Salah Ranjang

Salah Ranjang
Bab 10 Sangat Memikat


__ADS_3

Catherine bersembunyi di kamar mandi dengan sedikit malu, memang mandinya sangat lama.


Tetapi dia juga tidak mau.


Siapa yang menyuruh Henry untuk selalu berdiri di depan pintu?


Catherine ingin menangis. Selama dia memikirkan hal yang harus dihadapinya begitu keluar, membuatnya tidak ingin keluar dari kamar mandi.


Tetapi, dia berpikir bagaimanapun dia telah menikah. Dia tidak bisa tidak bertanggung jawab setelah memanfaatkan Henry untuk menikahinya.


Ah sudahlah, cepat atau lambat dia pasti akan menghadapinya, dia juga tidak bisa bersembunyi terus di kamar mandi.


Catherine menggertakkan giginya. Kali ini, sebelum Henry mendesaknya lagi untuk yang ketiga kalinya, dia akhirnya keluar dari kamar mandi.


Henry bersandar di pintu kamar mandi, dan mengernyitkan alisnya ketika melihat sosok Catherine yang berjalan keluar dari kamar mandi dengan sangat pelan.


Apakah dia begitu menakutkan?


Dari sudut mata Catherine, dia dapat melihat Henry sedang menatapnya. Dia sangat malu untuk menatap Henry, dan berkata dengan gagap, "Itu, bukankah kamu bilang mau tidur? Kenapa kamu masih berdiri di sini?"


Catherine merasa seolah sedang mendekati kematian.


Terlihat senyuman misterius di wajah Henry, lalu menjulurkan tangannya, meletakkan tangannya di atas bahu Catherine. Tubuh Catherine menegang dan Henry mendekatkan bibirnya ke telinga Catherine.


"Memang harus tidur."

__ADS_1


Seluruh kalimatnya terdengar biasa saja, tetapi Henry sangat menekankan kata "tidur" itu,


Catherine terdiam. "..."


"Kamu sangat takut padaku?" Henry berjalan ke depan tempat tidur sambil memeluk Catherine.


Catherine menggerakkan bahunya dengan tidak nyaman, "Bukan, aku hanya…aku belum siap."


Suaranya begitu pelan. Jika suasananya tidak hening saat ini, mungkin Henry juga tidak bisa mendengarnya.


Henry mengernyitkan alisnya. "Ketika kamu ingin menikah, apakah kamu tidak memikirkannya?"


"Bukan begitu juga…" Catherine tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini. Jika mengatakan dia malu, memang dia sedikit malu. Jika mengatakan dia tidak mau sepertinya memang iya, tetapi perasaannya lebih cenderung ke rasa takut.


Tetapi dia tidak bisa memberitahu Henry bahwa dirinya takut kesakitan.


Catherine membulatkan tekadnya, dia memiringkan kepalanya dan menatap Henry sambil mengerjapkan matanya yang besar dan berair itu. "Itu…apa kamu bisa melakukannya dengan lembut?"


Catherine menggigit bibir merah mudanya yang lembut dengan ringan, memandang Henry dengan matanya yang jernih. Penampilannya yang menyedihkan membuat orang kasihan padanya.


Awalnya Henry tidak berpikir untuk melakukannya, tetapi sekarang setelah melihat penampilan Catherine yang lemah lembut ini, Henry merasa bagian di bawah perutnya menegang, dan dia tidak bisa mengontrol dirinya untuk pertama kalinya.


Terutama bibir kecil Catherine itu…


Henry menjulurkan tangannya, memegang wajah kecil Catherine yang sebesar tangannya, perlahan semakin mendekatinya. Dia semakin merasa bibir kecil Catherine itu sangat memikat, lalu mengusap bibir Catherine dengan lembut, dan pandangannya semakin mendalam.

__ADS_1


Tetapi Henry masih berusaha menahan hasratnya, lalu dia mencium bibir Catherine dengan lembut. "Tidurlah, aku akan menunggumu hingga kamu siap."


Besok paginya, Catherine terbangun oleh bunyi bel telepon masuk.


"Catherine, kamu jangan sampai datang terlambat untuk janji wawancara hari ini."


Terdengar suara Kalista Sutedja, rekannya dari telepon. Catherine baru teringat bahwa dirinya nanti akan melakukan wawancara.


Catherine turun dari tempat tidur, mengingat Henry yang sangat pengertian padanya kemarin malam. "Malam ini aku tidur di sofa."


Jadi, kemarin malam Henry tidur di sofa.


Catherine bukannya tidak tahu dengan tubuh tinggi Henry, sofa bukanlah tempat yang nyaman untuk ditiduri Henry, tetapi pada akhirnya Catherine membolehkannya tidur di sana.


Selesai Catherine membersihkan dirinya, dia berjalan mengendap-endap keluar dari kamar tidur. Di atas sofa kecil di ruang tamu, tubuh Henry terlihat sangat janggal.


Catherine merasa tidak tega, ingin membangunkan Henry dan menyuruhnya untuk tidur di tempat tidur, tetapi dia juga tidak tega membangunkan Henry.


Catherine menatap pria yang tertidur lelap itu. Selain tidak mempunyai pekerjaan dan perekonomiannya juga tidak stabil, sepertinya Henry benar-benar seorang pria yang baik. Walaupun Henry tidak mempunyai pekerjaan dan harus bergantung pada Catherine, tetapi Catherine tidak mempermasalahkannya.


Tetapi sebagai seorang pria, mungkin Henry tidak bisa menerimanya.


Ketika Catherine memandang Henry dengan bengong, Henry terbangun, dan kedua mata mereka bertemu.


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!

__ADS_1


__ADS_2