
Catherine pulang ke rumah dengan suasana hati yang sangat baik. Dia merasa kekesalan yang terpendam di hatinya menghilang ketika dia mengingat penampilan Lilik yang terbakar api amarah. Beberapa tahun ini Lilik selalu memarahinya, tetapi kali ini akhirnya dia dapat mengeluarkan amarahnya kepada Lilik, dan keputusannya yang berani untuk menikah dadakan ini memang tepat.
Tetapi walaupun dia dapat mengeluarkan kekesalannya, dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk perusahaan ayahnya. Meskipun dia menyalahkan Josep yang lebih memihak adik dan ibu tirinya, tetapi bagaimanapun Josep adalah ayahnya sendiri, dan satu-satunya keluarganya di dunia ini.
Tidak peduli sekejam apa pun dirinya, dia juga masih tidak tega.
Tetapi, bukankah masih ada Serina?
Serina yang seharusnya menikah, dan Serina juga sama-sama putri Keluarga Saputra, dia tidak bisa hanya menikmati kejayaan dan kekayaan keluarga saja, tetapi tidak mau berbagi tanggung jawab untuk keluarga.
Memikirkan hal ini, Catherine merasa sedikit senang.
Dia membuka pintu, dan ketika memasuki rumahnya, dia terkejut dan terpaku di sana.
Ya ampun!
Ini…apakah ini masih rumahnya?
Apakah dia salah masuk ke rumah orang lain? Catherine bergegas mundur dan melihat nomor pintu. Tidak salah, kok. Ini memang rumahnya.
Tetapi…
Rumahnya berubah menjadi sangat indah.
Lantainya tertutup oleh karpet abu-abu. Sofa di ruang tamunya berubah menjadi sofa gaya Nordic, bahkan tembok rumahnya pun berubah menjadi sangat indah.
Pendek kata, seluruh rumahnya berubah total.
Dia baru saja pergi seharian, bagaimana mungkin ada perubahan yang sangat besar di sini?
Catherine menatap semua yang ada di depan matanya, seolah dia sedang bermimpi.
__ADS_1
Henry berjalan keluar dari kamar tidur, dan matanya bertemu dengan mata Catherine yang terkejut.
Henry berkata, "Ah, kamu sudah pulang."
Ketika Catherine melihat Henry, dia tertegun sejenak, masih belum terbiasa dengan kenyataan bahwa dirinya yang sudah menikah.
"Ini…apakah kamu yang melakukan ini?"
Catherine dipenuhi dengan keraguan.
Wajah Henry terlihat cuek. "Pemilik rumah tahu kita sudah menikah, jadi dia sengaja menyuruh orang mendekorasi rumah kita."
"Pemilik rumah?"
Catherine terkejut, bagaimana mungkin?
Pemilik rumah adalah seorang wanita berumur yang pelit, yang bahkan perhitungan dengan beberapa ribu uang. Bagaimana mungkin dia bisa menghabiskan uangnya seperti ini?
Pada saat ini, ponselnya berdering. Catherine melihat sekilas ke ponselnya, yang meneleponnya adalah pemilik rumah.
Catherine melirik ke Henry, lalu berbalik untuk mengangkat telepon.
"Halo, Catherine, bagaimana dekorasi rumahnya? Apakah kamu puas?"
Tak tahu apakah ada masalah dengan pendengaran Catherine, dia merasa nada bicara pemilik rumah sangatlah lembut hari ini.
Catherine tercengang sejenak,
"Jadi maksudmu yang mendekorasi rumah adalah bibi?"
"Tentu saja. Bagaimanapun kamu sudah tinggal di tempatku untuk beberapa lama, anggaplah ini hadiah pernikahan dariku. Ditambah lagi, cepat atau lambat pun rumah ini memang harus direnovasi."
__ADS_1
Mendengar bibi pemilik rumah berkata seperti itu, Catherine masih merasa tidak bisa percaya.
"Oh iya, kamu harus menjaga rumah itu dengan baik ya, jangan sampai ada yang rusak. Jika tidak, aku akan mencarimu untuk membayar ganti rugi." Bibi pemilik rumah mematikan telepon, lalu melihat Roni sembari tersenyum dan berkata, "Pak, aku sudah mengatakannya sesuai dengan perintahmu. Sekarang uang ini milikku, kan?"
Roni memberikan selembar cek padanya, dan memperingatkannya dengan dingin. "Jaga mulutmu."
"Pasti, pasti."
Bibi pemilik rumah memegang cek itu dan menciumnya. Roni tak bisa berkata-kata melihatnya. Itu adalah hasil jerih payahnya di sore hari, tetapi hasil jerih payahnya direbut oleh wanita gemuk ini. Roni juga tidak tahu apa yang ada di benak Pak Henry, yang pasti Pak Henry berpura-pura menjadi orang miskin meskipun dia sangat kaya.
Roni menggerutu di dalam hatinya, lalu menelepon Henry. "Pak Henry, saya sudah melakukannya sesuai dengan perintah Anda."
Setelah mendengarkan laporan dari Roni, dia mematikan teleponnya, kemudian Catherine berjalan menghampirinya.
Catherine mengerjapkan matanya yang besar, dan berkata dengan nada bicara yang masih tidak mengerti semua ini, "Ternyata memang benar bibi pemilik rumah."
Henry menatap Catherine, dan terlihat senyuman di matanya.
Catherine memutari ruangan, suasana hatinya menjadi lebih baik, walaupun hari ini bibi pemilik rumah sedikit aneh.
Tetapi, seperti ini juga sangat bagus.
Apartemennya adalah tipe studio, walaupun tempat tinggalnya sedikit kecil, tetapi setelah didekorasi dan dirapikan, apartemennya terlihat sangat nyaman dan hangat.
Tidak disangka dia akan mendapatkan kejutan seperti ini selain mengalami hal yang tidak mengenakkan hari ini. Tampaknya hari ini memang hari yang bagus untuk menikah.
Catherine terlalu bahagia sehingga begitu berbalik, dia menabrak sesuatu yang keras.
"Uh…"
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!
__ADS_1