Salah Ranjang

Salah Ranjang
Bab 11 Apakah Tidak Ada Orang Yang Mengajarimu Jika Kamu Mau Masuk Ke Rumah Orang, Kamu Harus Mendap


__ADS_3

Mata Henry masih belum sepenuhnya terbuka. Ketika matanya bertemu dengan mata Catherine, matanya menjadi sedikit kelam, dan dia pun bangun. "Jam berapa?"


Henry mengernyitkan alisnya, tampaknya tidurnya kemarin malam tidak terlalu nyenyak.


Catherine buru-buru mengalihkan pandangannya. "Sekarang…masih pagi. Aku ada wawancara nanti, kamu tidur di tempat tidur saja."


Pandangan Henry berhenti 2 detik di wajah Catherine. "Tidak usah, aku akan mengantarmu ke tempat kerja."


Henry berbicara sambil beranjak dari sofa.


Catherine buru-buru berkata, "Tidak perlu, aku sudah ada janji dengan temanku. Dia akan menjemputku."


Henry mengangguk pelan.


Catherine sejenak ragu ketika memikirkan Henry yang tidak mempunyai pekerjaan sekarang. Kemudian dia berusaha menghibur Henry dan berkata, "Aku tidak melihat bajumu di lemari baju. Bagaimana jika hari ini kamu memindahkan barang-barangmu ke sini? Walaupun di sini sedikit kecil, tetapi untung saja semuanya ada. Kita baru saja menikah, perlahan-lahan kondisi kita akan membaik nantinya. Bagaimana menurutmu?"


Henry menengadah, menatap Catherine, lalu mengangguk. "Baiklah."


Catherine merasa lega setelah melihat Henry tidak menunjukkan keterpaksaan, lalu berkata,


"Seharusnya aku hari ini pergi mengunjungi orang tua dan keluargamu bersama denganmu, tetapi aku nanti ada wawancara, dan tidak ada waktu kosong. Bagaimana jika aku pergi bersamamu setelah aku menyelesaikan pekerjaanku dalam dua hari ini?"


"Tidak usah terburu-buru," kata Henry dengan tenang.

__ADS_1


Catherine merasa begitu senang Henry dapat mengerti dirinya. "Kalau begitu kamu bisa pulang dan menjelaskannya pada mereka untukku."


Selesai mengucapkan beberapa patah kata, Catherine pun pergi.


Henry meregangkan badannya yang sedikit kaku. Kemarin malam dia tidur di sofa, dan itu sangat tidak nyaman. Tiba-tiba ponselnya berdering, Roni yang meneleponnya.


"Pak Henry, apakah hari ini Anda masih akan pergi ke perusahaan?"


Roni sedikit tidak yakin. Lagi pula kemarin malam adalah malam pertama Henry.


Henry mengernyitkan alisnya. "Jemputlah aku."


Baru saja mematikan telepon, bel pintu berbunyi. Henry mengira Roni sudah datang sehingga dia membuka pintu.


Wajah tampan Henry terlihat dingin.


Lilik dan Serina saling memandang dengan terkejut ketika melihat pria di depannya. Kemarin setelah mereka mendengar Catherine telah menikah, mereka menemukan suatu cara.


Jadi, pagi-pagi sekali mereka berencana menyergapnya di daerah sekitar situ. Mereka baru keluar setelah melihat Catherine pergi dengan mata kepala mereka sendiri.


Tetapi tak disangka pria yang menikah dengan Catherine begitu tampan, membuat mereka berdua hampir terpesona oleh ketampanannya.


Lilik yang pertama tersadar, dan berkata, "Kamu suaminya Catherine?"

__ADS_1


Henry menatap kedua wanita di depannya, dan tidak mengatakan apa pun.


Lilik merasa sedikit canggung, lalu dia memasuki rumah dengan memiringkan badannya. Dia memutari ruangan, hatinya diam-diam merasa terkejut. Ketika terakhir kali dia datang ke sini, dia ingat tempat ini masih terlihat lusuh dan bobrok. Tak disangka sekarang sudah didekorasi begitu indah, tampaknya rumah ini sengaja didekorasi secara khusus untuk pernikahan mereka.


Tetapi tidak peduli seberapa bagus dekorasi rumah ini, rumahnya ini hanyalah rumah kontrakan.


"Tidak kusangka Catherine rela menghabiskan uangnya untuk pernikahannya ini."


Lilik mendengus, dan diam-diam menilai Henry yang berdiri di samping.


Karena mereka bahkan tidak mempunyai tempat yang layak ditinggali setelah menikah, tampaknya pria ini orang yang miskin, sayang sekali padahal dia tampan dan berkarisma.


Henry tidak tahu siapa kedua wanita di depannya, tetapi dia tidak senang dengan tatapan dan nada bicara kedua wanita itu yang sangat menjijikkan.


Dia berkata dengan dingin, "Bu, apakah tidak ada orang yang mengajarimu jika kamu mau masuk ke rumah orang, kamu harus mendapatkan izin dari pemilik rumah terlebih dahulu?"


Nada bicara Henry sangatlah suram, membuat Lilik entah kenapa merasa bersalah.


Tetapi, ketika Lilik memikirkan bahwa pria ini hanyalah orang miskin dan tidak mempunyai latar belakang yang mumpuni, dia mencibir dan berkata,


"Lucu sekali. Apakah aku perlu izinmu untuk memasuki rumah putriku?"


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!

__ADS_1


__ADS_2