Salah Ranjang

Salah Ranjang
Bab 25 Jangan Khawatir, Aku Sudah Ahli


__ADS_3

Ternyata Henry sudah menunggunya di luar stasiun televisi.


Selesai berberes, Catherine bergegas keluar. Tepat saat dia sampai di depan pintu, sahabatnya, Rita Wijaya, meneleponnya.


"Catherine, aku sudah kembali, aku sangat merindukanmu, ayo kita makan bersama."


Catherine teringat Henry yang masih sedang menunggunya di luar, dia berkata, "Rita, aku minta maaf, malam ini aku ada urusan, bagaimana kalau kita makan bersama besok?"


"Baiklah, aku akan mentraktirmu besok."


"Oke."


Catherine menutup telepon dan berjalan keluar pintu.


Tapi dia tidak melihat Henry. Saat dia sedang kebingungan mencari-cari, terdengar suara klakson sebuah mobil.


Catherine menoleh, dilihatnya sebuah mobil Bentley hitam yang dari tadi membunyikan klakson memanggilnya.


Dia bingung sesaat, lalu berjalan mendekat.


Tiba-tiba jendela mobil terbuka, Henry melongokkan kepalanya ke luar.

__ADS_1


Catherine terkejut. "Henry? Ini kamu? Mobil ini..."


Henry sudah menyiapkan jawabannya sejak awal. "Ini mobil Roni, masuklah."


Catherine terkejut, baru kemudian mengitari mobil, masuk dan duduk di kursi penumpang.


Dia mengencangkan sabuk pengamannya, sambil matanya menyapu seisi mobil.


"Henry, mobil ini mahal sekali. Lain kali jangan kamu pinjam lagi. Kalau mobil ini lecet atau menabrak sesuatu, kita tidak akan sanggup memberikan ganti ruginya."


Henry berkata, "Jangan khawatir, aku sudah ahli."


Tidak tahu kenapa, perkataan Henry ini malah membuat Catherine tidak habis pikir.


Bagaimanapun, mereka sudah tinggal di sini selama beberapa tahun, tentu saja ini membuat Catherine agak sedih. Lagi pula, masih ada beberapa bulan uang sewa yang sudah sempat dibayarkan.


Tapi demi Henry, dia terpaksa pindah.


Saat memasuki tempat tinggalnya yang baru, Catherine merasa kualitas hidupnya harus diperbaiki. Sama seperti rumah baru mereka ini, tidak hanya luas, tapi perabotan dan dekorasi semuanya terlihat sangat berkelas.


Lemari pakaian di kamarnya bahkan jauh lebih besar dari lemari pakaian di rumah sebelumnya.

__ADS_1


Catherine menghela napas, lalu mulai membongkar barang bawaannya.


Baru selesai membereskan setengahnya, Henry masuk. Dia melirik pakaian yang menggunung di tempat tidur, lalu menatap Catherine sambil mengerutkan kening. "Perlu kubantu?"


Catherine yang sedang sibuk membereskan barangnya, ketika dia mendengar pertanyaan Henry, dia menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku bisa membereskannya."


Tepat saat dia selesai mengatakan demikian, tumpukan pakaian di atas tempat tidur itu tiba-tiba runtuh, semuanya berserakan di lantai.


Terlebih ****** ***** yang sengaja dia letakkan di bagian bawah, semuanya juga berserakan. Ada juga bra renda hitam yang terlempar tepat ke sebelah kaki Henry.


Catherine merasa malu, tanpa pikir panjang dia bergegas memungutnya. Tapi sayangnya dia tidak memperhatikan pakaian di bawah kakinya, dia pun tersandung, tubuhnya melayang jatuh. Tiba-tiba, sepasang tangan yang kuat dengan sigap menangkapnya, dan dia jatuh ke dalam pelukan yang hangat.


Catherine terkejut, perlahan mengangkat kepalanya, dan matanya beradu pandang dengan mata Henry. Seolah-olah ada semacam kekuatan magis, dia tidak bisa melepaskan diri, juga membuatnya lupa sesaat untuk menjauh.


"Kamu tidak apa-apa?" Baru setelah suara rendah Henry terdengar dari arah atas kepalanya, dia mendapatkan kesadarannya kembali dan dengan cepat bangkit dari lengannya, tetapi pipinya sudah memerah sampai ke telinganya.


"Terima kasih."


Catherine tersipu.


Henry tidak berbicara, hanya memandangi pipi merah Catherine. Tanpa sadar dia tersenyum, kemudian perlahan membungkuk memungut bra renda hitam di sebelah kakinya yang tadi ingin diambil Catherine.

__ADS_1


Dia memegang dan menatapnya, matanya seolah memancarkan sinar ketertarikan.


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!


__ADS_2