
"…" Catherine sedikit marah. Ternyata tidak ada seorang pria pun yang tidak haus akan uang. Sebelumnya dia berpikir dirinya beruntung dapat menikah dadakan dengan seorang pria yang baik, tetapi tak disangka…
"Tetapi, ada sesuatu yang membuatku tertarik dibandingkan uang."
Ketika Catherine merasa sangat kecewa, Henry tiba-tiba berbicara.
"Apa?"
Catherine buru-buru bertanya.
"Kamu akan tahu setelah kamu pulang nanti malam." Suara Henry yang dalam dan seksi masuk ke telinga Catherine melalui telepon.
Aneh, kata-kata Henry ini terdengar biasa saja, tetapi bulu kuduk Catherine berdiri tanpa alasan.
Tetapi, apa sih yang membuat Henry lebih tertarik dibandingkan uang?
Catherine merasa cemas seharian. Ketika sudah waktunya pulang kerja, setelah merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang, ponselnya berdering. Henry yang meneleponnya.
Catherine juga kebetulan ingin menelepon Henry sehingga dia langsung mengangkatnya.
"Aku di pintu gerbang."
Di pintu gerbang?
Saat Catherine berjalan keluar, dia melihat sosok tampan Henry.
Memikirkan perkataan Henry di telepon sebelumnya, perasaan di hati Catherine sudah berubah ketika dia bertemu dengan Henry lagi. Dia tidak akan tertipu oleh penampilan Henry.
__ADS_1
Dia harus menanyakan dengan jelas apa yang dipikirkan oleh Henry. Jika tidak, Henry seperti bom waktu di sampingnya.
Setelah Catherine berpikir beberapa saat, dia berjalan menghampiri Henry. "Apakah kamu sudah menunggu lama di sini?"
"Tidak lama kok, aku baru saja tiba," kata Henry.
"Kalau begitu kita makan dulu." Catherine berbicara sambil membuka pintu mobil, dari awal hingga akhir sikapnya terlihat acuh tak acuh.
Henry mengernyitkan alisnya. Catherine masih menganggap serius perkataannya!
Setelah memakai sabuk pengaman, Henry melihat Catherine yang akan menyalakan mobil. "Biarkan aku yang menentukan kita makan di mana."
Catherine tertegun sejenak, kemudian mengangguk setuju.
Setelah 20 menit, mobil berhenti di depan gedung tinggi di bawah arahan Henry.
Catherine sambil berbicara dan akan memutar mobilnya.
Henry menghentikannya. "Tenang saja, aku tidak akan menjualmu hanya karena makanan."
Henry mengedipkan matanya yang sangat menawan itu, tetapi entah kenapa ketika Catherine melihat kedua mata Henry itu, dia mempercayai Henry begitu saja.
Ah sudahlah, seburuk-buruknya mungkin aku harus menggunakan kartu kreditku.
Catherine mengikuti Henry. Seorang staf pelayan datang untuk mengarahkan mereka, dengan cepat mereka masuk ke dalam ruang VIP yang sangat mewah.
Catherine duduk, tetapi merasa merinding.
__ADS_1
Dia merasa lebih merinding ketika melihat harga makanannya nanti.
"Henry, lebih baik kita pergi deh. Ini tempat yang tidak bisa kita datangi."
Ketika pelayan tidak memerhatikan mereka, Catherine buru-buru mendekat ke Henry dan berbicara di depannya.
Dia takut ditertawakan oleh orang lain, jadi dia sengaja memelankan suaranya.
Henry juga memelankan suaranya.
"Tenang saja. Hari ini ada undian di sini."
Catherine menatapnya dengan mimik muka tak percaya. "Kamu masih percaya akan hal ini? Kita harus bagaimana kalau kita tidak menang?"
"Keberuntunganku cukup bagus. Kamu tenang saja." Henry mengedipkan matanya kepada Catherine.
Pelayan yang berdiri di samping dan mendengarkan kedua orang itu saling berbisik, berusaha menahan tawanya. Pasangan ini sangat menarik.
Jelas-jelas pria itu barusan memberikan Kartu emas VIP kepada manajer mereka. Kartu itu merupakan kartu tertinggi di industri restoran di Kota Rembulan.
"…"
Catherine tidak dapat membujuk Henry, jadi dia hanya bisa menurutinya, tetapi dia masih cemas dan mengirimkan pesan whatsapp ke Rita Wijaya, teman baiknya. Catherine ingin memintanya untuk bersiap-siap datang ke sini untuk menyelamatkan mereka.
"Oh iya, kamu sebelumnya bilang ada sesuatu yang membuatmu tertarik dibandingkan uang. Memangnya apa itu?"
Setelah memesan makanan, pelayan pun pergi. Kemudian Catherine bertanya kepada Henry, bagi Catherine hal ini sangat penting.
__ADS_1
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!