersyukur karena pria pertama yang menggenggam tanganku adalah Mas Daffa. Mungkin pernikahan ini tak akan selamanya berjalan indah, namun untuk saat ini aku hanya ingin bersyukur dan menikmatinya.


“Makan cemilan dulu buat ganjal lapar.”


Sesampainya di mobil, Mas Daffa menyodorkan satu kantung plastik beraneka ragam makanan ringan yang ia simpan di jok belakang. Aku menipiskan bibir, melihat banyaknya makanan yang ia siapkan.


“Kamu makan dulu aja, aku mau fokus nyetir dulu.” Ia tersenyum dan menepuk puncak kepalaku pelan.


Ya Allah, aku tahu Engkau memang Maha Membalikkan hati manusia. Namun ada setitik keraguan di hatiku melihat perubahan besar Mas Daffa hanya dalam waktu beberapa hari. Aku bertanya-tanya, apa memang ia sedang berusaha mencintaiku atau hanya memperlakukanku dengan baik karena rasa bersalah.


Ah, aku dan pikiran burukku lagi.


Aku menggeleng kuat, berusaha mengenyahkan bayang-bayang buruk yang menghantuiku. Padahal baru beberapa menit yang lalu aku masih berbunga-bunga, namun dalam sekejap saja langsung berubah kala pikiran buruk mulai mengambil alih.


“Mas Daffa,” panggilku lirih. Berhenti mengunyah keripik singkong yang sangat kusukai.


“Hm?”


“Apa kamu bahagia hari ini?”

__ADS_1


Senyum kecil yang sedari tadi menghiasi wajahnya, langsung mengendur, tergantikan tatapan bingung. Pancaran matanya yang bersinar juga ikut meredup, membuat pikiran burukku semakin berkuasa atas hatiku.


“Kenapa kamu nanya begitu?”


Mas Daffa tak langsung menjawab. Perlu beberapa menit baginya untuk mengeluarkan suara atas pertanyaan simpel namun dengan jawaban yang amat rumit.


“Mas, tolong jangan terlalu memaksakan diri buat aku bahagia. Kalau kamu sendiri gak bahagia atas apa yang kamu lakuin buat aku, apa artinya semua itu?”


Genggaman tangan Mas Daffa yang berada di kemudi setir terlihat mengeras, membuatku bertanya-tanya. Mas, sebenarnya apa yang kamu pikirkan?


Mas Daffa menarik napasnya panjang, tersenyum tipis setelahnya. “Danisa, mungkin kamu berpikir begitu karena pernikahan kita bukanlah pernikahan normal seperti yang lain. Tapi tolong percayalah, bahwa apapun yang aku lakuin sekarang buat kamu, itu tulus dari dalam lubuk hatiku.”


Mas, aku hanya bertanya apa kamu bahagia. Mengapa mengalihkan ke hal yang lain?


“Aku berusaha. Entah itu membuatku bahagia atau tidak, selama itu membuatmu senang, aku akan ikut senang. Setidaknya kita memang harus saling mencoba mendekatkan diri, makanya aku ajak kamu kencan hari ini.”


Kencan ya?


Huh, aku memang tak berpikir sampai ke sana.


Jadi ini memang kencan pertama kami. Perjalanan menuju langkah akhir dengan final saling mencintai, masih sangatlah jauh dan belum tampak tanda-tandanya.


“Danisa, aku ingin mulai sekarang kita gak usah terlalu memikirkan perasaan satu sama lain. Mari kita jalani hari dengan biasa dan terus mencoba mengetuk pintu hati satu sama lain. Aku yakin nantinya rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya.”


Kepalaku tertunduk, bibirku mengulas senyum. Namun siapa yang tahu bahwa hatiku sedang terluka?


Bukan. Aku bukannya tak bersyukur atas segalanya, namun aku memang yang terlalu sensitif. Selalu menempatkan perasaan di atas segalanya. Walaupun aku tahu bahwa semua ucapan Mas Daffa tak ada yang salah.


Benar. Dalam kasus seperti ini, memang sudah seharusnya kita saling mencoba. Tak akan berhasil jika hanya salah satu yang berusaha dan satunya hanya berpangku tangan.


Aku meneguhkan hati. Mencoba menghapus goresan kecil yang tertinggal di hatiku. Kulemparkan senyum paling manisku pada suamiku.

__ADS_1


“Oke suamiku. Mari saling jatuh cinta! Ayo kita kencan sesering mungkin.”


__ADS_2